KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Militer Israel Retak dari Dalam: Krisis Personel,...

Internasional

Militer Israel Retak dari Dalam: Krisis Personel, Tank, dan Identitas Nasional

Dua analis militer Israel secara bersamaan memperingatkan keruntuhan institusi pertahanan negara itu, bukan dari serangan luar, melainkan dari dalam sistem itu sendiri.

Israel's military chief has warned lawmakers that the army's reserve forces could face collapse within months unless the government urgently passes legislation to expand conscription and extend mili

Peringatan itu tidak datang dari musuh Israel. Ia datang dari jenderal dan analis militer Israel sendiri, dan bunyinya keras sekali.

Dalam kurang dari 48 jam, dua suara berbeda dari dalam ekosistem pertahanan Israel membunyikan alarm yang nyaris identik: militer Israel sedang runtuh, bukan karena serangan frontal dari luar, melainkan karena krisis struktural yang sudah lama membusuk dari dalam.

Avi Ashkenazi, analis militer Israel, menulis dengan gamblang bahwa Israel ibarat bangunan yang tampak kokoh di luar tetapi sesungguhnya sudah berada di ambang kehancuran. Fondasi yang retak itu, kata Ashkenazi, bukan semata soal persenjataan atau anggaran. Ini soal kontrak sosial yang sudah tidak berlaku lagi. Sejak David Ben-Gurion menyatukan para imigran Yahudi melalui satu angkatan bersenjata, militer menjadi instrumen pembentuk identitas nasional Israel. Wajib militer bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan ritus kedewasaan yang mengikat masyarakat. Mereka yang tidak ikut dinas dulu merasa malu di depan publik.

Kini gambaran itu sudah terbalik. Sekitar 18 persen penduduk Israel, sebagian besar dari komunitas Haredi, justru menuntut pembebasan dari wajib militer. Perdebatan yang dulu hanya berkutat soal kapan dan di mana seseorang harus bertugas kini bergeser ke pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah wajib militer masih relevan? Ashkenazi menyebut kebijakan kabinet yang mengakomodasi tuntutan tersebut sebagai akselerator disintegrasi militer. Benih krisis ini, kalau data sejarah bisa dipercaya, sudah ditanam sejak Ben-Gurion gagal membentuk konstitusi yang utuh dan memberikan pengecualian kepada komunitas Haredi di dekade pertama Israel berdiri.

Yang membuat analisis Ashkenazi tidak bisa diabaikan begitu saja adalah konteksnya yang sangat konkret. Sementara ia menulis soal keruntuhan struktural jangka panjang, laporan dari Army Radio Israel mengungkap kondisi yang jauh lebih darurat hari ini.

Brigade dan batalion pasukan cadangan dilaporkan beroperasi jauh di bawah kekuatan ideal. Seorang komandan cadangan yang identitasnya dirahasiakan menyatakan dengan tegas: "Unit-unit pasukan cadangan saat ini kosong. Sebuah batalion bukan lagi batalion yang utuh, dan sebuah kompi tidak lagi benar-benar berfungsi sebagai sebuah kompi." Ia menambahkan bahwa gambaran yang diterima publik dan para pengambil kebijakan, bahwa brigade-brigade cadangan di Lebanon berada dalam kondisi penuh, tidak mencerminkan kenyataan di lapangan.

Salah satu brigade lapis baja cadangan yang dikerahkan ke Lebanon kekurangan personel, tank, dan kendaraan tempur. Banyak tank rusak dalam pertempuran di Lebanon selatan dan masih menjalani perbaikan, memaksa sejumlah kompi lapis baja beroperasi dengan perlengkapan yang amat terbatas. Ada satu kompi yang baru menyelesaikan penugasan di Lebanon dengan hanya menyisakan seorang perwira, tanpa wakil komandan dan tanpa bintara senior. Rantai komandonya, secara efektif, sudah tidak berfungsi. Kolaps operasional, bukan sekadar kekurangan headcount.

Tekanan anggaran memperparah semuanya. Defisit anggaran pertahanan Israel dilaporkan sudah mencapai miliaran dolar, memicu perselisihan antara militer dan Kementerian Keuangan. Militer menuntut tambahan anggaran besar untuk mempertahankan operasi di berbagai front, sementara Kementerian Keuangan mendorong pengurangan ketergantungan pada pasukan cadangan dan pemotongan belanja operasional. Dua kepentingan yang saling membentur, di tengah perang yang tidak kunjung selesai.

Bahwa Kepala Staf Angkatan Bersenjata Eyal Zamir sampai harus mengirim surat peringatan resmi kepada Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan mengenai beban berat militer, menurut Ashkenazi, hanyalah gejala permukaan. Akar persoalannya jauh lebih dalam dari sekadar surat-menyurat birokrasi.

Jenderal Yitzhak Brik, mantan Komisioner Pengaduan Militer dan salah satu pengkritik paling vokal kebijakan pertahanan Israel, sudah menuliskan kekhawatirannya di harian Maariv dalam artikel berjudul Hari Kiamat. Brik memakai analogi yang menohok: masyarakat Israel seperti penumpang Titanic yang tetap makan, minum, dan menari sementara gunung es sudah ada tepat di depan mereka. "Tidak ada keajaiban yang akan menyelamatkan Israel," tulisnya.

Tiga suara dari dalam. Satu kesimpulan yang sama. Entah kebetulan atau tidak, peringatan-peringatan ini muncul berdekatan dengan nada yang semakin panik. Pertanyaannya bukan lagi apakah ada krisis, melainkan seberapa banyak waktu yang tersisa sebelum krisis itu tidak bisa dikelola lagi.