SABTU, 26 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Menkeu Yakin Ekonomi Tembus 5,5 Persen, LPEM UI Ju...

Ekonomi

Menkeu Yakin Ekonomi Tembus 5,5 Persen, LPEM UI Justru Skeptis

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membidik pertumbuhan ekonomi semester II 2026 di atas 5,5 persen, bahkan mendorong ke angka 6 persen. Tapi LPEM UI punya cerita yang berbeda.

Purbaya Yudhi Sadewa tidak main-main soal target pertumbuhan. Menteri Keuangan ini meyakini ekonomi nasional akan tumbuh di atas 5,5 persen pada kuartal III dan IV 2026, bahkan terang-terangan bilang ia "mendorong ke arah 6 persen."

Bukan sekadar wacana.

Purbaya sudah menyiapkan serangkaian amunisi untuk mendorong angka itu. Salah satu yang paling konkret adalah stimulus kendaraan listrik. Pemerintah sedang mematangkan insentif untuk 100 ribu unit mobil listrik dan 100 ribu unit sepeda motor listrik, dengan target bergulir mulai Juni 2026. Untuk sepeda motor, subsidi dianggarkan Rp5 juta per unit. Untuk mobil, insentifnya berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 40 hingga 100 persen, tergantung jenis baterai yang dipakai, apakah berbasis nikel atau non-nikel. Kendaraan hibrida tidak masuk skema ini.

Sektor ekspor juga masuk radar. Purbaya berencana memanggil pelaku usaha tekstil, furnitur, hingga sepatu untuk duduk bareng membahas akses pembiayaan. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) disebut sebagai salah satu instrumen yang akan dioptimalkan. "Saya akan panggil rapat lagi dalam waktu dekat, supaya mereka punya akses ke pendanaan yang lebih bagus dan lebih murah. Saya bisa masuk lewat LPEI. Di situ uangnya juga banyak, sebagian nganggur selama ini ternyata," jelas Purbaya, seperti dikutip ANTARA.

Injeksi likuiditas ke perbankan juga jadi andalan. Purbaya menyinggung koordinasi dengan bank-bank yang kini berada di bawah Danantara, tapi ia tegas: pendekatannya bukan memaksa bank menyalurkan pinjaman. "Yang saya kerjakan adalah bukan saya paksa banknya pinjam, tapi saya akan pastikan invisible hand bekerja di sektor finansial," katanya.

Optimisme Purbaya, agaknya, tidak sepenuhnya diamini komunitas akademik.

LPEM UI mempertanyakan validitas target pertumbuhan 5,6 persen yang diusung pemerintah. Bukan tanpa alasan. Perlambatan ekonomi global, efek lanjutan kebijakan tarif Amerika Serikat, hingga konsumsi domestik yang belum sepenuhnya pulih, semuanya variabel yang sulit diabaikan begitu saja.

Gap antara target pemerintah dan proyeksi lembaga riset memang bukan hal baru. Tapi timing skeptisisme ini menarik: justru muncul saat pemerintah paling agresif menggelontorkan stimulus ke sektor riil. Apakah stimulus EV dan pembiayaan ekspor cukup menambal celah itu? Kalau data bisa bicara, kita tunggu saja angka BPS kuartal III.

Ujian sesungguhnya. Kuartal III dan IV 2026.