Satu dari lima barel minyak dunia melewati Selat Hormuz. Jalur itu kini menjadi batu sandungan yang belum jelas kapan selesainya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan berkunjung ke Oman, membawa agenda tunggal yang cukup berat: masa depan Selat Hormuz dan keselamatan pelayaran di sana. Bukan kunjungan dadakan. Kunjungan ini kelanjutan dari pembicaraan yang sudah berjalan satu hingga dua bulan terakhir antara Teheran dan Muscat.
Juru Bicara Kemenlu Iran Esmaeil Baghaei menyebut kunjungan ini bagian dari konsultasi yang sedang berjalan, bukan momen dramatis yang datang tiba-tiba. Tapi konteksnya jauh dari biasa.
Sejak AS dan Israel melancarkan operasi militer pada akhir Februari lalu, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi pelayaran internasional. Gencatan senjata sempat dicapai pada 8 April, namun stabilitas yang diharapkan tak kunjung datang. Gesekan terus berulang, dan sumbernya hampir selalu sama: perdebatan soal siapa yang punya otoritas atas selat tersebut.
Teheran bergeming. Iran bersikeras kendali penuh atas Selat Hormuz adalah hak mereka, termasuk rencana memungut biaya tol dari kapal-kapal komersial yang melintas. Ini bukan kewenangan yang dimiliki Iran sebelum konflik pecah. Secara hukum internasional pun agaknya sulit dibenarkan, kalau data dan preseden hukum yang ada bisa dipercaya. Selat Hormuz memang mencakup perairan teritorial Iran dan Oman, tapi kedua negara pada prinsipnya tidak berhak memblokir atau mengenakan tarif atas lalu lintas pelayaran internasional.
Oman dipilih bukan tanpa alasan. Negeri teluk yang tak punya ambisi konfrontatif ini sejak lama jadi mediator senyap di kawasan, boleh jadi satu-satunya pihak yang masih punya jalur komunikasi terbuka ke semua pemangku kepentingan sekaligus. Muscat juga punya kepentingan langsung: sebagian Selat Hormuz berada di perairan mereka, dan lumpuhnya jalur ini kena langsung ke perekonomian Oman.
Bagi pelaku pasar energi, ini bukan sekadar drama diplomatik. Seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global bergerak lewat titik sempit itu setiap harinya. Gangguan berkepanjangan sudah cukup untuk membuat harga komoditas bergolak. Pertanyaannya, berapa lama pasar masih mau bersabar? Ketidakpastian status jalur ini membuat perusahaan pelayaran enggan masuk. Apakah kunjungan Araghchi ke Muscat cukup untuk mencairkan kebuntuan, atau sekadar gestur yang belum tentu menghasilkan kesepakatan konkret, itu yang masih perlu dibuktikan.