MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  MoU Mineral Swiss-Indonesia: Transfer Teknologi, B...

Ekonomi

MoU Mineral Swiss-Indonesia: Transfer Teknologi, Bukan Sekadar Jabat Tangan

Di Basel, Swiss menandatangani nota kesepahaman hilirisasi mineral dan logam dengan Indonesia, menandai babak baru kemitraan yang jauh lebih luas dari sekadar bagi-bagi bahan baku.

Di Tengah Proteksionisme Global, Swiss Perkuat Kemitraan Ekonomi dengan Indonesia

Tujuh puluh lima tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss ditandai dengan sesuatu yang konkret: penandatanganan MoU hilirisasi mineral dan logam di sela Swissmem Industry Day ke-19 di Basel, 23 Juni lalu. Momen itu disaksikan Presiden Swiss Guy Parmelin dan ratusan pengusaha anggota Swissmem, asosiasi pelaku industri Swiss beranggotakan sekitar 2.000 perusahaan.

Penandatanganan dilakukan Duta Besar RI untuk Swiss I Gede Ngurah Swajaya dan Andrea Rauber Saxer, Kepala Divisi Hubungan Bilateral Ekonomi di State Secretariat for Economic Affairs (SECO) Swiss. Bukan sekadar seremonial. Delegasi Indonesia tampil sebagai tamu kehormatan, duduk setara dengan para pemimpin industri Swiss yang dikenal perfeksionis soal siapa yang mereka ajak bermitra.

Logika kerja samanya sederhana tapi tidak murahan: Swiss kaya teknologi dan miskin bahan baku, Indonesia kebalikannya. Perkawinan yang ideal di atas kertas, dan sekarang mulai dituangkan dalam kerangka hukum yang lebih kuat. Swajaya mengingatkan bahwa fondasi relasi bilateral ini sudah tidak tipis. Perjanjian perdagangan, kemitraan ekonomi komprehensif, dan perlindungan investasi di antara kedua negara, semuanya sudah lama berlaku.

Parmelin tidak pelit kata-kata. Ia menyebut kemitraan ini "sangat strategis" dan menilai MoU tersebut memberi sinyal penting bahwa Swiss ingin memperdalam kolaborasi secara resiprokal. "Kami siap berkolaborasi. Untuk menumbuhkan ekonomi, kami tidak bisa melakukannya sendiri," ujar Parmelin. Pernyataan yang terdengar rendah hati untuk ukuran negara dengan PDB per kapita tertinggi di dunia.

Presiden Swissmem Martin Hirzel justru lebih terus terang soal motifnya. Dari sisi Swiss, akses terhadap mineral kritis bukan soal pertumbuhan semata, melainkan soal kelangsungan industri. "Untuk dunia, kami ingin menjadi pihak yang tak tergantikan. Namun untuk mineral kritis, justru dunia yang tak tergantikan bagi kami," kata Hirzel. Swiss butuh Indonesia, bukan hanya sebaliknya.

Hirzel juga menyebut keunggulan lain yang ditawarkan Swiss: rekam jejak menyelesaikan proyek infrastruktur besar tepat waktu dan sesuai anggaran, hal yang tidak selalu bisa diklaim mitra lain. "Jika ingin naik dalam rantai nilai, Indonesia harus memproduksi produk lebih canggih bagi pasar ekspor. Swiss dapat memainkan peran itu," tegasnya.

Ruang lingkup kerja sama ini jauh lebih luas dari tambang dan smelter. Dua hari setelah Basel, KBRI Bern menggelar Indonesia-Swiss Business Forum on Digital Economy di Zug, kota yang dikenal sebagai pusat kripto dan blockchain terbesar Eropa. Agenda besarnya: ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mendekati 180 miliar dolar AS pada 2030. Infrastruktur digital, fintech, kecerdasan buatan, hingga pengembangan tenaga kerja lewat Nongsa Digital Park di Batam, semua masuk dalam pembahasan.

Di Biel, International Smart Factory Summit 2026 yang digelar di Switzerland Innovation Park mengangkat wacana industri 5.0, fase manufaktur berbasis AI yang menggabungkan otomatisasi dengan orientasi pada manusia dan keberlanjutan. Kepala Swiss Smart Factory Dominic Gorecky tidak main-main dengan peringatannya: negara yang gagal membangun kapasitas inovasi terancam jadi "koloni AI" yang bergantung pada teknologi asing. Keras. Dan agaknya bukan tanpa alasan ia mengucapkannya di hadapan delegasi dari negara berkembang.

Delegasi Indonesia turut hadir di summit tersebut dan mengunjungi fasilitas robotika dan kobotika di Swiss Smart Factory, inkubator yang justru dibangun oleh industri swasta sebelum kemudian mendapat dukungan publik. Model seperti itu tampaknya jadi referensi yang ingin dipelajari Indonesia, entah bisa ditiru persis atau tidak.

Rangkaian kunjungan ini juga menyentuh CSEM (Centre Suisse d'Électronique et de Microtechnique) di Neuchâtel, lembaga riset yang mengembangkan panel surya ultra ringan hingga sel surya terintegrasi pada jam tangan Tissot. Vice President CSEM Bahaa Roustom menyebut energi, mikroelektronika, dan embedded AI sebagai bidang paling berpeluang dikolaborasikan dengan Indonesia karena nilai tambahnya cukup tinggi untuk membenarkan biaya transfer teknologi.

Investasi global di sektor panel surya diperkirakan menyentuh 365 miliar dolar AS atau sekitar Rp 6.514 triliun pada 2026, menjadikannya sektor dengan investasi terbesar di industri energi global. Angka yang tidak main-main. Indonesia, dengan kebutuhan energi yang terus tumbuh dan target transisi yang ambisius, bisa jadi bukan sekadar pasar, tapi mitra produksi yang relevan.

Dari Basel ke Zug ke Biel ke Neuchâtel, polanya konsisten. Swiss datang bukan dengan janji investasi besar yang samar, tapi dengan tawaran transfer teknologi, pelatihan SDM, dan akses ke ekosistem inovasi yang sudah terbukti. Pertanyaannya bukan apakah kemitraan ini menarik. Berapa cepat birokrasi kedua negara bisa menyingkirkan hambatan yang, seperti diakui Parmelin sendiri, kadang juga jadi masalah di Swiss?