KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Mrwhosetheboss Ditahan 26 Jam di AS, Proyek Rp 4,9...

Internasional

Mrwhosetheboss Ditahan 26 Jam di AS, Proyek Rp 4,9 Miliar Amblas

YouTuber teknologi Arun Maini alias Mrwhosetheboss mengungkap pengalaman traumatisnya ditahan petugas CBP selama 26 jam tanpa akses komunikasi, berujung deportasi dan kerugian proyek USD 300 ribu.

YouTuber Arun Maini Gagal Jalankan Proyek Rp 4,9 Miliar di Amerika

Bayangkan tiba di bandara untuk proyek besar, lalu menghilang tanpa kabar selama lebih dari satu hari penuh.

Itulah yang dialami Arun Maini, YouTuber teknologi asal Inggris di balik kanal Mrwhosetheboss dengan lebih dari 22 juta subscriber. Kisah itu ia buka dalam wawancara eksklusif bersama Dexerto, dan tidak ada bagian yang terasa biasa-biasa saja.

Maini datang ke Amerika Serikat untuk meliput sebuah stadion berteknologi tinggi, proyek video bersponsor senilai USD 300 ribu atau sekitar Rp 4,9 miliar. Tim pendukungnya sudah menunggu di area kedatangan. Ia tidak pernah sampai ke sana.

Petugas CBP, Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS, menghentikannya begitu ia menginjakkan kaki di bandara. Interogasi dimulai. Suasana cepat memanas.

"Mereka mulai bertanya semakin banyak hal dan menggali lebih dalam. Situasinya mulai memanas dan terasa seperti menuduh saya mencuri uang dari AS atau semacamnya," kata Maini.

Dari ruang interogasi awal, ia dipindahkan ke sel yang dijaga petugas bersenjata api. Di sana ia diminta melepas seluruh pakaiannya untuk pemeriksaan fisik menyeluruh. "Mereka membawa saya ke sel, melepas semua pakaian saya, lalu melakukan pemeriksaan fisik di berbagai bagian tubuh. Sangat melanggar privasi," ujarnya.

Dua puluh enam jam. Tanpa sinyal.

Semua perangkat komunikasinya disita. Keluarganya tidak tahu ia di mana. Sponsornya tidak bisa dihubungi. Tim yang menunggu di bandara hanya bisa menebak-nebak.

"Saya tidak bisa menghubungi siapa pun. Keluarga saya tidak tahu saya di mana. Saya merasa seperti bukan manusia," katanya.

Setelah 26 jam, Maini dipulangkan, bukan lewat pintu kedatangan, melainkan lewat penerbangan deportasi kembali ke Inggris. Proyek miliaran itu batal total.

Maini menduga masalah visa jadi pemicunya. Ia kemungkinan tidak memakai jenis visa yang tepat untuk aktivitas peliputan komersial berbayar di AS, area abu-abu yang ternyata kerap menjerat kreator konten internasional. Kerja sama brand, liputan sponsor, produksi konten berbayar: semua itu punya implikasi izin kerja yang tidak sesederhana kelihatannya.

Tapi masalah visa saja, kalau data ini bisa dipercaya, tidak cukup menjelaskan apa yang ia alami. Pemeriksaan fisik, sel berjaga senjata, 26 jam tanpa akses komunikasi, bukan prosedur standar untuk sekadar ketidakcocokan dokumen perjalanan.

Pertanyaan lebih besar pun bergulir di media sosial: adakah unsur profiling rasial? Maini adalah pria keturunan Asia Selatan berjanggut. Sejumlah laporan investigasi sebelumnya memang mendokumentasikan kecenderungan pemeriksaan berlebih terhadap profil serupa di bandara-bandara Amerika. Belum ada bukti resmi untuk kasus Maini secara spesifik, tapi debatnya sudah meledak.

Bertahun-tahun setelah kejadian itu, dampaknya belum selesai. Setiap kali masuk ke AS, Maini otomatis diarahkan ke ruang pemeriksaan kedua. Semacam tanda hitam yang tertempel permanen dalam sistem imigrasi.

"Setiap kali saya pergi ke AS sekarang, saya selalu dibawa ke ruang kedua untuk diperiksa lagi. Itu menakutkan dan membuat saya enggan kembali," ujarnya.

Bagi kreator konten internasional yang makin sering berkolaborasi lintas negara, kasus ini bak alarm yang berbunyi keras. Visa turis bisa jadi bom waktu ketika ada transaksi komersial yang terlibat, dan otoritas perbatasan AS tidak selalu memilah dengan cara yang terasa adil bagi semua orang.