RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Mogadishu Membara: Ketika Perpanjangan Jabatan Mem...

Internasional

Mogadishu Membara: Ketika Perpanjangan Jabatan Memicu Bedil

Pasukan pemerintah Somalia dan milisi oposisi saling tembak sepanjang malam di ibu kota Mogadishu, dipicu oleh keputusan Presiden Hassan Sheikh Mohamud memperpanjang masa jabatannya melampaui batas konstitusional.

Somali troops move to secure Mogadishu as rebels pull out | Somalia | The Guardian

Sepanjang malam Rabu hingga Kamis (4/6/2026) dini hari, suara tembakan dan ledakan mortir membelah keheningan Mogadishu. Ribuan pasukan pemerintah Somalia dikerahkan ke distrik Howlwadag dan Abdiasis, dua kawasan padat penduduk di ibu kota, untuk berhadapan dengan milisi yang berpihak kepada tokoh-tokoh oposisi. Akarnya satu: keputusan Presiden Hassan Sheikh Mohamud yang memilih bertahan di kursi kekuasaan meski masa jabatannya secara konstitusional sudah berakhir.

Baku tembak pertama dilaporkan pecah sekitar pukul 17.00 waktu setempat pada Rabu, dan tidak berhenti hingga fajar. Ahmed Ismail, salah satu penduduk setempat, menuturkan kepada Reuters bahwa sebuah proyektil mortir menghantam rumah tetangganya dan melukai seorang ibu. "Peluru mortir mendarat di rumah tetangga saya, melukai seorang ibu. Sebuah rumah besar di dekat kami juga terbakar," ungkapnya. Ia kemudian menambahkan: "Di depan rumah kami, saya melihat seorang pria terluka dan digendong. Warga sipil terus berhamburan menyelamatkan diri, saya melihat mereka berjalan sambil menggendong anak-anak dan mengutuk kedua belah pihak yang bertikai." Warga lain, Mohamud Farah, melaporkan milisi pro-oposisi berhasil membakar setidaknya dua kendaraan lapis baja milik pasukan pemerintah.

Krisis ini tidak datang tiba-tiba. Parlemen Somalia pada Maret lalu meloloskan amandemen konstitusi yang memberi lampu hijau bagi Mohamud untuk memperpanjang masa jabatan selama satu tahun sekaligus menunda pemilihan umum. Langkah yang membuat banyak pihak mengernyitkan dahi. Sejak saat itu ketegangan politik terus menumpuk, dan demonstrasi besar menentang keputusan itu memang sudah direncanakan untuk digelar tepat pada Kamis. Milisi, agaknya, tidak sabar menunggu.

Nama-nama besar pun terseret. Mantan Presiden Sharif Sheikh Ahmed, yang pernah memimpin Somalia dari 2009 hingga 2012, menuduh pasukan pemerintah secara langsung menyerang kediamannya. Ia menyebut amandemen konstitusi itu ilegal. "Pasukan pemerintah mengepung dan menyerang rumah saya. Saya tidak pernah takut dengan serangan agresif mereka, saya akan melawan balik," tegasnya dalam video yang diunggah di Facebook. Dari platform X, mantan Perdana Menteri Hassan Ali Khaire melontarkan tuduhan lebih serius: pasukan pemerintah mengerahkan senjata antitank dan drone di kawasan permukiman padat, dalam serangan yang klaimnya secara spesifik ditujukan untuk membunuh dirinya dan Ahmed. "Serangan militer berkelanjutan dan membabi buta," tulisnya.

Reaksi internasional tidak butuh waktu lama. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Mogadishu menyebut aksi kekerasan ini "tidak bertanggung jawab" dan "sembrono" lewat unggahan di X, seraya menegaskan bahwa para pemimpin Somalia dari semua pihak berkewajiban menjaga stabilitas dan menyelesaikan perbedaan lewat jalur damai. London pun senada, mendesak semua pihak menahan diri dan membuka dialog. Kecaman datang, tapi peluru sudah terlanjur meluncur.

Bagi Somalia, ini bukan cerita baru. Sejak tumbangnya rezim Mohamed Siad Barre pada 1991, negeri di Tanduk Afrika ini nyaris tidak pernah benar-benar damai, dihantui konflik antarklan, pemerintahan pusat yang rapuh, dan ancaman kelompok militan Al-Shabaab yang sudah bercokol hampir dua dekade. Pertanyaannya kini bukan sekadar soal siapa yang menang malam itu. Apakah Mohamud sanggup meredam bara yang sebagian besar ia nyalakan sendiri?