Minyak dari Nigeria sudah jalan. Bukan sekadar rencana, bukan sekadar pernyataan diplomatik.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman memastikan pengiriman minyak mentah dari Nigeria ke Indonesia telah berjalan dan sebagian kargo sudah tiba di tanah air. "Sudah ada terealisasi. Dari Nigeria ya sudah jalan. Sudah ada, makanya saya bilang saya enggak bicara volume ya," ujar Laode saat ditemui di Kementerian ESDM, Rabu (13/5). Ia sengaja tidak menyebut angka volume karena, kata dia, bukan itu yang ingin ditonjolkan saat ini.
Konteks di baliknya jelas. Penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memaksa Jakarta bergerak cepat. Selat itu bukan jalur biasa: sekitar 20% pengiriman minyak dunia melewatinya, dan hampir 80% perdagangan minyak serta LNG dari Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab bergantung pada jalur tersebut. Sebelum krisis ini pecah, sekitar 20% impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah. Angka yang tidak kecil untuk dicarikan penggantinya dalam waktu singkat.
Selain Nigeria, Angola juga masuk daftar sumber baru. Volumenya memang tidak besar, diakui Laode sendiri, tapi cukup membantu menambal kebutuhan domestik. "Kalau yang lain-lain kecil-kecil pasti di negara-negara lain ada juga, di Angola kayak gitu," jelasnya. Prinsipnya sederhana: sebanyak mungkin jalur pasokan yang tidak melewati Selat Hormuz.
Gambar besarnya lebih masif. Pemerintah sudah mengantongi komitmen 150 juta barel minyak mentah dari Rusia, hasil negosiasi langsung Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev di Moskow pada April lalu. Kontrak sudah diteken. Yang tersisa hanya pembahasan teknis pengiriman, dan Bahlil optimistis itu beres dalam satu-dua pekan. "Secara deal sudah. Kontrak sudah. Sekarang bicara tentang teknik pengirimannya dan mungkin satu dua minggu ini sudah bisa, ya," tegasnya.
Bukan main skala kerja yang dibutuhkan untuk mengelola ini semua. Laode bahkan mengutip pernyataan Bahlil soal rutinitas begadang setiap malam demi memastikan stok aman. Bisa jadi hiperbola. Tapi sinyal bahwa tekanan di level pengambil kebijakan memang nyata.
Peta impor minyak Indonesia kini melebar dari yang sebelumnya terkonsentrasi di Timur Tengah menjadi mencakup Nigeria, Angola, Brasil, Amerika Serikat, dan Rusia. Semuanya punya satu kesamaan: rute yang tidak bergantung pada selat yang kini tengah diperebutkan itu.
Pertanyaannya bukan lagi soal "dari mana minyaknya". Berapa lama ketegangan di Hormuz berlangsung, dan apakah diversifikasi kilat ini cukup menjaga harga energi domestik tetap stabil saat tagihan impor dari penjuru dunia mulai berdatangan serentak, agaknya itu yang lebih menentukan.