KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Netanyahu Desak Uranium Iran Diangkut Keluar, Trum...

Internasional

Netanyahu Desak Uranium Iran Diangkut Keluar, Trump Buang Respons Teheran ke Tempat Sampah

Di hari ke-72 konflik, Netanyahu tegaskan perang belum selesai selama stok uranium Iran belum dipindahkan. Trump menyebut respons damai Teheran "sama sekali tidak dapat diterima".

9 Update Perang AS Vs Iran: Teheran Melawan, Trump Uring-uringan Lagi

Tujuh puluh dua hari sejak perang AS-Israel versus Iran meletus, dan belum ada tanda-tanda garis finish.

Benjamin Netanyahu tampil di "60 Minutes" CBS akhir pekan ini dengan pernyataan yang membuat meja perundingan makin panas. Operasi gabungan AS-Israel terhadap Iran, katanya, "berhasil mencapai banyak hal, tetapi belum berakhir." Alasannya spesifik: uranium yang telah diperkaya milik Iran belum disentuh, fasilitas pengayaan masih berdiri, dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan masih mengalir, program rudal balistik belum ada pembatasannya.

"Masih ada pekerjaan yang harus dilakukan," tegas Netanyahu.

Yang bikin pernyataan ini lebih dari sekadar retorika adalah ketika ia menjelaskan skenario penanganan uranium Iran. Didesak soal cara konkretnya, Netanyahu mengisyaratkan pemindahan fisik material tersebut dari Teheran. Ia mengklaim Trump sendiri yang pertama menyebut keinginan untuk "masuk ke sana" dan mengambilnya. "Itu bukan masalahnya. Jika Anda memiliki kesepakatan, lalu masuk dan mengambilnya keluar, kenapa tidak? Itu cara terbaik," ujarnya. Netanyahu menolak merinci jadwal, menyebut ini sebagai "misi yang sangat penting".

Sementara Netanyahu berbicara di depan kamera, Trump sibuk di Truth Social. Bukan sekadar berkomentar, ia membuang respons terbaru Iran ke tempat sampah secara terbuka. "Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya -- SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!" tulisnya, tanpa merinci poin mana yang ia permasalahkan.

Iran, melalui mediator Pakistan, memang telah menyerahkan tanggapannya atas teks terbaru AS pada Minggu. Kantor berita resmi IRNA mengonfirmasi pengiriman itu tanpa membuka isinya. Presiden Masoud Pezeshkian merespons penolakan Trump dengan nada tak kalah keras. "Kami tidak akan pernah tunduk kepada musuh, dan jika ada pembicaraan atau negosiasi, itu tidak berarti menyerah atau mundur," tulisnya di platform X.

Negosiasi buntu.

Di lapangan, situasinya tidak lebih tenang. Serangan drone mewarnai Minggu kemarin di kawasan Teluk, satu menghantam kapal kargo yang berlayar dari Abu Dhabi menuju Qatar, memicu kebakaran kecil tanpa korban jiwa. Militer Kuwait mengklaim berhasil menggagalkan serangan serupa saat fajar. Korps Garda Revolusi Islam Iran kemudian mengeluarkan peringatan terbuka: setiap serangan terhadap kapal tanker Iran akan dibalas dengan serangan ke fasilitas AS di kawasan. Pernyataan itu keluar sehari setelah AS dilaporkan menyerang dua kapal tanker Iran di Teluk Oman.

Selat Hormuz, agaknya, sedang disiapkan jadi panggung berikutnya.

Pada Selasa, Inggris dan Prancis menjadi tuan rumah pertemuan multinasional para menteri pertahanan, mengumpulkan lebih dari 40 negara untuk membahas pengamanan jalur perdagangan strategis itu. Menteri Pertahanan Inggris John Healey dan mitranya dari Prancis Catherine Vautrin akan memimpin bersama pertemuan tersebut. Iran langsung menyambar dengan peringatan keras: jika kedua negara itu mengirim kapal perang ke Hormuz, angkatan bersenjata Iran akan melancarkan "respons yang tegas dan segera".

Ada satu berita yang sedikit berbeda nada. Narges Mohammadi, peraih Nobel Perdamaian yang mendekam di penjara Iran, dibebaskan dengan jaminan besar setelah kondisi kesehatannya memburuk. Sepuluh hari dirawat di rumah sakit di Zanjan, Iran utara, ia kemudian dipindahkan ke Teheran untuk perawatan lanjutan. Kebebasannya bersifat sementara, kalau data ini bisa dipercaya, ini bukan gestur kemanusiaan, melainkan kalkulasi. Tapi cukup untuk menarik perhatian di tengah perang yang terus bergulir.

Trump dijadwalkan mengunjungi Beijing pekan ini. Pejabat senior pemerintahannya mengisyaratkan Iran akan jadi salah satu agenda tekanan ke Xi Jinping, sebuah pejabat bahkan menyebut Trump sebelumnya telah melakukan hal serupa dalam percakapan dengan Xi. Seberapa jauh pengaruh China terhadap Teheran? Itulah pertanyaan yang kini sedang dicoba jawab Washington. Pertanyaannya, berapa lama Beijing mau bermain peran penengah sebelum kalkulasinya sendiri berubah?