Harian Israel Haaretz menerbitkan laporan mengejutkan pada Senin, 13 Juli 2026: badan intelijen Mossad disebut telah merekrut mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad sebagai aset rahasia, dengan target menjadikannya pemimpin negara itu apabila operasi penggulingan pemerintahan Republik Islam berhasil dijalankan.
Laporan itu disusun berdasarkan keterangan lebih dari 30 sumber di lingkaran politik, pertahanan, diplomatik, dan asing. Pendekatan Mossad terhadap Ahmadinejad, menurut Haaretz, mulai dilakukan sejak 2022, ketika badan intelijen Israel mendeteksi pergeseran sikap dari tokoh yang selama dua periode kepresidenannya (2005-2013) dikenal gemar melontarkan retorika keras terhadap Israel. Mossad mencatat Ahmadinejad mulai meyakini Iran tidak bisa terus bertahan di bawah tekanan sanksi internasional, dan bahwa program nuklir Teheran kini lebih banyak menjadi beban ketimbang aset strategis.
Pandangan semacam itu tidak muncul dari ruang kosong. Setelah lengser, Ahmadinejad memang beberapa kali tampil sebagai pengkritik rezim, menuding pejabat tinggi di bawah Ayatollah Ali Khamenei melakukan korupsi dan salah urus negara. Perubahan postur inilah yang rupanya menarik perhatian Tel Aviv.
Operasi ini, menurut laporan yang sama, terus berjalan bahkan setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Kepala Mossad saat itu, David Barnea, diklaim mengawasi langsung perkembangan misi, sampai-sampai pernah melewatkan rapat konsultasi keamanan bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu demi memantau pergerakan yang melibatkan Ahmadinejad. Sinyal betapa serius operasi ini diperlakukan.
Puncaknya tiba di awal 2026. Ahmadinejad disebut telah naik status menjadi salah satu aset paling berharga Israel, lalu dipilih untuk memimpin Iran apabila operasi berkode "Operation Puss in Boots" sukses dieksekusi. Nama yang tidak biasa untuk misi berbobot tinggi. Tapi ambisinya brutal: menggulingkan pemerintahan Republik Islam, menghentikan program nuklir, dan membentuk kepemimpinan baru yang lebih selaras dengan kepentingan Israel.
Rencana teknisnya, kalau data ini bisa dipercaya, cukup elaborate. Mencakup kampanye pengaruh di dalam Iran, persenjataan dan pelatihan pasukan Kurdi di Irak, mobilisasi kelompok minoritas, rekrutmen kolaborator, hingga pembukaan koridor darat bagi pergerakan milisi. Bukan operasi intelijen konvensional, ini lebih menyerupai cetak biru pergantian rezim.
Namun rencana itu memicu perdebatan sengit di kalangan petinggi militer dan intelijen Israel. Tiga hari sebelum jadwal eksekusi, Kepala Staf IDF Eyal Zamir memerintahkan penghentian seluruh operasi. Netanyahu, menurut laporan yang sama, memilih tetap melanjutkan. Hasilnya: operasi gagal total bahkan sebelum pasukan Kurdi melepaskan satu tembakan pun.
Gagal total. Sebelum peluru pertama meluncur.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Ahmadinejad, otoritas Iran, maupun pemerintah Israel. Ketiadaan respons itu sendiri, di panggung intelijen seperti ini, bukan berarti penyangkalan.