SENIN, 28 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Menteri Swedia Bawa Bayi ke Rapat Menteri UE, Erop...

Internasional

Menteri Swedia Bawa Bayi ke Rapat Menteri UE, Eropa Beri Tepuk Tangan

Romina Pourmokhtari hadir di pertemuan menteri lingkungan Uni Eropa di Luksemburg sambil menggendong putranya yang baru berusia tiga bulan, mencatat sejarah baru dalam forum resmi blok tersebut.

Menteri Swedia Banjir Pujian Bawa Bayinya Rapat Uni Eropa

Kamis pekan lalu di Luksemburg, ruang pertemuan menteri lingkungan hidup Uni Eropa kedatangan tamu yang tidak ada dalam agenda resmi: seorang bayi berusia tiga bulan bernama Adam, digendong erat oleh ibunya yang kebetulan duduk di meja perundingan.

Romina Pourmokhtari, Menteri Lingkungan Hidup dan Iklim Swedia yang baru berusia 30 tahun, tiba di forum itu dengan kain gendongan melilit dada dan seorang asisten mendorong stroller di belakangnya. Pejabat Uni Eropa mengonfirmasi: ini kali pertama dalam sejarah seorang bayi masuk langsung ke ruang sidang menteri blok tersebut. Bukan kali pertama dalam beberapa tahun terakhir. Pertama kali, titik.

Saat para jurnalis mencegatnya dengan Adam tertidur lelap di dadanya, Pourmokhtari tidak terlihat canggung sedikit pun. "Senang rasanya bisa menjadi contoh bahwa kita tidak harus memilih antara menjadi menteri yang hadir untuk negara dan menjadi ibu yang hadir untuk anak," ujarnya kepada wartawan. Kalimat sederhana. Tapi cukup untuk langsung menyebar ke mana-mana.

Reaksi sesama menteri datang cepat. Monique Barbut dari Prancis langsung memberikan hadiah spontan berupa jumpsuit bayi untuk Adam. Sara Aagesen, Menteri Iklim Spanyol, mengunggah foto ibu dan anak itu di ruang sidang dengan caption yang agaknya paling pas merangkum momen tersebut: "Ilustrasi terbaik mengenai alasan mengapa kita berada di sini: bekerja hari ini demi meninggalkan planet yang lebih baik bagi mereka yang akan mewarisinya esok hari." Unggahan itu viral. Tidak mengejutkan.

Pourmokhtari juga menyebut fleksibilitas kawasan Eropa sebagai salah satu keunggulan yang jarang terasa nyata sampai ada momen seperti ini yang memberinya wajah konkret. "Ada banyak hal yang membuat Eropa menjadi tempat yang luar biasa untuk ditinggali. Salah satunya adalah kemungkinan untuk menghadiri pertemuan sekaligus merawat anak saya," katanya. Terdengar sederhana, tapi bagi jutaan perempuan pekerja, kalimat itu bukan hal yang bisa dianggap remeh.

Momen ini memantik kembali perdebatan yang sebetulnya tidak pernah benar-benar selesai: betapa beratnya beban yang ditanggung perempuan ketika memilih punya anak di tengah karier yang sedang menanjak. Studi demi studi menunjukkan pola yang sama, perempuan kehilangan peluang promosi, ruang karier, dan pendapatan begitu mereka menjadi ibu. "Motherhood penalty", istilah yang sudah lama beredar di kalangan ekonom dan peneliti gender. Pertanyaannya, kapan pola ini benar-benar berubah?

Parlemen Eropa sendiri baru saja mengubah aturan internal untuk mengakomodasi realita ini: para ibu baru kini diizinkan menggunakan hak pilih politiknya melalui perwakilan atau wali. Langkah kecil, tapi simbolis.

Pourmokhtari bukan yang pertama berjalan di jalur ini. Pada 2018, Jacinda Ardern membawa putrinya Neve yang berusia tiga bulan ke Sidang Umum PBB, tercatat sebagai bayi pertama yang hadir dalam sejarah organisasi tersebut. Ardern sendiri perdana menteri kedua dalam sejarah yang melahirkan saat masih menjabat, setelah Benazir Bhutto dari Pakistan pada 1990. Setahun sebelum Ardern, pada 2017, senator Australia Larissa Waters mencetak sejarahnya sendiri: menyusui bayinya langsung di lantai parlemen.

Deretan nama itu kini bertambah satu. Dan Adam, yang tidur tenang sepanjang sidang berlangsung, tampaknya tidak terlalu peduli bahwa hari itu namanya ikut masuk ke catatan sejarah Uni Eropa.