SENIN, 19 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Netanyahu vs Eisenkot: Ketika Washington Bicara Du...

Internasional

Netanyahu vs Eisenkot: Ketika Washington Bicara Dua Bahasa

Kurang dari dua pekan sebelum pemilu Knesset 27 Oktober, survei menunjukkan koalisi Netanyahu terancam keok sementara Washington bermain di dua sisi meja.

Israel memasuki musim pemilihan di tengah keretakan hubungan dengan Eropa.

Duapuluh tiga kursi versus dua puluh. Angka itu kini menjadi momok bagi Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum Knesset pada 27 Oktober mendatang, ketika jajak pendapat Channel 12 Israel menempatkan Partai Yashar pimpinan Gadi Eisenkot di atas Likud untuk pertama kalinya.

Survei yang sama memproyeksikan blok oposisi bakal mengantongi 67 kursi, jauh melampaui ambang 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan. Koalisi Netanyahu diperkirakan hanya meraih 49 kursi. Ketika responden ditanya soal preferensi perdana menteri, Eisenkot unggul 45 persen berbanding 35 persen.

Di balik angka-angka itu, manuver diplomatik sedang berlangsung diam-diam. Duta Besar AS Mike Huckabee dikabarkan menggelar pertemuan tertutup dengan Eisenkot beberapa hari terakhir, membahas ketegangan di Tepi Barat, kekerasan pemukim ilegal Yahudi, dan situasi Gaza. Tidak ada pengumuman resmi dari kedua pihak. Partai Yashar memilih bungkam.

Yang lebih mencolok: agenda pertemuan terpisah antara Huckabee dan Netanyahu dilaporkan batal di menit-menit terakhir, Netanyahu disebut sebagai pihak yang membatalkan. Tidak ada penjelasan resmi, tidak ada jadwal pengganti. Entah kebetulan atau tidak, rangkaian peristiwa itu mengirim sinyal yang sulit diabaikan soal di mana Washington sebenarnya berdiri.

Tidak lama kemudian, Trump turun tangan. Di Truth Social, Presiden AS itu mengunggah dukungan untuk Netanyahu dalam huruf kapital penuh: "BIBI NETANYAHU TIDAK AKAN PERNAH MENGECEWAKAN ANDA!" Trump menyebut Netanyahu sebagai "perdana menteri pejuang yang hebat" dan sekutu kunci dalam konflik melawan Iran, yang pecah akhir Februari dengan kampanye serangan udara besar-besaran sebelum Teheran membalas dengan memblokir Selat Hormuz.

Argumen Trump keras dan tegas. Tanpa Netanyahu, Amerika harus menghadapi Iran sendirian. "Jika Israel memiliki pemimpin yang salah, yakni siapa pun selain Bibi, Amerika harus menangani persoalan ini sendiri, dan saya tidak berniat melakukannya," tulisnya. Netanyahu menyambut dukungan itu di platform X.

Dua sinyal berlawanan dari Washington. Huckabee bertemu Eisenkot, Trump endorses Netanyahu. Bisa jadi gambaran perpecahan dalam tubuh kebijakan luar negeri AS sendiri, agaknya.

Namun ada dimensi lain yang nyaris tidak tersentuh dalam debat pemilu Israel: hubungan dengan Eropa yang kian retak. Perang Gaza, dengan lebih dari 74.000 korban jiwa warga Palestina, telah mengguncang fondasi kemitraan yang tiga tahun lalu masih digambarkan Ursula von der Leyen sebagai hubungan "teman dan sekutu". Beberapa negara Eropa menarik diri dari Eurovision sebagai protes, Inggris melarang impor barang dari permukiman ilegal, Irlandia dan Spanyol terus mengencangkan kritik.

Data Pew Research Center mencatat pergeseran yang tidak bisa dianggap enteng: pandangan negatif terhadap Israel di Inggris naik dari 61 persen ke 69 persen antara 2025 dan 2026. Di Italia, dari 66 persen ke 75 persen. Di Jerman, salah satu sekutu paling setia Israel, dari 64 persen ke 73 persen. Bukan pergeseran kecil.

Pertanyaannya, apakah pergantian pemimpin bisa membalikkan ini?

Yossi Mekelberg dari Chatham House memperingatkan bahwa jika Netanyahu bertahan bersama koalisi sayap keras, sebagian kerusakan pada hubungan Israel-Eropa mungkin sudah tidak bisa diperbaiki, terlebih Netanyahu masih berstatus buronan Mahkamah Pidana Internasional.

Tapi harapan pada Eisenkot pun perlu direm. Mantan kepala militer itu secara eksplisit menentang pembentukan negara Palestina. Julie Norman dari Chatham House menyebut penyesuaian kebijakan yang mungkin dibawa pemerintahan baru belum tentu cukup bagi Eropa: yang ingin mereka lihat adalah langkah konkret menuju solusi dua negara, bukan sekadar moderasi retorika.

Di dalam negeri Israel sendiri, debat pemilu hampir tidak menyentuh isolasi diplomatik. Topik yang mendominasi: pelemahan Hamas, Hizbullah, dan Iran; janji oposisi soal biaya hidup; investigasi kegagalan 7 Oktober 2023; dan perekrutan wajib militer bagi kelompok Yahudi ultra-Ortodoks. Survei September oleh Jewish Policy Institute menunjukkan 72 persen warga Yahudi Israel menolak penarikan pasukan dari Gaza kecuali perimeter keamanan tetap dipertahankan di dalam wilayah itu.

Dua belas hari lagi, Knesset memilih. Hasilnya menentukan bukan hanya siapa yang memimpin Israel, tapi seberapa jauh Washington dan Brussel masih bersedia berjalan bersama Tel Aviv.