Kantor Perdana Menteri Israel merilis pengumuman mengejutkan pada Kamis (14/5): Benjamin Netanyahu diam-diam mengunjungi Uni Emirat Arab selama Operasi Auman Singa, sebutan Israel untuk serangan gabungan AS-Israel ke Iran yang berlangsung sejak 28 Februari hingga gencatan senjata 7 April 2026. Netanyahu diklaim bertemu langsung dengan Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed di Abu Dhabi.
Beberapa jam kemudian, Abu Dhabi membantah.
Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan tidak ada kunjungan Netanyahu ke negaranya, tidak ada penerimaan delegasi militer Israel, dan segala klaim soal pengaturan di luar jalur resmi tidak berdasar. Hubungan dengan Israel, kata Kementerian itu, bersifat publik dan berjalan dalam kerangka Kesepakatan Abraham, bukan pengaturan gelap yang tak diumumkan.
Dua narasi yang saling membunuh satu sama lain.
Juru bicara Netanyahu, Ziv Agmon, bahkan sudah lebih dulu meramaikan situasi lewat posting di media sosial. Agmon, yang mengaku mendampingi Netanyahu dalam perjalanan itu, menulis bahwa Perdana Menteri disambut "dengan penghormatan kerajaan" di Abu Dhabi. Sheikh bin Zayed disebutnya mengantarkan Netanyahu langsung dengan mobil pribadinya dari pesawat ke istana. Kalimatnya ditutup dramatis: hal-hal yang diperoleh dari kunjungan ini akan dibicarakan generasi mendatang.
Bukan klaim yang mudah diabaikan.
Dua pesawat Bombardier BD-700 milik Israel yang tercatat terbang bolak-balik ke UEA pada 26 Maret 2026 ikut menjadi bahan pertanyaan publik. Cukup untuk mempertebal skeptisisme terhadap bantahan Abu Dhabi.
Kolumnis Bloomberg Javier Blas merangkumnya dengan singkat: "Keduanya tak mungkin benar semua." Pertanyaan yang lebih menohok datang dari Vali Nasr, akademisi diaspora Iran yang mengajar di Johns Hopkins University. Bagi Nasr, yang perlu dijawab bukan soal apakah kunjungan itu terjadi, melainkan kenapa Israel repot-repot mengumumkannya kalau UEA sendiri tidak mau mengakui.
Jawabannya, agaknya, ada di kalender politik Netanyahu.
Elizabeth Tsurkov, peneliti dari Middle East Policy Council di Washington DC, menunjuk Netanyahu sebagai akar masalahnya. UEA, kata Tsurkov, tidak pernah rewel soal kabar pejabat keamanan senior Israel yang berkunjung ke sana. Tapi begitu nama Netanyahu yang muncul, reaksi Abu Dhabi langsung berbeda. "Netanyahu adalah masalah yang berbeda," tegasnya. Andreas Krieg dari King's College London satu suara: "Hubungan apa pun dengan Netanyahu adalah beban dan dia akan mengorbankan Anda ketika itu sesuai dengan kepentingan kelangsungan politiknya. Netanyahu menggunakan kunjungannya ke UEA untuk memproyeksikan kepemimpinan menjelang pemilihan umum."
Konteksnya perlu diurai. Pengumuman soal kunjungan Netanyahu muncul beberapa hari setelah Dubes AS untuk Israel Mike Huckabee secara terbuka mengonfirmasi bahwa Israel telah mengirimkan baterai Iron Dome beserta personelnya ke UEA. Konfirmasi itu disampaikan di Tel Aviv pada Selasa (12/5/2026). UEA memang negara Teluk yang paling keras dihajar rudal dan drone Iran selama konflik. Sejak 28 Februari hingga gencatan senjata 8 April, Iran menembakkan sekitar 550 rudal balistik dan jelajah serta lebih dari 2.200 drone ke UEA. Sebagian besar berhasil dicegat. Sebagian tidak.
Masif. Dan itu baru dari satu front.
Kerja sama pertahanan Israel-UEA sudah lebih dalam dari yang tampak di permukaan. Israel dilaporkan memasok sistem laser ke UEA untuk mencegat drone dan rudal Iran. UEA sendiri menggelontorkan 2,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 40,3 triliun untuk sistem pertahanan elektronik dari Elbit Systems. Kontrak yang, entah kebetulan atau tidak, sempat disebut Elbit pada November 2025 sebagai kesepakatan dengan "pelanggan internasional yang tidak disebutkan namanya."
Jadi ada dua negara yang jelas-jelas berkolaborasi cukup dalam di bidang militer dan keamanan. Salah satunya tidak bersedia mengakui bahwa pemimpin tertinggi negara tetangganya pernah menginjakkan kaki di sana.
Begitulah kerumitan politik Netanyahu: bahkan mitra yang mau berbisnis dengannya pun enggan berfoto bersamanya.