Kamis pagi, 9 Juli 2026, papan nama lama Bandara Internasional Palm Beach dicopot. Penggantinya: President Donald J. Trump International Airport, sebuah nama yang langsung membelah opini publik Amerika jauh sebelum cat papan baru itu sempat kering.
Pesawat pertama yang mendarat dengan nama baru itu bukan sembarang penerbangan komersial. Trump Force One, Boeing 757 milik Trump Organization, membuka lembaran baru bandara tersebut dengan membawa Eric Trump sebagai salah satu penumpangnya. Eric kemudian merayakannya di X dengan nada yang sulit ditandingi siapa pun dalam soal kebanggaan dinasti. "Tidak ada orang yang telah berbuat lebih banyak untuk Florida dan negara kita," tulisnya, sebelum menambahkan bahwa ia akan "selamanya bangga" melihat inisial DJT di boarding pass-nya setiap hari.
Dari Truth Social, Donald Trump ikut bersorak. Palm Beach disebutnya sebagai daerah yang "sangat seksi" dengan lokasi bagus, dan dengan gaya khasnya ia menjuluki bandara itu sebagai "salah satu bandara terhebat dan paling spektakuler di dunia." Klaim yang, agaknya, belum tentu disepakati oleh 8 juta penumpang yang melewati terminal ini tiap tahun.
Perubahan nama ini bukan keputusan mendadak. Gubernur Florida Ron DeSantis menandatangani undang-undang awal tahun ini yang membuka jalan bagi penggantian nama tersebut. Sebelumnya, ruas jalan dari bandara menuju Mar-a-Lago sudah lebih dulu berganti nama menjadi Donald J. Trump Boulevard. Pola yang terbentuk cukup terang: kawasan sekitar kediaman Trump di Palm Beach pelan-pelan bertransformasi menjadi semacam monumen hidup bagi sang presiden. Kode IATA pun ikut bergeser, dari PBI menjadi DJT, berlaku mulai 18 Agustus 2026.
Anggaran yang dibutuhkan tidak kecil. Penggantian papan nama, identitas visual, dan kebutuhan administratif diperkirakan menelan biaya hingga 5,5 juta dolar AS, sekitar Rp88 miliar. Dana publik untuk sebuah nama. Bisa jadi itu yang membuat sebagian warga lebih dari sekadar mengernyitkan dahi.
Representatif Demokrat Lois Frankel menjadi salah satu suara paling keras yang menentang kebijakan ini. Ia menilai pemerintah Florida tidak memberi ruang yang layak bagi warga Palm Beach, pelaku usaha, dan pengguna bandara untuk menyampaikan pendapat sebelum keputusan diambil. Kritik itu bukan tanpa tindakan: dua gugatan hukum kini sedang berproses menentang legalitas penggantian nama tersebut.
Reaksi di lapangan tidak kalah beragam. Keegan Collett, penumpang yang hendak terbang ke Cincinnati, mengaku terkejut tapi tidak bereaksi berlebihan. "Itu hanya nama bandara. Ada hal-hal yang lebih besar. Saya merasa ini hanya pengalihan perhatian," katanya. Sejumlah warga lain sudah bilang terang-terangan: mereka lebih pilih terbang lewat Orlando.
Pencatatan sejarahnya memang ada. Meski puluhan bandara di Amerika sudah lama menyandang nama mantan presiden, Palm Beach menjadi yang pertama menggunakan nama presiden yang masih aktif menjabat. Konteks itu relevan, mengingat beberapa bulan sebelumnya wajah Trump juga sudah dicetak di 25.000 hingga 30.000 paspor edisi khusus yang diterbitkan Departemen Luar Negeri AS dalam rangka perayaan ulang tahun ke-250 Amerika pada 4 Juli lalu. Masif.
Hari yang sama, di Dandridge, Tennessee, berlangsung upacara penggantian nama Jembatan I-40 menjadi Jembatan Donald J. Trump. Menteri Keuangan Scott Bessent hadir bersama Senator Marsha Blackburn, Bill Hagerty, dan Perwakilan Tim Burchett. Jefferson County, tempat Dandridge berada, kantong Trump yang solid: 82 persen suaranya mengalir ke Trump di pemilu 2024.
Nama di papan boleh berganti. Pertanyaannya, berapa banyak fasilitas publik lagi yang akan mengikuti jejak Palm Beach sebelum masa jabatan kedua ini berakhir?