KAMIS, 24 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Mesir-Qatar Kompak Desak Washington dan Teheran Tu...

Internasional

Mesir-Qatar Kompak Desak Washington dan Teheran Turun dari Ego

Di tengah pecahnya bentrokan baru di Selat Hormuz, Mesir dan Qatar serempak meminta AS dan Iran mengedepankan akal sehat dan jalur diplomasi sebelum kawasan makin terbakar.

Kairo dan Doha bicara dengan nada yang sama pada Sabtu (9/5): cukup sudah.

Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty dan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Jassim Al-Thani, dalam percakapan telepon, mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk menunjukkan apa yang mereka sebut sebagai "tanggung jawab" dan "kearifan". Dua kata yang terdengar sederhana, tapi berat impikasinya ketika situasi di lapangan makin susah dibaca.

Pernyataan Kementerian Luar Negeri Mesir menegaskan bahwa keduanya mendorong agar penyelesaian perselisihan Washington-Teheran sepenuhnya ditempuh lewat diplomasi. Bukan gertakan. Bukan drone. Bukan rudal.

Konteksnya perlu dipahami dulu.

Pada 28 Februari lalu, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan ke wilayah Iran. Sekitar enam minggu kemudian, gencatan senjata berhasil dicapai pada 8 April, lalu disusul putaran perundingan panjang di Pakistan. Hasilnya? Nihil. Tidak ada kesepakatan yang lahir dari meja itu.

Pelajaran dari kegagalan itu rupanya belum cukup untuk mendinginkan suhu. Bentrokan baru dilaporkan kembali meletus di dalam dan sekitar Selat Hormuz, AS menyerang kapal-kapal serta wilayah pesisir Iran, sementara Teheran membalas dengan rudal dan drone yang menyasar kapal perusak Amerika.

Selat Hormuz. Jalur yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Pasar energi global, kalau data ini bisa dipercaya, sedang mengamati ini dengan napas tertahan.

Abdelatty dan Sheikh Mohammed menekankan bahwa keamanan dan stabilitas kawasan bergantung pada solusi politik, bukan kalkulasi militer. Mereka juga menyoroti pentingnya menjaga "sumber daya masyarakat di kawasan", framing yang terasa seperti peringatan halus bahwa perang adalah kemewahan yang tidak ada yang benar-benar mampu menanggungnya.

Tunggu. Ada em dash di paragraf itu, tapi ini justru satu-satunya tempat yang secara struktur butuh jeda tajam. Tetap dihapus dan diganti koma: keduanya menyoroti pentingnya menjaga "sumber daya masyarakat di kawasan", sebuah framing yang terasa seperti peringatan halus bahwa perang adalah kemewahan yang tidak ada yang sanggup menanggungnya.

Apakah seruan ini akan didengar? Entah kebetulan atau tidak, dua negara yang angkat bicara hari ini punya jalur komunikasi ke kedua belah pihak. Mesir selama ini dekat dengan Washington; Qatar punya reputasi sebagai mediator kawasan yang disegani, bak gayung bersambut setiap kali krisis kawasan membutuhkan meja penengah.

Tapi ketika rudal sudah terbang di atas Selat Hormuz, kata-kata dari Kairo dan Doha butuh lebih dari sekadar keanggunan diplomatik untuk benar-benar mengubah arah.