SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Moskow Ulurkan Tangan Lagi, tapi Syaratnya: Barat...

Internasional

Moskow Ulurkan Tangan Lagi, tapi Syaratnya: Barat Minggir Dulu

Moskow menyatakan siap melanjutkan negosiasi damai dengan Ukraina dari titik terakhir pembicaraan, seraya mengingatkan bahwa kemauan politik Barat jadi kunci penyelesaian konflik.

Rusia siap lanjutkan pembicaraan damai dengan Ukraina - ANTARA News Gorontalo

Tiga putaran bicara langsung di Istanbul sepanjang 2025 sudah menghasilkan beberapa hal konkret: pertukaran tahanan, serah terima jasad tentara Ukraina yang gugur, hingga draf memorandum penyelesaian konflik. Setelah itu, meja negosiasi kembali sepi. Kini Moskow bergerak lagi.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Galuzin menegaskan negosiasi bisa dimulai persis dari titik terakhir dialog kedua pihak terhenti. "Kami siap melanjutkan pembicaraan tepat dari titik di mana pembicaraan tersebut terhenti. Namun, ini membutuhkan kemauan politik tidak hanya dari Kiev tetapi juga dari para pendukung mereka Negara Barat, yang menjadi pihak paling diuntungkan dari krisis ini," kata Galuzin kepada RIA Novosti.

Bukan sinyal tunggal dari Kremlin. Sebelumnya, Presiden Vladimir Putin menyampaikan hal serupa dalam rapat bersama anggota pemerintah: Rusia siap melanjutkan pembicaraan berdasarkan kerangka kesepakatan Istanbul 2022. Kerangka itulah yang menjadi blueprint awal sebelum negosiasi kolaps dan perang kembali membara.

Yang bergeser dari framing Moskow kali ini bukan soal syarat teknis gencatan senjata atau batas wilayah. Sasarannya langsung: Barat. Rusia, agaknya, sedang bermain di dua papan sekaligus, menunjukkan itikad baik di panggung diplomatik, sembari menekan Kiev agar tak terlalu bersandar pada Washington dan Brussel. Kalau data diplomatik ini bisa dipercaya, ada pergeseran taktik yang cukup signifikan.

Pertanyaannya, apakah sinyal ini akan ditangkap? Ukraina sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi, dan sikap negara-negara Barat masih terbaca hati-hati. Tapi hasil nyata dari Istanbul 2025, sekecil apa pun, membuktikan satu hal: komunikasi teknis antara dua pihak yang masih berperang ini ternyata masih bisa berjalan. Itu bukan hal sepele.