KAMIS, 15 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Meteor Meledak di Boston, Kekuatannya Setara 300 T...

Internasional

Meteor Meledak di Boston, Kekuatannya Setara 300 Ton TNT

Sebuah meteor meledak di atmosfer wilayah Boston, Amerika Serikat, dengan kekuatan setara 300 ton TNT. Tidak ada korban, tapi ribuan warga sempat panik.

💥NASA confirms the supersonic boom felt and heard over Boston and Southern New England is from a bolide meteor exploding. The amount of energy released into the atmosphere from this is equivalent

Langit Boston bergetar. Siang hari waktu setempat, sebuah meteor meledak di ketinggian atmosfer di atas wilayah kota terbesar di New England itu, melepaskan energi yang oleh para peneliti diperkirakan setara dengan 300 ton bahan peledak TNT.

Dentuman keras yang menyertai ledakan menggetarkan jendela-jendela gedung dan memicu kepanikan. Ribuan warga yang mendengar suara menggelegar itu berhamburan keluar, menduga telah terjadi ledakan industri atau jatuhnya pesawat. Otoritas lokal bergerak cepat memberikan klarifikasi bahwa sumber suara bukan ancaman keamanan, melainkan bolide, istilah teknis untuk meteor yang meledak di atmosfer sebelum menyentuh permukaan Bumi.

Tidak ada laporan kerusakan fisik maupun korban jiwa. Kepanikan mereda setelah pernyataan resmi beredar, meski sejumlah warga masih mengalir ke media sosial untuk membagikan rekaman cahaya terang yang terlihat sesaat sebelum dentuman.

300 ton TNT. Angka yang susah dibayangkan. Sebagai konteks: bom konvensional terbesar dalam arsenal militer modern berkekuatan sekitar 10 ton TNT. Artinya, meteor Boston ini puluhan kali lebih dahsyat dari senjata paling berat yang lazim digunakan di medan perang. Bukan main.

Fenomena ini masuk kategori bolide besar dalam catatan astronomi AS beberapa tahun terakhir, meski masih jauh di bawah insiden Chelyabinsk, Rusia, pada 2013. Ketika itu, meteor meledak dengan kekuatan 500 kiloton TNT dan melukai lebih dari 1.500 orang akibat serpihan kaca yang beterbangan. Peristiwa Chelyabinsk hingga kini menjadi acuan standar ketika komunitas ilmiah membahas risiko bolide di kawasan padat penduduk.

Para astronom dan peneliti dari sejumlah institusi kini tengah menganalisis data seismik, infrasonik, dan rekaman visual untuk merekonstruksi trajektori serta memperkirakan ukuran dan komposisi batuan langit itu. Fragmen meteorit yang kemungkinan jatuh ke permukaan juga sedang diburu, baik untuk keperluan riset maupun dokumentasi ilmiah.

Satu hal yang kembali tersorot dari insiden ini: keterbatasan sistem deteksi yang ada. Meteoroid berukuran kecil hingga sedang praktis tidak terdeteksi sampai mereka benar-benar meledak. NASA memang menjalankan program pemantauan objek dekat Bumi lewat Planetary Defense Coordination Office, tapi fokusnya pada asteroid dan komet besar. Batu-batu yang mampu melepaskan energi ratusan ton TNT? Sebagian besar baru diketahui setelah kejadian. Kalau data ini bisa dipercaya, celah itu belum kemana-mana.

Sejak Tunguska 1908 hingga Chelyabinsk 2013, polanya selalu sama: terdeteksi setelah terjadi, bukan sebelumnya. Ledakan Boston, setidaknya, tidak merenggut korban. Pertanyaannya bukan apakah peristiwa serupa akan terjadi lagi, melainkan kapan dan di mana.