Gabriel Perez tahu persis kata apa yang akan keluar dari mulut Presiden Donald Trump, bahkan sebelum Trump sendiri mengucapkannya. Keistimewaan itulah yang kini menempatkannya di bawah sorotan regulator federal Amerika Serikat.
Perez, operator teleprompter veteran yang mendampingi Trump sejak kampanye 2016, resmi dinonaktifkan tanpa bayaran setelah diselidiki atas dugaan insider trading di platform pasar prediksi Kalshi. Total keuntungan yang berhasil ia kantongi diperkirakan menyentuh lebih dari US$100.000 atau sekitar Rp1,6 miliar, dari taruhan-taruhan yang ia pasang di apa yang Kalshi sebut "mention markets", eh, maaf, yakni bursa tebakan apakah kata atau frasa tertentu akan muncul dalam pidato publik.
Bukan angka kecil untuk seorang staf teknis, meski gaji Perez sendiri tergolong tinggi di kelasnya. Dokumen Kongres 2026 mencatat ia berpenghasilan US$175.000 per tahun.
Cara kerjanya cukup cerdas, kalau data ini bisa dipercaya. Perez memegang naskah final pidato kenegaraan Trump, termasuk pidato State of the Union pada Februari lalu dan forum tahunan Davos. Dengan naskah itu di tangannya, ia bisa memasang taruhan sebelum pidato dimulai. Satu variabel yang tidak bisa ia kendalikan: kebiasaan Trump itu sendiri. Presiden kerap keluar jalur dari teleprompter, dan Perez diduga merespons dengan membatalkan posisi di tengah sesi ketika kata-kata dalam naskah urung diucapkan. "Kalian tahu, saat naik ke sini, kalian ambil risiko besar, apalagi saya yang keluar dari teleprompter sekitar 80% waktu," ujar Trump dalam pidatonya di Detroit Economic Club, Januari lalu. Pernyataan itu agaknya relevan bukan hanya secara retoris.
Tim pengawasan Kalshi-lah yang pertama mencium pola tidak wajar. Aktivitas akun Perez menunjukkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh keberuntungan semata, dan platform itu kemudian membekukan dananya sebelum melaporkan temuan ke Commodity Futures Trading Commission (CFTC). "Tim pengawasan kami segera menandai dan merujuk transaksi ini ke CFTC, dan kami bekerja sama serta membantu regulator," tegas Bobby DeNault, Kepala Penegakan Hukum Kalshi.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan Trump sendiri yang memutuskan menonaktifkan Perez sebagai bentuk penegakan disiplin internal. Ironi kecil di sini: Trump sempat memuji Perez secara terbuka dalam kampanye di Reno, 2024. "I have a guy, Gabe. He's excellent. I've had some real bad ones, but I have Gabe," puji Trump kala itu, menyebut operator teleprompter yang andal seperti emas. Kini emas itu sedang menjalani negosiasi penyelesaian dengan CFTC, dengan opsi pengembalian seluruh keuntungan taruhan.
Gedung Putih sebenarnya sudah lebih dulu bergerak. Memo internal tertanggal 24 Maret dikeluarkan untuk melarang staf memanfaatkan informasi nonpublik di platform prediksi seperti Kalshi dan Polymarket. Entah kebetulan atau tidak, larangan itu tidak mencegah Perez yang disebut penyelidik masih aktif bertaruh pada lebih dari selusin pidato Trump dalam tiga bulan terakhir. Masif, kalau benar angka itu.
Jaksa federal di Manhattan memilih tidak membuka perkara pidana. Penyelesaian lewat jalur regulasi CFTC tampaknya lebih mungkin, dengan konsekuensi utama berupa pengembalian keuntungan dan larangan bertransaksi serupa.
Kasus ini bukan preseden tunggal di ranah pasar prediksi. Departemen Kehakiman AS sebelumnya mendakwa seorang prajurit Angkatan Darat yang mengubah US$33.000 menjadi sekitar US$410.000 di Polymarket menggunakan informasi rahasia soal Maduro. Seorang insinyur Google juga terseret kasus serupa. Kalshi sendiri mengklaim sistem penyaringan mereka telah memblokir lebih dari 100 potensi insider trading sepanjang kuartal pertama 2026, dengan lebih dari 150 investigasi dan 20 laporan ke penegak hukum. Goldman Sachs pun kompak: karyawan kini dilarang bertaruh di kedua platform.
Pertanyaan yang belum terjawab: seberapa efektif verifikasi tempat kerja bisa menangkal seseorang yang sudah membaca naskah lebih dulu dari siapa pun di pasar?