SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Netanyahu Minta Militer Kuasai 70 Persen Gaza, Inv...

Internasional

Netanyahu Minta Militer Kuasai 70 Persen Gaza, Investigasi Digital Bongkar Jejak Nyata Ekspansi Israel

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk merebut hingga 70 persen wilayah Gaza, sementara investigasi digital Al Jazeera mengungkap perluasan kendali militer Israel yang melampaui batas resmi di Gaza, Lebanon Selatan, dan Suriah Selatan.

Militer Israel Diperintahkan untuk Merebut 70 Persen Wilayah Palestina

Angka 70 persen itu bukan sekadar target operasional. Netanyahu menyampaikannya di hadapan peserta konferensi di pemukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki, Rabu (28/5), dengan nada yang terdengar lebih seperti arahan bertahap ketimbang sekadar retorika perang.

"Kita tadinya di angka 60 persen. Arahan saya adalah untuk terus maju, langkah demi langkah," kata Netanyahu. Israel saat ini mengendalikan sekitar 64 persen wilayah Gaza, kawasan yang sudah porak-poranda setelah hampir dua tahun serangan militer pascaserangan Hamas pada Oktober 2023.

Pernyataan itu keluar hampir bersamaan dengan publikasi investigasi digital Unit Sumber Terbuka Al Jazeera, yang menelusuri batas-batas nyata kendali militer Israel di tiga wilayah: Jalur Gaza, Lebanon Selatan, dan Suriah Selatan. Hasilnya cukup untuk bikin alis naik.

Di Gaza, tim investigasi menggunakan blok-blok semen berwarna kuning sebagai patokan fisik untuk menelusuri "garis kuning" yang tercantum dalam peta gencatan senjata. Reuters melaporkan Israel secara sepihak sudah memindahkan blok-blok beton penanda batas itu, menggesernya lebih jauh ke wilayah yang sebelumnya berada di bawah kendali Hamas. Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat, yang seharusnya memaksa Israel mundur ke batas kendalinya, agaknya tidak terlalu mengikat di lapangan. Beton dipindah. Garis bergeser.

Di Lebanon Selatan, citra satelit yang dianalisis pascagencatan senjata memperlihatkan kondisi kota-kota perbatasan yang berbeda dari apa yang dideklarasikan di atas kertas. Zona militer yang diumumkan Israel tidak selalu selaras dengan jejak fisik yang tertangkap satelit.

Suriah Selatan kasus tersendiri. Tidak ada peta resmi Israel yang bisa dijadikan patokan di sana. Tim investigasi bertumpu pada data lokasi militer permanen di luar "Garis Alpha" dan pola operasi penyusupan berulang ke wilayah Suriah. Ketidakhadiran peta resmi, bisa jadi, justru lebih bicara ketimbang dokumen manapun.

Investigasi ini menggabungkan peta militer resmi Israel, analisis citra satelit, sistem informasi geografis, dan data dari Armed Conflict Location & Event Data Project (ACLED). Metodologinya solid, dan itulah yang membuat temuan-temuannya sulit diabaikan.

Pertanyaannya, apakah yang sedang terjadi adalah pergeseran garis batas yang bersifat taktis dan sementara, atau sesuatu yang lebih permanen? Ketika beton dipindahkan secara sepihak dan pos militer berdiri di luar batas yang disepakati, jawaban atas pertanyaan itu semakin kabur. Yang jelas, peta Gaza hari ini sudah tidak sama dengan peta Gaza kemarin, dan Netanyahu sendiri yang bilang ia ingin peta itu berubah lagi.