SABTU, 10 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Mojtaba Khamenei Pimpin Iran dari Ranjang Rumah Sa...

Internasional

Mojtaba Khamenei Pimpin Iran dari Ranjang Rumah Sakit, Intelijen AS Sebut Kondisinya Kritis

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dilaporkan dalam kondisi kritis dengan patah kaki dan luka di wajah akibat serangan AS-Israel, namun tak pernah sekalipun muncul di hadapan publik sejak dilantik.

Sejak resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 9 Maret, Mojtaba Khamenei belum sekali pun muncul langsung di depan publik. Bahkan saat para pejabat dan rakyatnya menyampaikan sumpah setia, kursi itu kosong. Absensi yang, bagi banyak pengamat, sudah cukup bicara sendiri.

Kini ada penjelasannya.

Memo diplomatik yang dikutip The Times, bersumber dari intelijen Amerika Serikat, menyebut Mojtaba saat ini dalam kondisi kritis dan tengah dirawat di Kota Qom. Cederanya terbilang gamblang: patah kaki, memar di mata kiri, luka robek di bagian wajah. Semuanya sudah diderita sejak hari pertama serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari, bahkan sebelum dia resmi naik ke tampuk kepemimpinan.

Bukan cuma dokumen intelijen. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sudah menyinggung soal ini di konferensi pers. "Ada kemungkinan yang disebut pemimpin tertinggi baru itu sudah terluka," ujarnya. Pada 26 Maret, Presiden Donald Trump ikut angkat bicara dengan nada yang terasa setengah mengejek: "Saya rasa dia terluka, tapi masih hidup dalam kondisi tertentu."

Sempat beredar kabar Mojtaba dibawa ke Rusia untuk operasi, alasannya keamanan. Kedutaan Besar Iran di Moskow langsung membantah. Tehran sendiri bermain di wilayah abu-abu antara pengakuan dan penyangkalan. Menteri Luar Negeri Iran, di akhir Maret, menyatakan tidak ada masalah dengan pemimpin tertinggi baru dan bahwa dia masih menjalankan tugas sesuai konstitusi. Setidaknya itu versi resmi yang mereka pegang.

Yang beredar memang pernyataan-pernyataan tertulis. Tapi semuanya dibacakan presenter media pemerintah, atau diunggah di akun media sosialnya. Tanpa video. Tanpa penampilan langsung. Nihil.

Pernyataan perdana Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi keluar pada 12 Maret, nadanya keras. "Kami akan membalas darah para martir kami," begitu bunyinya. Iran lantas melancarkan serangan balasan ke aset militer AS di kawasan Teluk dan ke wilayah Israel. Mesin perang tetap berputar, terlepas dari kondisi sang pemimpin yang masih jadi tanda tanya besar.

Pertanyaannya, siapa sebetulnya pria ini? Mojtaba lahir di Mashhad, salah satu dari enam anak Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan AS-Israel di hari yang sama. Sosoknya dikenal sangat tertutup, bahkan di forum resmi sekalipun. Sepanjang karier politiknya, dia lebih banyak bergerak dari balik layar, termasuk di kantor sang ayah.

Kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berakar dari pengabdiannya di unit tempur selama perang Iran-Irak, 1980-1988. Para pengkritik juga sudah lama menuding keterlibatannya dalam penindasan demonstrasi pasca-pemilihan 2009. Di ranah keagamaan, Mojtaba baru mencapai tingkat Hujjat al-Islam, satu tingkat di bawah Ayatollah, gelar yang disandang sang ayah dan pemimpin revolusi Ruhollah Khomeini. Ulama kelas menengah yang kini duduk di puncak negara.

Soal kekayaan? Tidak sederhana. Laporan intelijen Barat menyebut dia mengantongi aset lebih dari US$100 juta, sebagian mengalir dari penjualan minyak yang diarahkan ke properti mewah di Inggris, hotel di Eropa, dan aset di Dubai lewat perusahaan cangkang di negara-negara suaka pajak. Kementerian Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepadanya pada 2019, jauh sebelum dia mewarisi kursi kepemimpinan. "[Khamenei] telah mendelegasikan sebagian tanggung jawab kepemimpinannya kepada putranya, yang bekerja sangat dekat dengan aparat keamanan Iran," begitu pernyataan resmi Kemenkeu AS kala itu.

Masif. Dan itu belum pertanyaan terbesarnya.

Kalau Mojtaba benar-benar tak sadarkan diri, siapa yang sesungguhnya memegang kendali atas Iran dan keputusan-keputusan militernya? Negara dalam kondisi perang, dipimpin seseorang yang kondisi fisiknya sendiri masih gelap. Belum ada preseden modern untuk situasi seperti ini, tidak di kawasan ini, dan tidak dalam skala konflik yang sedang berjalan. Agaknya, itulah yang paling menghantui banyak pihak sekarang.