SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Negara-Negara Teluk Kompak Gebuk Jaringan Sabotase...

Internasional

Negara-Negara Teluk Kompak Gebuk Jaringan Sabotase Iran

Kuwait, Bahrain, UEA, Qatar, hingga Arab Saudi bergerak serempak membongkar sel-sel terkait IRGC. Iran balik menuding Kuwait menyerang kapal mereka di Teluk Persia.

Negara Teluk Mulai Bergerak, Gagalkan Sejumlah Upaya Sabotase Iran

Kuwait menangkap empat pria yang dituduh sebagai anggota Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Selasa (12/5/2026). Bukan sekadar insiden tunggal. Penangkapan ini bagian dari pola yang jauh lebih besar, dan kawasan Teluk rupanya sudah tak sabar menunggu.

Sepanjang beberapa bulan terakhir, nyaris seluruh monarki Teluk Persia bergerak hampir bersamaan membersihkan jaringan yang diduga berafiliasi dengan Teheran. Bahrain menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada dua pria yang dituduh mempersiapkan aksi teror atas nama Iran. Uni Emirat Arab mengumumkan penangkapan 27 anggota sel teror terkait Iran bulan lalu. Qatar dan Arab Saudi turut menahan sejumlah tersangka agen bayaran Iran, dengan temuan senjata api, drone, bahan peledak, hingga peralatan komunikasi kode Morse ikut disita.

Serempak. Hampir seperti dikomando.

Pola sabotase yang disasar terlihat cukup jelas. Para tersangka bukan sekadar pengintai biasa. Arab Saudi, misalnya, menyita bahan peledak dan drone yang disiapkan untuk menyabotase fasilitas minyak, berdasarkan keterangan pejabat yang dikonfirmasi secara terpisah. Rencana yang, kalau berhasil, dampaknya bisa melampaui batas kawasan.

Sanam Vakil, Direktur Program Timur Tengah di Chatham House London, menunjuk pergeseran yang cukup mencolok. Dulu, negara-negara Teluk cenderung memilih bungkam demi menjaga relasi diplomatik dengan Teheran. "Negara Teluk mungkin dulu membiarkan hal itu berlalu demi menjaga hubungan dengan Iran, tetapi kini tidak lagi," katanya.

Teheran membantah. Keras.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi langsung angkat bicara di platform X, menuding Kuwait secara ilegal menyerang kapal Iran dan menahan empat warganya. Ia menuntut pembebasan segera dan secara eksplisit menyebut Iran berhak mengambil tindakan balasan, pernyataan yang, entah kebetulan atau tidak, terasa seperti eskalasi retorika di saat ketegangan sudah memuncak.

Versi resmi Kementerian Luar Negeri Iran sedikit berbeda nadanya: keempat warga negara itu disebutnya sedang menjalankan patroli maritim rutin dan tersesat ke perairan Kuwait akibat "gangguan navigasi." Klaim yang masih perlu dibuktikan, mengingat pihak Kuwait menyebut mereka tengah berupaya menyusup lewat laut untuk melakukan "tindakan permusuhan."

Lantas seberapa efektif sebenarnya operasi-operasi Iran ini? Agaknya tidak terlalu.

Saeid Golkar, ahli intelijen Iran dari Universitas Tennessee di Chattanooga, menunjuk masalah struktural di tubuh IRGC. Perekrutan lebih mengutamakan kesetiaan ideologis ketimbang keahlian lapangan. "Itu tidak didasarkan pada keahlian, tetapi hanya untuk mereka yang secara ideologis dekat dengan IRGC," ujar Golkar. Hasilnya: sel-sel yang mudah terlacak dan digagalkan sebelum sempat bergerak.

Tapi jangan keliru membaca situasi ini sebagai tanda Iran akan berhenti. Behnam Ben Taleblu dari Foundation for the Defense of Democracies mengingatkan bahwa rezim Iran pada dasarnya memang selalu mencari celah. "Rezim tersebut terus mengusik dan mencari titik lemah," tegasnya.

Hingga kini belum ada satu pun laporan keberhasilan aksi sabotase Iran di kawasan Teluk. Bukan kebetulan. David Des Roches, mantan pejabat Pentagon yang menangani kebijakan Teluk Persia, menyebut sebagian besar negara di kawasan ini memiliki tingkat pengawasan keamanan yang sangat tinggi, termasuk pengintaian terhadap populasi yang dianggap berisiko.

Dengan diaspora Persia lebih dari satu juta jiwa tersebar dari Kuwait hingga UEA, tugas intelijen kontrateror jelas bukan pekerjaan mudah. Tapi setidaknya untuk saat ini, papan skor cukup tegas dibaca: Teluk 1, IRGC 0.