Tidak lama. Itu kata paling tepat untuk menggambarkan perundingan AS-Iran di Islamabad pada Sabtu (11/4). Wakil Presiden AS JD Vance memimpin delegasinya keluar ruang perundingan, meninggalkan Pakistan dengan tangan kosong dan satu peringatan keras: Washington sudah meletakkan "tawaran terakhir dan terbaik" di atas meja.
Teheran, rupanya, belum tertarik mengambilnya.
Kurang dari 48 jam berselang, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sudah berada di telepon bersama Vladimir Putin. Bukan basa-basi. Pezeshkian menegaskan Iran sepenuhnya siap mencapai kesepakatan yang adil dan seimbang dengan Amerika Serikat, asalkan kepentingan nasional dan hak-hak rakyat Iran tidak dikorbankan dalam prosesnya.
Syarat yang terdengar wajar di permukaan. Tapi justru di sanalah akar kekeraskepalaan kedua pihak berakar.
Dua hal yang membuat meja perundingan retak: siapa yang berhak mengendalikan jalur pelayaran Selat Hormuz, dan sejauh mana Iran boleh melanjutkan pengayaan uranium. Bukan soal teknis semata. Ini soal kedaulatan, soal eksistensi. Delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf mengklaim timnya sudah mengajukan inisiatif konstruktif, namun "pihak lain" gagal membangun kepercayaan yang cukup.
Vance punya versi berbeda. "Kami pergi dari sini dengan proposal yang sangat sederhana. Kita akan lihat apakah Iran akan menerimanya," tegasnya sebelum meninggalkan Pakistan.
Pertanyaannya: berapa lama kedua pihak sanggup bertahan dalam kebekuan ini?
Ketegangan kawasan bukan muncul tiba-tiba. Semuanya meledak sejak akhir Februari, ketika serangan gabungan Israel dan AS pada 28 Februari menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei. Respons Teheran datang cepat dan keras, berupa drone dan rudal yang diarahkan ke sejumlah target di Israel serta aset militer AS di kawasan. Iran lalu membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur yang menanggung sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Washington merespons dengan pengerahan armada laut tambahan dan sistem pertahanan udara, sementara Iran menaikkan status siaga militernya. Dua kekuatan ini praktis berdiri di bibir konflik terbuka, saling menatap.
Di celah itulah Putin masuk. Kremlin menyatakan sang presiden siap memfasilitasi penyelesaian politik dan diplomatik, serta "terus melakukan kontak aktif dengan semua mitra di kawasan." Pezeshkian sekaligus menyampaikan terima kasih atas bantuan kemanusiaan Rusia dan posisi Moskow di forum-forum internasional yang selama ini condong mendorong de-eskalasi.
Harapan serupa agaknya juga bersarang di Beirut. Wakil Kepala Dewan Politik Hizbullah Mahmoud Komati menyebut Rusia berpotensi memainkan peran penting berkat kedekatan Moskow dengan Iran dan negara-negara Arab. Tapi Komati juga menyisipkan sinisme yang cukup menggigit: AS kini berupaya memanfaatkan pengaruh Rusia untuk mendorong Iran ke gencatan senjata. "Cepat atau lambat, mereka akan membutuhkan Rusia," katanya.
Soal "standar ganda" Washington? Pezeshkian menyebutnya sebagai hambatan utama dalam setiap perundingan. Klaim lama, tapi selalu efektif sebagai amunisi retorika domestik di Teheran.
Pasar energi sudah merasakan imbasnya duluan. Harga minyak dunia kembali terkerek akibat kekhawatiran atas keamanan jalur pelayaran di Teluk, sementara fasilitas minyak dan gas di kawasan dilaporkan mengalami kerusakan yang kian parah. Cukup untuk bikin pedagang komoditas tidak bisa tidur nyenyak.
Iran bilang siap berdamai. AS bilang sudah lempar penawaran terbaik. Keduanya menunggu pihak lain yang bergerak duluan. Selat Hormuz tetap menjadi kartu paling berbahaya di meja ini.