Serangan itu nyata. Jalur kereta di selatan Teheran rusak, jembatan luluh lantak, dan Netanyahu mengonfirmasi Israel yang bertanggung jawab. Target-target itu, katanya, fasilitas milik Garda Revolusi Iran.
Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan udara langsung ke infrastruktur strategis Iran. Jaringan rel di kawasan selatan ibu kota jadi salah satu titik yang paling parah dihajar. Bukan sasaran sembarangan: rel itu selama ini tulang punggung distribusi perbekalan militer rezim, jalur yang kalau putus, efeknya terasa jauh ke dalam logistik pasukan.
Tapi di sinilah situasi mulai runyam buat Netanyahu.
Ketika Israel terus menggenjot tekanan militer, Washington bergerak ke arah sebaliknya. Trump mengumumkan gencatan senjata dua pekan dengan Iran dan menarik sejumlah target dari daftar operasi. Manuver itu memotong momentum serangan Israel di saat paling krusial. Bagi Netanyahu, ini lebih dari sekadar kejutan taktis.
Narasi yang selama ini dibangun Jerusalem cukup sederhana: tekanan maksimum terhadap Teheran, lewat sanksi maupun kekuatan udara, pada akhirnya akan memaksa rezim runtuh dari dalam. Kalkulasi itu kini terlihat meleset telak. Rezim Iran belum tumbang. Garda Revolusi masih berdiri. Dan sekutu paling penting Israel justru memilih bersalaman dengan musuh yang sama.
Ribuan warga Iran turun ke jalan di Teheran. Bukan untuk merayakan ketahanan rezim.
Mereka menolak gencatan senjata yang mereka sebut pengkhianatan. Dua kemarahan berjalan beriringan: murka terhadap rezim di satu sisi, sekaligus tak rela negerinya dijual murah dalam kesepakatan dengan Amerika di sisi lain.
Agaknya Trump punya kalkulasi yang sama sekali berbeda dari Netanyahu. Bagi Gedung Putih, jeda dua pekan adalah ruang untuk menekan Teheran lewat meja perundingan, bukan lewat bom. Entah kebetulan atau tidak, pengumuman gencatan itu datang persis ketika serangan Israel mulai menyentuh infrastruktur yang berbau sipil. Garis yang, kalau dilewati, bisa membakar opini publik internasional lebih cepat dari roket mana pun.
Pertanyaannya: sampai kapan Netanyahu bisa bertahan di dua front sekaligus?
Dari Jerusalem, tekanan politik makin berat. Gagal menjatuhkan rezim Iran, kehilangan dukungan penuh Washington, dan kini dihajar pertanyaan keras dari dalam negeri soal apa yang sebetulnya sudah dicapai dari semua operasi ini. Situasinya, kalau dibaca jujur, ibarat pedang bermata dua: terus menyerang berisiko konflik terbuka dengan sekutu, berhenti berarti mengakui kegagalan di depan publik Israel sendiri.
Cukup untuk bikin siapa pun di Jerusalem kehilangan tidur.
Gencatan dua pekan ini bukan akhir cerita. Cuma jeda. Di kawasan yang sudah sekian lama bergolak, jeda biasanya cuma berarti semua pihak sedang menarik napas sebelum babak berikutnya meledak.