MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Mesin Turbojet China di Balik Drone Shahed yang Ki...

Internasional

Mesin Turbojet China di Balik Drone Shahed yang Kian Mematikan

Investigasi Wall Street Journal mengungkap bagaimana rantai pasok yang berpusat di China menjadi tulang punggung produksi drone Shahed/Geran, senjata murah yang kini mengacak-acak pertahanan Ukraina dan memaksa Pentagon merogoh kocek jutaan dolar.

Di Balik Ngerinya Drone Shahed Iran, Ada Peran Pabrik China

Harganya sekitar Rp 350 juta per unit, setara mobil bekas kelas menengah. Namun drone kamikaze Shahed, yang kini berevolusi menjadi varian Geran-4 di tangan Rusia, berhasil memaksa Pentagon menguras rudal pencegat seharga jutaan dolar hanya untuk menjatuhkan satu unit dari langit Ukraina.

Investigasi terbaru Wall Street Journal membongkar lapisan demi lapisan bagaimana senjata murah itu bisa sekuat sekarang. Jawabannya ada di Shenzhen.

Pada awal Juli lalu, gelombang serangan udara melanda Kyiv. Bedanya dengan serangan sebelumnya: Rusia meluncurkan varian Shahed bermesin turbojet, bukan lagi baling-baling konvensional. Kecepatan jelajahnya menembus 480 kilometer per jam, tiga kali lipat lebih cepat dari pendahulunya, Geran-2 (Shahed-136). Drone penembak Ukraina yang selama ini menjadi andalan pencegatan praktis tak berdaya menghadapinya. Serangan itu menewaskan sekitar 30 orang.

Mesin turbojet tersebut, menurut analisis bangkai drone oleh intelijen militer Ukraina, diproduksi oleh Telefly Telecommunications Equipment, perusahaan yang berkantor di Shenzhen, China. Detail yang agaknya membuat Beijing tidak nyaman: setelah temuan ini dipublikasikan, Telefly secara diam-diam menghapus katalog turbojet dari situs berbahasa Inggris mereka, meski halaman berbahasa Mandarin masih bisa diakses.

Mesin hanyalah satu bagian dari gambar besar. Kolonel Oleksandr Zaruba, peneliti senior pemerintah Ukraina, mengungkapkan bahwa drone-drone terbaru ini dilengkapi lebih banyak antena, modem, dan kartu SIM untuk koreksi jalur terbang secara real-time menggunakan jaringan lokal. "Sebagian besar komponen tersebut semakin banyak berasal dari China," ungkap Zaruba. Analis intelijen Ukraina memperkirakan sekitar 60 hingga 65 persen komponen vital Geran-4, mulai dari mesin, antena, hingga giroskop navigasi, kini bersumber dari rantai pasok yang berpusat di China.

Ini bukan kondisi yang terbentuk dalam semalam.

Setelah Revolusi 1979 dan embargo senjata Barat, Angkatan Udara Iran runtuh. Dari sanalah lahir obsesi para insinyur Iran dengan drone bunuh diri berbiaya rendah. Shahed Aviation Industries Research Center, lembaga yang terhubung langsung dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), menjadi dapur utama pengembangannya.

Problem terbesar awalnya adalah mesin. Solusinya datang dari mesin Limbach L 550 E buatan Jerman. Pada 2012, sebuah perusahaan China mulai mendistribusikan mesin-mesin Limbach tersebut ke jaringan pengadaan Iran, lalu membeli pabrikan Jerman itu secara penuh pada 2017. Langkah yang, entah kebetulan atau tidak, memberi China kendali penuh atas jalur pasokan teknologi kunci tersebut. Perusahaan Iran bernama Mado kemudian membuat tiruan mesin Limbach dengan bantuan komponen dari pengusaha China bernama Ma Jie. Berdasarkan data Ukraina, Mado bertanggung jawab atas kesepakatan pengiriman lebih dari 13.000 unit Shahed beserta komponennya ke Rusia senilai 324 juta dolar AS sepanjang 2022.

Ada ironi yang patut dicermati di sini. Di era awal, Shahed justru bergantung besar pada komponen Barat: mikrokontroler dari Texas Instruments, regulator linier dari STMicroelectronics Swiss. Komponen-komponen itu mengalir ke Iran melalui jaringan perusahaan cangkang di China daratan dan Hong Kong. Penyelidikan Kementerian Keuangan AS mengonfirmasi pola pengalihan ini. Kerri Bitsoff, mantan pejabat Kementerian Keuangan AS, menyebut bahwa fokus produksi Shahed kini telah bergeser: "Seiring kemampuan China yang semakin baik dalam memproduksi komponen dan teknologi semacam ini."

Dengan kata lain, China bukan sekadar jalur transit. China kini adalah sumbernya.

Jejak destruktif Shahed-136 pertama kali tercatat secara global pada 29 Juli 2021, saat menghantam kapal tanker MV Mercer Street di lepas pantai Oman, menewaskan kapten kapal asal Rumania dan seorang petugas keamanan asal Inggris. Sejak saat itu teknologinya menyebar ke Venezuela, Suriah, Ethiopia, hingga pasukan Africa Corps Rusia di Mali. Bahkan Pentagon, setelah pangkalan AS di Bahrain dihajar drone ini pada fase awal konflik dengan Iran, akhirnya meniru konsep desain wedge-wing berbiaya murah tersebut karena menyadari mereka tertinggal satu dekade dalam doktrin perang asimetris berbiaya rendah.

Mick Ryan, analis militer dan purnawirawan Mayor Jenderal Angkatan Darat Australia, menyimpulkannya singkat: "Kita akan melihat barang-barang ini di mana-mana."

Angka yang perlu diingat: satu rudal pencegat bisa seharga 2 hingga 4 juta dolar. Satu drone Shahed sekitar 20.000 dolar. Selisih rasio itu, kalau data ini bisa dipercaya, adalah model bisnis perang masa depan.