RABU, 30 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  NTP Juni 2026 Turun Tipis, Peternak Masih Nombok

Ekonomi

NTP Juni 2026 Turun Tipis, Peternak Masih Nombok

BPS mencatat Nilai Tukar Petani nasional Juni 2026 sebesar 127,65, turun 0,06 persen dibanding Mei. Harga yang dibayar petani terus melampaui yang diterima.

BPS: Nilai Tukar Petani Turun 0,66% di Mei 2026

Nilai Tukar Petani nasional Juni 2026 tercatat 127,65, turun tipis 0,06 persen dari bulan sebelumnya. Kecil memang. Tapi di balik angka itu tersimpan tekanan yang belum benar-benar reda.

Penyebabnya klasik: indeks harga yang diterima petani hanya naik 0,49 persen, sementara indeks yang mereka bayar melonjak 0,55 persen. Selama selisih itu masih negatif, daya beli petani akan terus tergerus, meski perlahan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut komoditas yang dominan memengaruhi indeks harga yang diterima petani antara lain karet, gabah, bawang merah, dan jagung. Dari sisi pengeluaran, bawang merah, bensin, bawang putih, dan beras menjadi beban terbesar yang harus ditanggung petani setiap bulan.

Dari lima subsektor yang dipantau, hanya tanaman pangan yang berhasil naik, sebesar 0,75 persen. Hortikultura, perikanan, peternakan, dan perkebunan rakyat semuanya kompak melemah. Tekanan harga input agaknya tidak merata, dan peternakan kena paling telak.

Di Sulawesi Barat, gambarannya lebih konkret. NTP Juni 2026 tercatat 120,77, turun 0,12 persen dari Mei yang sebesar 120,92. Kepala BPS Sulbar Suri Handayani menjelaskan, kenaikan indeks harga yang diterima petani di wilayahnya hanya 1,06 persen, kalah dari kenaikan indeks yang dibayar sebesar 1,18 persen.

Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat menjadi andalan di Sulbar, dengan NTP tertinggi di angka 135,79. Sebaliknya, Peternakan jadi satu-satunya subsektor yang angkanya masih di bawah 100, yakni 91,32. Artinya, peternak di Sulbar masih nombok. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja.

Satu ironi yang cukup mencolok dari rilis BPS kali ini: harga beras. Secara bulanan, harga di tingkat penggilingan naik 0,97 persen, grosir naik 0,82 persen, dan eceran naik 0,45 persen. Secara tahunan, kenaikannya mencapai 6,96 persen, dengan beras premium di penggilingan bahkan melonjak 11,66 persen year on year. Petani menjual gabah, tapi membeli beras jadi dengan harga yang terus mendaki. Beras masuk daftar komoditas beban terbesar mereka sekaligus produk utama yang mereka hasilkan.

Pertanyaannya, berapa lama struktur ini bisa dibiarkan? Selama selisih antara yang diterima dan yang dibayar masih seperti ini, perbaikan NTP akan terus tertahan di angka-angka tipis yang tidak banyak bicara soal kesejahteraan nyata.