Pukul 14.06 waktu setempat, Sabtu (30/5), langit di atas Massachusetts timur laut dan New Hampshire tenggara tiba-tiba memancarkan cahaya menyilaukan, disusul dentuman keras yang membuat dinding rumah bergetar.
NASA mengonfirmasi bola api itu bukan sampah antariksa atau satelit yang jatuh, melainkan meteor alami. Benda angkasa tersebut melesat masuk atmosfer dengan kecepatan 120.700 kilometer per jam, sebelum terpecah pada ketinggian sekitar 50-64 kilometer di atas permukaan Bumi. Energi yang dilepaskan dalam hitungan detik itu setara antara 230 hingga 300 ton TNT, cukup untuk memicu gelombang kejut sonik yang terdengar melintasi beberapa negara bagian di kawasan timur laut Amerika Serikat, bahkan sampai ke dua provinsi di Kanada.
"Bola api ini tidak terkait dengan hujan meteor aktif saat ini, tapi objek alami dan bukan sampah luar angkasa atau satelit yang masuk kembali ke Bumi," kata Jennifer Dooren, wakil kepala pemberitaan NASA, kepada AFP. Agaknya banyak warga yang sempat berpikiran lain. Linimasa media sosial kebanjiran laporan panik, guncangan diklaim cukup untuk menggetarkan rumah-rumah.
Ukurannya? Tidak mengesankan. Diameter sekitar 1,6 meter, massa sekitar 5,6 metrik ton. Tapi fisika tidak peduli dengan ukuran, dan gesekan atmosfer pada kecepatan lebih dari 120 ribu km per jam menghasilkan panas serta tekanan yang menghancurkan batu itu berkeping-keping. Sebagian puing dilaporkan berjatuhan di wilayah Cape Cod. Tidak ada korban luka, tidak ada kerusakan properti berarti.
Meteor sekecil ini nyaris mustahil dilacak saat masih di luar angkasa, baru ketahuan ketika sudah jadi pertunjukan cahaya di troposfer. Justru itulah yang membuatnya relatif jinak: terlalu kecil untuk bertahan utuh menembus atmosfer, habis terbakar sebelum sempat menyentuh tanah dengan energi penuh.
Ancaman sesungguhnya ada di kelas yang berbeda. Asteroid berdiameter lebih dari 140 meter, yang kerap dijuluki "pembunuh kota", punya potensi menembus atmosfer dan mendarat dengan kerusakan masif di kawasan padat penduduk. Ironisnya, benda-benda raksasa itulah yang justru lebih gampang dipantau. NASA saat ini memantau lebih dari 40.000 asteroid besar di sekitar Bumi, meski diperkirakan masih ada beberapa ribu yang belum ditemukan.
Insiden Sabtu lalu bukan satu-satunya dalam beberapa bulan terakhir. Pada 25 Mei, kamera merekam bola api hijau menyilaukan yang melintas tepat di atas latar Gunung Mayon yang sedang meletus di Filipina. Sebelumnya, 21 Maret, sepotong meteor seukuran peluru meriam menembus atap rumah keluarga di Texas tanpa menimbulkan korban jiwa. Beberapa hari sebelum itu, bola api selebar 1,8 meter meledak di atas Ohio. Bulan-bulan terakhir ini langit memang sedang ramai.
Sebagai pembanding: Chelyabinsk, 2013. Meteor seukuran rumah meledak di ketinggian 22,5 km di atas Rusia dengan kekuatan setara 440.000 ton TNT, menghancurkan jendela di area seluas 518 km persegi dan melukai lebih dari 1.600 orang. Yang terjadi di New England Sabtu lalu tidak ada apa-apanya secara skala. Tapi kalau data ini bisa dipercaya, frekuensinya meningkat, dan itu cukup sebagai pengingat bahwa langit tidak selalu kosong dan senyap.