KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Neraca Dagang Jatim Defisit $2,80 Miliar: Ekspor R...

Ekonomi

Neraca Dagang Jatim Defisit $2,80 Miliar: Ekspor Rontok, Impor Tak Terbendung

Jawa Timur mencatat defisit neraca perdagangan senilai US$2,80 miliar sepanjang Januari-Mei 2026, setelah ekspor tergerus 2,92 persen sementara impor melesat 14,36 persen dalam periode yang sama.

Ekspor Jawa Timur Januari-Mei 2026 turun 2,92 persen

Neraca perdagangan Jawa Timur compang-camping di lima bulan pertama 2026. Ekspor tercatat US$10,91 miliar, turun 2,92 persen dari US$11,24 miliar pada Januari-Mei 2025, sementara impor justru melonjak 14,36 persen menjadi US$13,70 miliar. Hasilnya: defisit US$2,80 miliar, angka yang cukup untuk membuat pelaku industri daerah was-was.

Data BPS Jawa Timur yang dirilis Rabu (1/7) itu menunjukkan tekanan dari dua arah sekaligus. Ekspor nonmigas turun 2,28 persen menjadi US$10,75 miliar. Migas amblas lebih dalam, 32,27 persen, dari US$239,42 juta menjadi hanya US$162,16 juta, dengan minyak mentah sebagai biang keroknya: merosot 49,64 persen menjadi US$109,28 juta. Tajam.

Yang paling bikin dahi berkerut adalah komoditas perhiasan dan permata (HS 71), selama ini kontributor ekspor nonmigas terbesar pertama Jawa Timur. Nilainya rontok 40,80 persen menjadi US$1,26 miliar. "Ini disebabkan sebagian komoditas ekspor utama Jawa Timur mengalami penurunan, terutama komoditas perhiasan atau permata dengan peranan terbesar pertama," kata Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Timur Herum Fajarwati. Ikan, krustasea, dan moluska (HS 03) ikut terkoreksi 5,24 persen menjadi US$479,27 juta.

Tidak semua komoditas terseret. Lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) justru melesat 28,70 persen menjadi US$1,13 miliar, dengan Tiongkok sebagai tujuan utama senilai US$487,53 juta. Tembaga (HS 74) naik 20,79 persen menjadi US$1,18 miliar, dan bahan kimia organik (HS 29) tumbuh 12,19 persen menjadi US$492,04 juta. Tiga komoditas ini agaknya menjadi satu-satunya pereda di laporan yang cenderung suram.

Dari sisi impor, kenaikan 14,36 persen ditopang oleh dua kaki. Nonmigas tumbuh 11,74 persen menjadi US$11,10 miliar. Impor migas melonjak 27,02 persen dari US$2,05 miliar menjadi US$2,60 miliar, dengan minyak mentah naik 42,86 persen menjadi US$290,67 juta dan hasil minyak meningkat 28,26 persen menjadi US$1,71 miliar.

Di segmen nonmigas, buah-buahan (HS 08) mencatat kenaikan terbesar secara persentase: 34,87 persen, dengan tambahan nilai US$159,45 juta. Sebagian besar datang dari Tiongkok, senilai US$556,52 juta. Pupuk (HS 31) naik 27,05 persen atau setara US$120,16 juta, plastik dan barang plastik (HS 39) meningkat US$106,86 juta. Mesin dan peralatan mekanis (HS 84) tetap bertengger sebagai kontributor terbesar impor nonmigas dengan nilai US$1,18 miliar, naik 16,14 persen dari US$1,01 miliar setahun sebelumnya.

Pertanyaannya, kenaikan impor mesin dan bahan baku seperti plastik serta pupuk bisa dibaca sebagai sinyal ekspansi kapasitas produksi, bukan semata konsumsi. Tapi kalau output produksinya tidak terserap pasar ekspor, defisit hanya akan terus melebar. Bak gayung bersambut yang tidak pernah bertemu.

Sepuluh golongan barang nonmigas terbesar menyumbang 63,84 persen dari total ekspor nonmigas, namun pertumbuhannya minus 5,03 persen. Impor dari kelompok yang sama berkontribusi 59,52 persen dengan pertumbuhan 14,66 persen. Jarak antara dua angka itu cermin retak dari tekanan struktural yang tidak bisa diselesaikan dalam satu-dua kuartal.

Bagi investor dengan eksposur ke emiten berbasis ekspor komoditas Jatim, entah itu perikanan, perhiasan, maupun agribisnis, angka-angka ini patut masuk radar.