Dua kali disanksi Beijing, Marco Rubio tetap bisa menginjakkan kaki di China. Caranya cukup mengejutkan: ganti ejaan nama Mandarinnya.
Menteri Luar Negeri AS itu terbang ke Beijing bersama Presiden Donald Trump menggunakan Air Force One, dalam lawatan yang sekaligus menandai kunjungan pertama presiden Amerika ke China dalam hampir satu dekade. Bagi Rubio sendiri, ini pertama kalinya ia menginjak negeri yang selama bertahun-tahun ia kritik habis-habisan dari kursi senator.
Solusi yang ditempuh Beijing terbilang kreatif. Agaknya terlalu kreatif untuk negara yang gemar mengklaim tak ada kompromi soal sanksi. Sesaat sebelum Rubio resmi dilantik sebagai Menlu pada Januari 2025, pemerintah dan media resmi China mulai menggunakan aksara Mandarin berbeda untuk bunyi "lu" pada suku kata pertama nama belakangnya. Dua diplomat menyebut perubahan itu bukan kebetulan, melainkan memang disengaja, ejaan lama Rubio secara teknis masih tercatat dalam daftar larangan masuk.
Ganti aksara, selesai.
Juru bicara Kedutaan Besar China Liu Pengyu memberi konfirmasi yang terasa sangat berhati-hati: sanksi yang dulu dijatuhkan menargetkan perkataan dan tindakan Rubio semasa ia menjabat senator AS terkait isu China, bukan kapasitasnya sebagai Menlu. Terdengar logis. Tapi juga terasa seperti justifikasi yang sudah disiapkan matang-matang.
Rubio punya rekam jejak panjang sebagai salah satu pengkritik paling tajam terhadap Beijing di Capitol Hill. Ia arsitek utama legislasi sanksi terkait dugaan kerja paksa terhadap minoritas Muslim Uyghur, tuduhan yang selalu dibantah keras oleh China. Vokal soal penindasan di Hong Kong. Dalam sidang konfirmasi sebagai Menlu, ia bahkan menyebut China sebagai lawan tanpa tandingan.
Jabatan mengubah banyak hal. Sejak masuk Foggy Bottom, Rubio mulai menyelaraskan diri dengan pendekatan Trump yang memandang Xi Jinping lebih sebagai mitra dagang ketimbang ancaman strategis. Bisa jadi pergeseran itulah yang memberi Beijing celah untuk berkreasi dengan protokol.
Di luar drama diplomatik, ada satu hal lain yang ikut viral: foto yang dirilis Gedung Putih menampilkan Rubio bersantai di Air Force One mengenakan setelan olahraga Nike. Netizen langsung menghubungkan tampilannya dengan pakaian serupa yang dikenakan mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat ditangkap pasukan AS pada Januari. Pedas buat politisi Kuba-Amerika yang selama ini dikenal keras antikomunisme.
Soal Taiwan, Rubio tahun lalu masih menegaskan pemerintahan Trump tidak akan menjadikan nasib demokrasi pulau itu sebagai kartu tawar dalam negosiasi dagang dengan Beijing. Klaim yang, kalau data ini bisa dipercaya, masih perlu dibuktikan setelah perjalanan ini rampung.