KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Meteor Pecah di Langit Boston, Ledakan Setara 300...

Internasional

Meteor Pecah di Langit Boston, Ledakan Setara 300 Ton TNT Gejutkan New England

NASA mengonfirmasi meteor berdiameter hampir satu meter pecah di ketinggian 64 kilometer di atas Massachusetts pada Sabtu sore, melepaskan energi setara 300 ton TNT dan memicu kepanikan dari Boston hingga Montreal.

Ledakan Meteor Setara 300 Ton TNT Guncang Langit AS

Sabtu sore, 30 Mei 2026, sekitar pukul 14.06 waktu setempat, langit di atas perbatasan Massachusetts dan New Hampshire menyimpan sesuatu yang tidak biasa. Sebuah meteor berdiameter hampir 0,9 meter menerobos atmosfer dengan kecepatan sekitar 120.700 kilometer per jam sebelum hancur berkeping-keping di ketinggian sekitar 64 kilometer di atas permukaan Bumi. NASA memperkirakan energi yang terlepas saat itu setara dengan 300 ton bahan peledak TNT.

Dentuman sonik ganda yang dihasilkan terdengar dari Delaware hingga Montreal, Kanada. Di Medfield, Massachusetts, sekitar 64 kilometer barat Boston, Rich Sauro sedang beristirahat di kamar tidurnya di lantai dua ketika bunyi keras itu tiba-tiba mengguncang rumahnya. "Saya kira sebuah mobil menabrak rumah saya," katanya. Sauro langsung menelepon polisi, lalu menyisir lingkungan sekitar bersama putranya. Tidak ada yang mencurigakan.

Bukan cuma dia. Ratusan laporan membanjiri kepolisian Boston dari berbagai penjuru negara bagian. Petugas dikerahkan ke sejumlah lokasi, kantor pemadam kebakaran kewalahan menerima aduan, dan U.S. Geological Survey (USGS) sampai membuka laman khusus "Did you feel it?" karena banjirnya laporan getaran. Juru bicara USGS Steve Sobie kemudian menegaskan tidak ada aktivitas tektonik yang terekam seismograf. Guncangan yang dirasakan warga murni berasal dari gelombang kejut udara.

Sebelum penjelasan resmi turun, media sosial sudah keburu panas. Serangan nuklir, invasi alien, segala macam spekulasi beredar di kalangan warga Boston dan Rhode Island.

NASA akhirnya mengonfirmasi kejadian ini melalui unggahan di platform X, berlandaskan pengamatan satelit GOES-19 milik NOAA serta laporan saksi mata yang dihimpun American Meteor Society (AMS). Juru bicara NASA Allard Beutel memastikan objek itu bahan alami, bukan serpihan satelit atau sampah antariksa.

Robert Lunsford dari AMS menjelaskan bahwa fenomena ini pada dasarnya menyerupai bintang jatuh yang terjadi di siang hari. Langit di atas Boston kebetulan berawan saat kejadian, sehingga sebagian warga tidak bisa menyaksikan bola api secara langsung. Itu yang, agaknya, membuat kepanikan lebih besar dari biasanya. Soal kemungkinan meteorit mencapai permukaan Bumi, Lunsford tidak terlalu yakin. "Kami memerlukan lebih banyak informasi mengenai lintasan, kecepatan, dan aspek lainnya untuk mengetahui secara pasti apakah meteor itu mencapai permukaan tanah. Namun, jika tidak terbakar habis, kemungkinan besar meteor itu jatuh ke laut," ujarnya. "Sebagian besar meteor memang terbakar habis sebelum mencapai permukaan Bumi."

Konteks yang membuat peristiwa ini terasa lebih berat: dua hari sebelumnya, pada 28 Mei, warga South Carolina, sekitar 1.600 kilometer di selatan Boston, juga dikejutkan ledakan keras dari langit sekitar pukul 17.30. Ratusan laporan serupa masuk. Ada yang menyebutnya mirip ledakan bom, ada yang merasakan getaran di dalam ruangan. NASA memastikan kejadian South Carolina bukan disebabkan meteor, meski tidak sepenuhnya menutup kemungkinan puing antariksa sebagai penyebab.

Dua insiden dalam sepekan, dua lokasi berbeda. Bagi Carl W. Hergenrother, CEO AMS, ini bukan hal yang harus mengejutkan siapa pun. Ledakan keras di langit terjadi beberapa kali setiap tahun di seluruh Amerika Serikat. Era media sosial hanya membuat setiap kejadian terdokumentasi lebih gamblang dan menyebar jauh lebih cepat. Hergenrother juga meluruskan satu miskonsepsi yang kerap muncul soal meteorit. "Dalam film, meteor jatuh ke permukaan Bumi dan menciptakan kawah besar yang berasap. Dalam kenyataan, kita hanya akan melihat batuan hitam muncul di tempat yang sebelumnya tidak ada," katanya.

Langit di atas New England sudah kembali tenang. Pertanyaan soal ada tidaknya serpihan yang berhasil mencapai tanah atau laut? Masih menggantung, menunggu analisis dari data yang terus dikumpulkan.