Tiga ribu tahun sebelum kita mulai berdebat soal emisi karbon, sebuah peradaban besar sudah lebih dulu dihajar oleh cuaca yang tak bisa diprediksi.
Itulah benang merah dari studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications. Para arkeolog dan ilmuwan menganalisis ribuan oracle bones, tulang ramalan peninggalan Dinasti Shang di China utara, dan apa yang mereka temukan memperkuat tesis lama yang selama ini belum punya amunisi sekuat ini: bahwa perubahan iklim ekstrem ikut menggerogoti salah satu kerajaan tertua dalam sejarah peradaban manusia.
Oracle bones, artefak dari tempurung kura-kura dan tulang belikat sapi, dulunya dipakai peramal istana untuk membaca masa depan. Tulang dipanaskan hingga retak, retakan ditafsirkan, lalu hasil ramalan diukir di permukaannya, mulai dari prediksi cuaca, hasil panen, hingga rencana perang. Bagi peneliti modern, ukiran itu adalah arsip. Bukan arsip sembarangan, melainkan rekaman langsung tentang bagaimana masyarakat Shang mengalami dan merespons perubahan lingkungan di zamannya.
"Tulisan pada tulang ramalan memberikan catatan langsung mengenai bagaimana masyarakat merasakan dan merespons perubahan lingkungan," tulis tim peneliti dalam studi tersebut, sebagaimana dikutip dari Live Science.
Dari ribuan prasasti itu, para ilmuwan menemukan lonjakan laporan bencana yang cukup mencolok pada dekade-dekade akhir kekuasaan Shang, sekitar abad ke-11 sebelum Masehi. Kekeringan panjang silih berganti dengan hujan deras dan banjir. Panen gagal berulang. Pola monsun Asia Timur, yang menjadi tulang punggung pertanian China utara, agaknya sedang mengalami pergeseran besar. Konfirmasi dari jalur lain, sedimen dan inti gua, menguatkan gambaran ini sebagai perubahan sistemik, bukan anomali sesaat.
"Data menunjukkan meningkatnya frekuensi kejadian iklim ekstrem yang kemungkinan besar memengaruhi produksi pertanian dan stabilitas masyarakat," catat tim peneliti.
Bayangkan sebuah kerajaan yang fondasinya adalah pertanian, tiba-tiba menghadapi musim tanam yang amblas berulang kali tanpa bisa diprediksi kapan akan pulih. Ketegangan sosial menanjak. Legitimasi penguasa dipertanyakan. Sumber daya menipis, perlahan tapi pasti.
Tapi para ilmuwan juga hati-hati: iklim bukan satu-satunya tersangka. Dinasti Shang akhirnya jatuh ke tangan Dinasti Zhou sekitar tahun 1046 SM, dan keruntuhannya adalah akumulasi dari banyak hal, konflik politik yang membusuk dari dalam, tekanan perang dari luar, serta krisis ekonomi yang menggerogoti basis kekuasaan. "Perubahan iklim kemungkinan memperburuk tekanan sosial yang sudah ada, bukan menjadi satu-satunya penyebab keruntuhan dinasti," jelas para peneliti. Framing yang penting, karena determinisme iklim yang berlebihan juga bisa menyesatkan.
Pertanyaannya, kenapa studi ini relevan sekarang? Pendekatannya interdisipliner: arkeologi, epigrafi, paleoklimatologi, dan analisis sejarah disatukan dalam satu kerangka. Hasilnya jauh lebih kaya dibanding kalau hanya mengandalkan satu disiplin ilmu. "Catatan sejarah semacam ini dapat membantu kita memahami hubungan jangka panjang antara perubahan iklim dan ketahanan masyarakat," kata para peneliti.
Peradaban yang tampak kokoh pun bisa goyah ketika sistem cuaca yang selama generasi dianggap stabil tiba-tiba berubah arah. Bukan pesan baru. Tapi buktinya, kini, tiga ribu tahun lebih tua dari yang kita kira.