Hampir US$100.000 bisa berpindah tangan hanya karena seseorang tahu lebih dulu kata apa yang akan keluar dari mulut seorang presiden. Sekitar Rp1,58 miliar, kalau kurs Rp15.800 jadi patokan. Itulah inti dari kasus yang kini membelit Gabriel Perez, pegawai federal yang hampir satu dekade mengoperasikan teleprompter di Gedung Putih.
Perez diduga memanfaatkan aksesnya untuk memasang taruhan di Kalshi, platform pasar prediksi yang memungkinkan pengguna berjudi pada peristiwa nyata. Bukan taruhan biasa. Ia bermain di segmen "mention markets", kontrak yang mempertaruhkan apakah seorang pembicara akan mengucapkan kata atau frasa tertentu dalam pidato publik, mulai dari nama negara, slogan kampanye, hingga istilah ekonomi. Salah satu arena yang ia pilih: pidato kenegaraan State of the Union, momen di mana setiap kata presiden ditimbang cermat oleh pasar.
Pada Maret, analis Kalshi mulai mencium yang tidak beres. Pola taruhan yang masuk terlalu presisi. Terlalu konsisten untuk disebut kebetulan. Setelah menelusuri data akun, mereka menemukan identitas si pengguna: pegawai federal yang pekerjaannya membaca dan mempersiapkan naskah yang sama sebelum presiden membacakannya di depan kamera.
Kalshi bergerak cepat. Dana lebih dari US$90.000 dibekukan sebelum sempat ditarik Perez. Robert DeNault, Kepala Penegakan Hukum Kalshi, menyatakan pihaknya telah menandai seluruh transaksi mencurigakan dan menyerahkan bukti kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC), regulator yang berwenang mengawasi pasar derivatif dan kontrak berjangka di AS.
Dalam pernyataannya, Kalshi menegaskan bahwa "kata-kata pemimpin politik seperti Presiden dan Ketua Fed dapat menyebabkan pergerakan miliaran dolar di pasar valuta asing, kontrak berjangka minyak, dan pasar saham." Pernyataan yang, agaknya, sekaligus menjelaskan mengapa taruhan semacam ini eksis dan mengapa integritas informasinya begitu krusial.
Gedung Putih merespons cepat. Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengonfirmasi Trump sudah dibriefing soal situasi ini. Perez kini menjalani cuti tidak dibayar dan dipastikan tidak akan kembali ke kompleks eksekutif itu. Karier sembilan tahunnya di sana, yang dimulai sejak 2016, praktis sudah tamat.
Satu hal yang membuat kasus ini menggantung: jaksa federal di Manhattan, sebagaimana dilaporkan ABC News, memutuskan untuk tidak membuka perkara pidana. Penyelidikan sepenuhnya berada di tangan CFTC. Setidaknya ada kabar baik bagi penyidik, Perez disebut bersikap sangat kooperatif. CFTC sendiri, sesuai kebiasaan, menolak mengonfirmasi maupun membantah adanya penyelidikan.
Kasus ini muncul ketika perdebatan soal regulasi pasar prediksi di AS sedang memanas. Kalshi baru saja memenangkan pertempuran hukum panjang melawan CFTC untuk tetap beroperasi. Pertanyaannya, apakah kemenangan itu kini justru jadi beban? Kini dua nama itu kembali tersambung, dalam konteks yang sama sekali berbeda.