SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Mojtaba Khamenei dan Pemakaman Sang Ayah: Akankah...

Internasional

Mojtaba Khamenei dan Pemakaman Sang Ayah: Akankah Pemimpin Baru Iran Akhirnya Menampakkan Diri?

Iran mempersiapkan pemakaman kenegaraan Ali Khamenei yang dijanjikan berlangsung megah, sementara semua mata tertuju pada satu pertanyaan: apakah Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi baru yang belum pernah terlihat sejak terluka, akan hadir secara fisik untuk pertama kalinya?

Months after 'martyrdom', Iran signals plans for Khamenei's funeral

Empat bulan lebih Iran menunggu momen ini. Pemakaman kenegaraan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin yang berkuasa selama beberapa dekade sebelum tewas dalam serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari, dijadwalkan dimulai di Teheran pada 4 Juli. Prosesinya panjang: dari Teheran ke Qom, kunjungan ke tempat-tempat suci di Irak, lalu pemakaman akhir di Mashhad pada 9 Juli. Para pejabat menyebutnya pemakaman terbesar abad ini, dengan mobilisasi sekitar 20 juta pelayat dan kehadiran puluhan delegasi asing.

Tapi bukan soal prosesi itu yang paling banyak diperbincangkan. Satu pertanyaan yang menggantung jauh lebih berat dari semua itu: akankah Mojtaba Khamenei, 56 tahun, akhirnya muncul?

Mojtaba adalah putra Ali sekaligus Pemimpin Tertinggi baru Iran, diangkat tak lama setelah kematian sang ayah. Ketika serangan udara itu terjadi, ia berada di kompleks pemimpin tertinggi di pusat Teheran, terluka parah, termasuk cacat wajah yang serius dan luka di kaki. Sejak hari itu, ia raib dari layar publik. Tidak ada penampilan langsung, tidak ada video, bahkan tidak ada rekaman audio. Setiap pernyataan yang dikaitkan dengan namanya dibacakan oleh pembawa berita televisi pemerintah atau diunggah ke situs media negara.

Pola komunikasi itu agaknya disengaja. Pesan-pesan Mojtaba dikalibrasi dengan hati-hati: menekankan kesinambungan, memproyeksikan keteguhan, menjaga stabilitas saat perang masih bergolak. Dalam pernyataan pertamanya pada pertengahan Maret, ia berjanji terus menekan musuh-musuh Iran, menegaskan Teheran "tidak menginginkan perang" namun "tidak akan melepaskan hak-hak yang sah", termasuk kontrol atas Selat Hormuz. April, nada yang sama terulang, kali ini dengan framing bahwa pengelolaan Selat Hormuz akan masuk "fase baru" dan seluruh front perlawanan dipandang sebagai "entitas yang bersatu".

Pernyataan terbarunya, pekan lalu, memerintahkan lembaga peradilan Iran mengejar pertanggungjawaban atas kejahatan perang selama konflik Juni 2025 dan serangan Februari. Ia menyoroti pembunuhan anak-anak di Minab dan Lamerd serta serangan terhadap fasilitas medis. "Para pelaku kejahatan ini harus ditangkap dan dimintai pertanggungjawabannya," demikian kutipannya, dibacakan seperti biasa oleh orang lain. Seperti biasa.

Para pejabat berulang kali meyakinkan publik bahwa Mojtaba masih tajam secara mental, terlibat dalam keputusan-keputusan strategis lewat tautan audio, dan sedang dalam masa pemulihan. Beberapa laporan bahkan menyebut ia mulai mengambil peran lebih aktif di balik layar seiring kemajuan negosiasi gencatan senjata dengan AS. Tapi klaim itu belum disertai satu pun bukti visual. Satu pun.

Ketidakhadiran yang berkepanjangan ini, bisa jadi, bukan sekadar soal kondisi fisik. Dalam politik Iran, penampilan publik pemimpin tertinggi punya bobot simbolik yang tidak bisa digantikan pernyataan tertulis mana pun. Ali Khamenei sendiri selalu hadir dalam peringatan besar untuk pendahulunya, Ruhollah Khomeini, sebagai cara mendemonstrasikan kekuatan dan legitimasi. Kini gilirannya dibalik: apakah Mojtaba akan berdiri di hadapan bangsa, dan dunia, di depan peti mati ayahnya?

Pemerintah Iran belum memberikan indikasi yang jelas. Kalau Mojtaba akhirnya muncul, momen itu akan menjadi pernyataan politik yang jauh lebih kuat dari ratusan teks yang sudah beredar. Kalau tidak, pertanyaan soal kondisi dan kapasitasnya sebagai pemimpin tertinggi akan terus menggantung, entah kebetulan atau tidak, tepat saat Iran paling butuh wajah yang bisa dilihat.