Enam belas tahun. Segitu lama Viktor Orbán duduk di kursi perdana menteri Hungaria, membangun mesin kekuasaan yang terasa mustahil digulingkan. Minggu malam (12/4/2026), mesin itu berhenti.
Kurang dari tiga jam setelah tempat pemungutan suara ditutup, Orbán mengakui kekalahannya di hadapan para pendukungnya di Budapest. Ia menyebut hasil ini menyakitkan, tapi tak terbantahkan. "Saya mengucapkan selamat kepada partai yang menang. Kami akan melayani bangsa Hungaria dan tanah air kami dari posisi oposisi juga," ucapnya, lalu editor hapus em dash ini, dengan nada yang, untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, terdengar seperti orang yang kalah.
Berdasarkan data penghitungan suara yang sudah mencapai lebih dari 98%, Partai Tisza pimpinan Péter Magyar diproyeksikan mengantongi 138 dari 199 kursi parlemen, mayoritas konstitusional yang cukup untuk mengubah undang-undang dasar sekalipun. Fidesz hanya tersisa 55 kursi. Partai sayap kanan ekstrem Our Homeland Movement (Mi Hazánk) kebagian tujuh kursi.
Bukan angka tipis. Ini kekalahan telak.
Magyar, 45 tahun, mantan orang dalam lingkaran Fidesz yang berbalik arah dan mendirikan Tisza, muncul di hadapan puluhan ribu pendukung di tepi Sungai Danube. "Rekan-rekan Hungaria, kita telah melakukannya!" serunya. Kemenangan ini, katanya, adalah kebenaran yang mengalahkan kebohongan, narasi yang selama bertahun-tahun menguasai ruang publik Hungaria. "Malam ini, kebenaran menang atas kebohongan," tegasnya.
Setelah kemenangan dipastikan, Magyar bergerak cepat. Ia meminta Presiden Hungaria Tamas Sulyok untuk segera menugaskannya membentuk pemerintahan baru, sekaligus menyerukan pengunduran diri kepala Mahkamah Agung, Jaksa Agung, Ketua Mahkamah Konstitusi, dan pimpinan lembaga-lembaga negara lainnya. Sapuan bersih yang ambisius. Agaknya memang itu yang dimandatkan para pemilihnya.
Tingkat partisipasi pemilih mencapai hampir 80%, angka rekor. Sebagian besar didorong oleh mobilisasi anak muda yang muak dengan kondisi Hungaria sebagai salah satu negara paling korup di UE. "Diktator, ideologi sayap kanan, semua itu akan hilang sekarang," ujar Nóri, pemilih berusia 24 tahun, setelah mengetahui hasilnya.
Eropa bereaksi cepat. Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa, menyambut hasil ini dengan kalimat yang menggema: "Jantung Eropa berdetak lebih kuat di Hungaria malam ini. Sebuah negara merebut kembali jalur Eropanya." PM Polandia Donald Tusk bahkan lebih blak-blakan, menuliskan "Orang Rusia, pulanglah!" di media sosialnya, referensi langsung pada kedekatan Orbán dengan Moskow selama bertahun-tahun. PM Inggris Keir Starmer menyebutnya momen bersejarah bagi demokrasi Eropa, sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan kesiapan membangun kerja sama demi keamanan kawasan.
Ketegangan Budapest-Brussels yang memuncak akibat veto Orbán soal bantuan ke Ukraina diprediksi akan segera mereda. Dana UE yang sempat dibekukan karena pelanggaran rule of law berpeluang besar dicairkan kembali. Itu kabar baik yang sudah lama ditunggu Brussels.
Hanya beberapa hari sebelum pencoblosan, JD Vance bertandang ke Budapest untuk menunjukkan dukungan kepada Orbán. Trump sendiri menjanjikan kekuatan ekonomi AS jika Orbán terpilih kembali. Hasilnya sudah jelas. Tokoh Demokrat AS Hakeem Jeffries tidak menyia-nyiakan momentum: "Otoriter sayap kanan Viktor Orbán telah kalah. Musim dingin akan tiba," tulisnya, merujuk pada apa yang ia prediksi sebagai awal runtuhnya jaringan populis global.
Para analis mengingatkan bahwa perubahan tidak akan datang semudah pesta kemenangan semalam. Dalibor Rohac dari American Enterprise Institute menyebut cengkeraman Fidesz di birokrasi, media, sektor bisnis, dan yudisial sudah terlalu dalam untuk dibersihkan dalam waktu singkat. "Jalan ke depan bagi Hungaria sangat rumit, kendali Fidesz terhadap sektor bisnis, media, administrasi publik, dan yudisial menjangkau sangat jauh dan dalam," tegasnya. Tapi ia juga menilai kekalahan ini sebagai bukti kegagalan spektakuler proyek ideologis Orbán setelah 16 tahun diuji coba. Kegagalan politik, ekonomi, dan sosial sekaligus, kata Rohac, bukan cuma satu dimensi.
Pertanyaannya, berapa lama warisan sistem Orbán bisa bertahan melawan gelombang perubahan yang baru saja melanda?
Péter Krekó dari Political Capital menambahkan bahwa kemenangan Tisza terjadi melawan kepungan dari dua arah: bantuan asing dari Amerika Serikat dan dari Rusia, ditambah mesin disinformasi negara yang masif. Analis geopolitik Botond Feledy menutup dengan nada yang memberi sinyal pergeseran struktural: Hungaria, katanya, akan kembali berperan sebagai anggota penuh UE dan NATO yang konstruktif, bukan lagi pengganjal di balik pintu.
Bagi investor yang mencermati stabilitas kawasan Eropa Tengah dan Timur, pergeseran ini bukan sekadar pergantian wajah di atas panggung. Alur dana struktural UE, postur NATO di sayap timur, dan kalkulasi risiko geopolitik di seluruh kawasan: semuanya kini masuk babak perhitungan ulang.