KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Militer Israel di Ambang Krisis: Kehabisan Tentara...

Internasional

Militer Israel di Ambang Krisis: Kehabisan Tentara, Tank, dan Uang

Radio Angkatan Darat Israel mengakui kondisi kritis di internal militer: unit cadangan nyaris kosong, armada tank berkurang drastis, dan tekanan keuangan memaksa ribuan pasukan cadangan dipulangkan.

Pengakuan itu datang langsung dari corong resmi militer Israel sendiri. Radio Angkatan Darat Israel pada Selasa (14/7/2026) membongkar kondisi internal yang selama ini jarang terekspos ke publik: pasukan cadangan nyaris kosong, armada tank menyusut drastis, dan rantai komando di beberapa unit hampir tidak berfungsi.

Seorang komandan pasukan cadangan berterus terang soal jurang besar antara narasi publik dan realitas di medan. "Unit cadangan saat ini kosong. Sebuah batalion bukan lagi batalion yang penuh, dan sebuah kompi bukanlah kompi yang sebenarnya," ungkapnya, dikutip dari Middle East Monitor. Klaim yang selama ini beredar di media tentang brigade-brigade penuh yang dikirim ke Lebanon, kata sang komandan, jauh dari kenyataan.

Krisis ini bukan datang tiba-tiba. Sejak Oktober 2023, Israel terpaksa memecah konsentrasi tempurnya di setidaknya lima front sekaligus: Gaza, Lebanon, Iran, kelompok Houthi di Yaman, dan Suriah. Gesekan berkelanjutan di banyak titik itulah yang menggerus kesiapan tempur secara perlahan.

Sisi lapis baja menjadi titik paling kritis. Banyak tank Israel rusak parah dalam pertempuran sengit dan terpaksa dinonaktifkan, membuat kompi lapis baja cadangan beroperasi dengan jumlah kendaraan tempur jauh di bawah standar. Dampaknya nyata di lapangan: sebuah kompi cadangan yang baru menyelesaikan misi di Lebanon pulang dalam kondisi mengenaskan, menyisakan hanya satu orang perwira. Komandan kompi dibebaskan dari tugas, posisi bintara senior kosong, unit tersebut berjalan tanpa komando yang koheren. Runtuh, praktis.

Belum selesai di situ. Tekanan keuangan turut memperparah situasi. Israel Hayom sebelumnya melaporkan rencana militer memulangkan ribuan anggota pasukan cadangan pada akhir Juli ini, bukan karena situasi membaik, melainkan karena anggaran tidak lagi sanggup menanggung biaya operasional yang terus membengkak. Perang berkepanjangan di banyak front telah menguras kas pertahanan hingga berujung pada defisit anggaran negara yang parah, kalau angka-angka yang beredar itu bisa dipercaya.

Pertanyaannya sekarang: seberapa lama Israel bisa mempertahankan intensitas operasi militer dengan sumber daya yang kian menipis di hampir semua lini?