Tiga jam per bulan. Itu jatah yang diberikan Meta kepada pengguna gratis kacamata pintarnya untuk memakai Conversation Focus, fitur yang memperkuat suara lawan bicara di lingkungan bising. Kalau dihitung, setara dengan kira-kira enam menit per hari, cukup mungkin untuk obrolan singkat di warung kopi, tapi hampir pasti habis di tengah rapat panjang atau makan malam keluarga yang ramai.
Kebijakan ini diumumkan Meta lewat email ke para pemilik kacamata pintar Ray-Ban dan Oakley, bersamaan dengan peluncuran pembaruan perangkat lunak Version 26. Supaya tidak kehabisan kuota, pengguna harus berlangganan Meta One Premium seharga $19,99 per bulan, yang memberikan jatah 15 jam per bulan, atau sekitar 30 menit per hari. Ada juga tier entry-level Meta One di $7,99, tapi tier ini tidak mencakup tambahan menit untuk Conversation Focus sama sekali.
Yang membuat kebijakan ini menuai sorotan bukan soal harganya, melainkan sifat teknis dari fitur yang dibatasi. Conversation Focus bekerja menggunakan speaker terbuka, teknologi beamforming, dan pemrosesan spasial real-time yang seluruhnya berjalan di chip dalam kacamata. Tidak ada data yang dikirim ke server Meta. The Verge, yang pertama melaporkan batasan ini, sudah menguji: matikan Wi-Fi, matikan data seluler, aktifkan mode pesawat, fitur tetap berjalan. Artinya, Meta membatasi sebuah fitur yang sama sekali tidak menyentuh infrastruktur mereka, lalu meminta bayaran untuk memakainya lebih lama.
Penjelasan resmi belum ada. Meta sejauh ini hanya menyebut ini sebagai "rate limit" untuk fitur AI tertentu, sambil menegaskan bahwa pengguna tidak wajib berlangganan hanya untuk memakai kacamata. Dalih yang, agaknya, sulit ditelan begitu saja oleh pengguna yang sudah mengeluarkan ratusan dolar untuk perangkat kerasnya.
Konteks finansial di balik keputusan ini cukup gamblang. Meta baru saja mem-PHK sekitar 8.000 orang, sekitar 10 persen dari total tenaga kerja, sebagian besar untuk mengimbangi biaya investasi AI yang terus membengkak. Bersamaan dengan peluncuran kebijakan berlangganan ini, perusahaan juga menurunkan harga tiga model kacamata AI terbaru: Fury, Adventurer, dan Meta Glasses by Kylie, kolaborasi dengan selebriti Kylie Jenner. Fury dan Adventurer mulai dari $299, sementara Starfire rancangan Jenner dibanderol $399. Harga lebih murah di depan, biaya tambahan di belakang. Pola klasik subsidi silang.
Yang ironis, Conversation Focus bukan fitur AI. Pembaruan Version 26 justru membawa Muse Spark, model AI generasi terbaru Meta, tanpa paywall. Fitur Dynamic Photo, navigasi pejalan kaki, dukungan 14 bahasa baru termasuk Mandarin, Korea, Jepang, dan Arab, semuanya hadir tanpa batasan bulanan. Hanya Conversation Focus yang dikunci. Fitur aksesibilitas yang paling berguna bagi mereka dengan gangguan pendengaran ringan, justru yang dimonetisasi. Bukan main.
Bagi yang tidak ingin terikat ekosistem langganan Meta, ada beberapa alternatif. Even Realities G2 menawarkan fitur Conversate dengan transkripsi langsung tanpa biaya bulanan, meski butuh koneksi Bluetooth ke ponsel. Nuance Audio dari EssilorLuxottica punya fungsi serupa dan sudah mendapat izin FDA sebagai alat medis, dengan kemungkinan klaim ke asuransi kesehatan. Di ujung spektrum, XanderGlasses hadir dengan harga $4.999 sekali beli, tanpa biaya bulanan selamanya.
Pertanyaannya, kenapa justru fitur ini?
Pola yang terlihat dari Meta belakangan ini memang konsisten: uji batas, diamkan, lanjutkan kalau tidak ada resistensi besar. Sebelumnya, perusahaan sempat menyematkan kode peningkatan pengenalan wajah pada jutaan ponsel untuk kacamata ini, yang kemudian dihapus diam-diam setelah terungkap. Langkah Conversation Focus ini bisa jadi ujian berikutnya. Kalau data ini bisa dipercaya, sisa waktu yang tidak terpakai pun tidak diakumulasi ke bulan berikutnya, jadi tidak ada cara menabung kuota untuk bulan yang lebih sibuk.
Persaingan di segmen kacamata pintar sendiri semakin panas. Apple dilaporkan akan meluncurkan produk sejenis akhir tahun ini, diikuti Google dan Samsung. Meta agaknya berpacu melawan waktu untuk membangun model pendapatan berkelanjutan sebelum kompetitor masuk. Apakah cara ini justru membuka celah bagi pesaing untuk datang dengan proposisi yang lebih bersih? Setidaknya itu pertanyaan yang kini tengah dijawab pasar.