SABTU, 3 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Menkeu Tepis Isu Daya Beli Lemah, Inflasi 2,42% Ja...

Ekonomi

Menkeu Tepis Isu Daya Beli Lemah, Inflasi 2,42% Jadi Tameng

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan daya beli masyarakat Indonesia masih solid, didukung inflasi yang terjaga di 2,42 persen dan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di kuartal pertama 2026.

Ini Penjelasan Menkeu soal Daya Beli, Inflasi, dan Subsidi BBM 2026

Angka 2,42 persen itu yang jadi senjata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk membungkam spekulasi soal pelemahan daya beli. Dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 di Kantor Kementerian Keuangan, Selasa (19/5), Purbaya menegaskan bahwa kondisi ekonomi masyarakat, terutama lapisan bawah, masih jauh dari gambaran yang selama ini beredar di publik.

Inflasi yang tertahan di level tersebut, kata Purbaya, bukan kebetulan. "Ternyata sampai sekarang baru 2,42 persen. Jadi inflasi terkendali ini juga membantu daya beli masyarakat kita tidak tergerus. Karena upaya pemerintah untuk menjalankan inflasi betul-betul serius," tegasnya. Angka ini juga masih selaras dengan rentang target Bank Indonesia, sehingga ruang konsumsi rumah tangga terjaga dan tidak tergerus tekanan harga.

Fondasi ekonomi yang diklaim Purbaya memang bukan tanpa data. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama 2026 tercatat 5,61 persen, dengan konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama. Bukan angka yang bisa diabaikan begitu saja, terutama ketika banyak negara berkembang masih sibuk menambal luka dari gejolak global.

Sisi penerimaan negara agaknya ikut memperkuat narasi ketahanan ini. Penerimaan pajak hingga April 2026 tumbuh 16,1 persen secara tahunan. Sinyal bahwa aktivitas ekonomi di lapangan belum semuram yang kadang dinarasikan. Pertumbuhan pajak sedalam itu, kalau dibandingkan dengan kondisi beberapa tahun silam, cukup untuk membuat pelaku pasar setidaknya menarik napas lega.

Subsidi BBM pun dipastikan aman untuk tahun anggaran 2026. Klaim yang masih perlu dibuktikan realisasinya hingga akhir tahun, mengingat harga minyak dunia yang kerap berulah. Tapi dari sisi fiskal jangka pendek, pemerintah mengklaim tidak ada tekanan yang mengharuskan penyesuaian kebijakan energi dalam waktu dekat.

Purbaya juga menyinggung pentingnya memacu sektor swasta dan ekonomi riil sebagai langkah lanjutan. Konsumsi rumah tangga tidak bisa selamanya jadi satu-satunya tumpuan. Pasar tahu itu. Pertanyaannya sekarang: apakah momentum kuartal pertama ini cukup bertahan ketika tekanan eksternal belum mereda sepenuhnya di sisa tahun?