KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Netanyahu Dituding Berbohong soal Nuklir Iran demi...

Internasional

Netanyahu Dituding Berbohong soal Nuklir Iran demi Menangkan Pemilu

Mantan Kepala Staf Militer Israel Gadi Eisenkot menuding PM Benjamin Netanyahu memalsukan fakta soal kepemilikan senjata nuklir Iran untuk menakut-nakuti publik menjelang pemilu Oktober mendatang.

Oposisi Israel Tuduh Netanyahu Berbohong soal Iran Punya Senjata Nuklir

Serangan balik dari dalam negeri Israel datang bertubi-tubi ke arah Benjamin Netanyahu. Sang Perdana Menteri melontarkan klaim kontroversial bahwa Iran sudah menggenggam senjata nuklir, sebuah pernyataan yang langsung dibantah keras oleh sejumlah tokoh oposisi senior.

Mantan Kepala Staf Militer Israel sekaligus Ketua Partai Yashar, Gadi Eisenkot, tidak memilih kata-kata yang lembut. Dalam sebuah konferensi di Israel tengah yang dikutip harian Yedioth Ahronoth, Rabu (1/7/2026), ia menyebut Netanyahu tengah memalsukan kenyataan. "Netanyahu mengatakan hal-hal yang menjijikkan. Iran sama sekali tidak memiliki bom nuklir. Dia memalsukan kenyataan untuk menakut-nakuti publik Israel," tegasnya.

Pernyataan Eisenkot itu merespons wawancara Netanyahu dengan Channel 14 sehari sebelumnya. Dalam sesi itu Netanyahu mengklaim telah "memasuki Iran dua kali untuk menyelamatkan kita dari kehancuran oleh bom atom yang sudah ada di tangan mereka." Kalimat yang, bagi lawan-lawan politiknya, terasa lebih seperti retorika kampanye ketimbang penilaian intelijen yang sah.

Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett, yang menjabat pada 2021-2022, ikut menumpuk kritik. Ia menyebut klaim Netanyahu sebagai upaya menulis ulang sejarah secara terang-terangan. "Kemarin dikatakan bahwa Iran sudah memiliki bom nuklir. Itu bohong," ujar Bennett. Ia juga mengungkap bahwa selama masa jabatannya, ia tak pernah menemukan rencana yang jelas dari pemerintahan Netanyahu untuk menangani ancaman nuklir Iran. Pengakuan yang, kalau benar, cukup menohok.

Pemimpin oposisi Yair Lapid membawa kritik ke sudut berbeda. Dalam pidatonya di Konferensi Herzliya, ia menilai hubungan luar negeri Israel merosot di bawah Netanyahu, seraya menyerukan penanganan lebih tegas atas kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat.

Konteks politiknya tak bisa diabaikan begitu saja. Pemilu Israel dijadwalkan berlangsung Oktober mendatang, dan Netanyahu sedang dihajar tekanan dari segala penjuru, baik hukum maupun politik. Framing bahwa Iran sudah punya bom, kalau diterima publik, agaknya bisa menggeser perhatian ke isu keamanan, di mana Netanyahu selama ini dianggap punya keunggulan. Bak gayung bersambut buat kubu yang ingin menempatkannya sebagai sosok pelindung bangsa.

Beberapa hari sebelumnya, Netanyahu mengakui telah mengirim delegasi ke Washington untuk "cawe-cawe" dalam perundingan nuklir AS-Iran, meski Israel bukan pihak dalam pembicaraan itu. "Kami bukan pihak dalam kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, itu tidak berarti kami tidak memiliki kepentingan," ungkapnya, seperti dikutip The Times of Israel. Ia juga menegaskan tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir selama ia masih menjabat, dan mengklaim operasi militer Israel terhadap Iran sepanjang tahun lalu telah menghilangkan ancaman langsung. Bukan klaim kecil.

Iran sendiri sudah lama membantah punya ambisi senjata nuklir dan berkukuh program nuklirnya sepenuhnya bersifat damai. Klaim yang konsisten, meski Amerika Serikat dan Israel sama-sama bersikeras bahwa Teheran tengah mengembangkan kapasitas yang bisa dikonversi menjadi persenjataan.

Pertanyaannya, siapa yang sebetulnya bisa dipercaya untuk menarasikan ancaman ini? Yang jelas, serangan terbuka dari figur sekaliber Eisenkot dan Bennett, dua orang dengan rekam jejak keamanan dan intelijen yang tidak bisa dianggap remeh, menunjukkan bahwa perdebatan soal Iran di Israel bukan semata soal bom. Ini juga soal siapa yang boleh bicara tentangnya.