Angka 1.153 hp dari sebuah sedan legal jalan raya. Bukan dari konsep pameran motor, bukan prototipe balap, maksudnya, bukan prototipe. Mobil yang akan dijual ke publik mulai 2027.
Mercedes-AMG resmi meluncurkan generasi kedua GT 4-Door Coupe secara global di Los Angeles, menghadirkan perubahan paling radikal dalam sejarah divisi performa tinggi asal Stuttgart itu. Generasi baru ini meninggalkan sepenuhnya mesin pembakaran internal dan beralih ke platform listrik murni bernama AMG.EA, arsitektur yang dirancang khusus untuk mendefinisikan ulang apa artinya "performa AMG" di era elektrifikasi. Peluncuran ini turut dihadiri pembalap Formula 1 Mercedes-AMG Petronas, George Russell dan Kimi Antonelli, serta aktor Hollywood Brad Pitt yang belakangan terlibat dalam proyek film bertema F1.
Dua varian ditawarkan: GT55 dan GT63. Keduanya dibekali tiga motor listrik, tapi dengan karakter yang berbeda. GT55 menghasilkan tenaga puncak 816 PS dengan torsi 1.800 Nm, cukup untuk menyemburkan akselerasi 0-100 km/jam dalam 2,8 detik. GT63 yang lebih buas mencatatkan tenaga maksimum 1.169 PS (setara 1.153 hp) dan torsi 2.000 Nm. Di varian ini, 0-100 km/jam selesai dalam 2,4 detik. Sedangkan 0-200 km/jam? Hanya 6,8 detik. Kecepatan puncak keduanya dibatasi di 300 km/jam dengan paket Drivers Package opsional.
Satu hal yang perlu dicermati soal angka tenaga itu: 1.169 PS hanya tersedia saat mode AMG Launch Control aktif. Di luar itu, pengemudi masih bisa mengakses boost instan dengan menarik kedua paddle shift di setir pada mode Comfort, Sport, atau Sport+. Tambahan boost mencapai 150 PS untuk GT63 dan 68 PS untuk GT55, tersedia selama masing-masing 63 dan 55 detik.
Salah satu terobosan teknis yang membedakan GT63 dari EV performa lainnya adalah penggunaan axial flux motor. Teknologi ini diklaim lebih ringan, lebih kompak, dan mampu mempertahankan performa tinggi secara konsisten tanpa degradasi tenaga. AMG menyebut GT 4-Door sebagai kendaraan produksi massal pertama mereka yang mengadopsi teknologi tersebut, sebagian besar dikembangkan dari pengalaman di trek balap Formula 1.
Baterai 106 kWh yang tertanam di lantai mobil diklaim mampu mengantarkan GT55 sejauh 597-700 km berdasarkan standar WLTP, sedangkan GT63 mencapai 596-696 km. Bukan angka kecil untuk kelas performa. Yang lebih mencengangkan adalah kemampuan pengisian dayanya. Fast charging DC hingga 600 kW memungkinkan baterai terisi dari 10 ke 80 persen hanya dalam 11 menit. Dalam 10 menit pertama saja, mobil sudah mendapat tambahan jangkauan hingga 460 km. Agaknya inilah argumen terkuat AMG untuk menjawab skeptisisme soal EV jarak jauh.
Desain GT 4-Door generasi kedua ini pun berubah total. Siluet fastback dengan kap mesin rendah dan kaca depan landai mempertahankan DNA coupe AMG, tapi dengan bahasa desain yang jauh lebih futuristis. Lampu depan berbentuk oval dihubungkan bilah LED tipis di atas grille, sementara lampu belakang hadir dalam tiga elemen melingkar yang masing-masing menampilkan logo bintang tiga Mercedes-Benz. Door handle rata bodi, spoiler aktif, dan sistem Airpanel yang mengatur aliran udara melalui kisi-kisi vertikal di depan turut melengkapi paket aerodinamika mobil ini.
Di kabin, layar digital mendominasi. Panel instrumen 10,2 inci dipadukan layar infotainment 14 inci yang sedikit miring ke arah pengemudi, plus layar 14 inci tersendiri untuk penumpang depan. Suara V8 khas AMG memang sudah tidak ada lagi secara fisik. Tapi bagi yang kangen, fitur AMGForce S+ mensimulasikan suara mesin GT R menggunakan lebih dari 1.600 sampel audio yang diproses secara real-time.
CEO Mercedes-AMG Michael Schiebe cukup blak-blakan soal arah perusahaan. Dalam sesi eksklusif di showroom Hamburg, ia menegaskan bahwa persaingan angka tenaga kuda antar-pabrikan sama sekali belum berakhir. "Di masa depan, akselerasi 0-100 km/jam mungkin tidak lagi menjadi pembeda utama karena hampir semua EV modern kini bisa berakselerasi sangat cepat," ungkap Schiebe. Bagi AMG, diferensiasi terletak pada paket menyeluruh: bobot lebih ringan, teknologi lebih maju, dan dinamika berkendara yang superior.
Perbandingan dengan produk AMG sendiri cukup gamblang. SL63 S E Performance Roadster, saat ini salah satu model AMG paling bertenaga berbasis mesin konvensional, menghasilkan 805 hp dari V8 twin-turbo hibrida. GT 4-Door EV melampauinya hampir 350 hp. Lompatan yang, entah kebetulan atau tidak, datang tepat di saat pabrikan China berlomba-lomba merilis sedan listrik berperforma tinggi dengan harga lebih terjangkau. Pedang bermata dua buat industri otomotif premium.
Pertanyaannya sederhana: apakah lompatan performa sebesar ini cukup untuk menjaga relevansi AMG ketika merek-merek baru datang dengan angka serupa di setengah harganya? Jawaban sesungguhnya baru akan terlihat ketika mobil ini benar-benar tiba di tangan konsumen pada 2027.