MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Netanyahu: Perang Belum Usai Selama Uranium Iran B...

Internasional

Netanyahu: Perang Belum Usai Selama Uranium Iran Belum Diambil

PM Israel Netanyahu menegaskan konflik belum selesai selama Iran masih menyimpan uranium diperkaya, sementara Tel Aviv diam-diam khawatir Trump akan mencapai kesepakatan yang dianggap setengah matang.

Sesumbar Benjamin Netanyahu Mau Masuk ke Iran dan Ambil Uranium

Netanyahu punya satu kalimat yang merangkum seluruh posisi Israel saat ini: "Masuk dan ambil saja."

Pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam wawancara program 60 Minutes di CBS News itu terdengar simpel, bahkan terlalu simpel. Tapi di balik kesingkatannya, ada tekanan geopolitik yang sudah berbulan-bulan menumpuk, dan kini mulai tumpah ke permukaan.

Netanyahu menegaskan perang melawan Iran belum bisa dinyatakan selesai selama Teheran masih menyimpan uranium diperkaya dan fasilitas pengayaannya masih berdiri. Bukan sekadar retorika. Ini posisi resmi yang, agaknya, mulai bergesekan dengan narasi Trump.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut program nuklir Iran sudah berada dalam kendali, Iran kalah secara militer, dan uranium mereka bisa diambil kapan saja karena lokasinya dipantau ketat oleh Amerika Serikat. Trump bahkan memperingatkan militer AS siap menghancurkan lokasi tersebut jika ada yang berani mendekat.

Kedengarannya selaras. Tapi tidak sepenuhnya.

Pejabat Israel mengungkapkan kepada CNN bahwa ada kekhawatiran nyata Tel Aviv akan ditinggal dalam negosiasi. "Ada kekhawatiran nyata bahwa Trump akan mencapai kesepakatan yang buruk. Israel berusaha memengaruhinya sebisa mungkin," ungkap sumber pejabat Israel itu. Konsesi menit-menit terakhir demi menutup negosiasi dengan cepat, itulah yang paling mereka cemaskan.

Tanda-tandanya mulai kelihatan. Trump yang di awal perang menargetkan penghancuran program rudal balistik Iran sekaligus penutupan fasilitas nuklir secara menyeluruh, kini fokusnya menyempit hanya ke pengayaan uranium dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Isu rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok proksi di Timur Tengah agaknya mulai tergeser dari meja perundingan.

Netanyahu sendiri bergerak serupa. Yang semula menetapkan lima syarat ketat, kini mengerucut ke satu prioritas. "Tujuan terpenting adalah penghapusan material yang diperkaya dari Iran, semua material yang diperkaya, dan pembongkaran kemampuan pengayaan uranium mereka," kata Netanyahu, tanpa menyinggung proksi atau rudal.

Penyempitan yang bukan main.

Lembaga keamanan Israel dilaporkan sangat cemas terhadap kemungkinan kesepakatan sementara yang hanya mengikis tekanan ekonomi terhadap Teheran tanpa menyentuh akar masalah nuklirnya. Kalau sanksi dicabut dan aliran dana kembali mengucur ke rezim, posisi keamanan Israel di kawasan bisa terguncang dalam jangka menengah. Begitu kalkulasi mereka, setidaknya.

Netanyahu juga menyinggung bantuan militer AS ke Israel yang saat ini mencapai 3,8 miliar dolar AS per tahun, setara sekitar Rp17,9 triliun. "Saya pikir sudah waktunya kita mulai mengurangi ketergantungan pada dukungan militer dari Pentagon. Mari mulai sekarang dan jalankan proses itu dalam 10 tahun ke depan," ujarnya. Sinyal kemandirian, atau sinyal bahwa Israel bersiap bergerak tanpa menunggu restu Washington? Entah kebetulan atau tidak, pernyataan itu keluar tepat di tengah ketegangan narasi dua sekutu lama ini.

Satu tuduhan tambahan dari Netanyahu yang tidak bisa diabaikan: China disebut memasok komponen tertentu untuk produksi rudal balistik Iran. Klaim yang masih perlu diverifikasi lebih jauh, tapi kalau data ini bisa dipercaya, ini menambah satu lapisan kerumitan baru dalam konflik yang sudah pelik.

Negosiasi AS-Iran masih berlangsung alot. Pemerintahan Trump punya insentif domestik yang kuat untuk menyelesaikan ini secepatnya, termasuk menjaga harga bensin tetap stabil di dalam negeri. Israel tetap bersiap menghadapi kemungkinan pertempuran berlanjut jika hasil akhir negosiasi dianggap tidak memuaskan.

Pertanyaannya: seberapa jauh Israel berani mendorong, kalau sekutu utamanya sedang mengejar jam?