SELASA, 29 SEPTEMBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Menhan Israel Sebut Mojtaba Khamenei sebagai Targe...

Internasional

Menhan Israel Sebut Mojtaba Khamenei sebagai Target, IDF Disiagakan untuk Operasi Skala Penuh

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz secara terbuka menyatakan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei telah masuk daftar target militer, sambil memperingatkan setiap serangan rudal dari Teheran akan dibalas dalam 48 jam.

Israel Masukkan Pemimpin Tertinggi Iran ke Daftar Target Militer

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz membuat pernyataan yang, kalau boleh jujur, jarang seeksplisit ini keluar dari mulut pejabat pertahanan mana pun: Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei sudah masuk daftar target operasi militer dan intelijen Israel. Katz menyampaikannya dalam wawancara dengan Fox News yang tayang Selasa (30/6), saat ketegangan antara Tel Aviv dan Teheran agaknya sudah melewati titik sekadar retorika.

"Kami menargetkannya untuk dibunuh," kata Katz saat ditanya langsung soal Khamenei. Kalimat pendek. Bobotnya berat.

Katz merinci dua skenario yang menurutnya bisa memicu perang terbuka. Pertama, jika Iran kembali melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel. "Jika Iran menyerang, akan ada perang ketiga. Situasinya amat jelas," tegasnya. Kedua, Israel tidak akan membiarkan satu rudal pun dari Teheran tanpa balasan, eh, untuk yang satu ini: balasan itu, klaimnya, akan tiba dalam dua hari. Menyebut nama pemimpin tertinggi sebuah negara berdaulat sebagai target tembak adalah eskalasi retorik yang berbeda levelnya dari ancaman-ancaman biasa Tel Aviv.

Dari sisi persiapan lapangan, Katz mengungkapkan ia telah menginstruksikan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk memasuki status siaga lewat perintah yang dinamai Operasi Biru-Putih. "Kami sedang mempersiapkan kemungkinan bahwa Iran akan menembaki kami. IDF siap baik secara defensif maupun ofensif. IDF siap untuk menangkis dan menyerang," ujarnya. Jika sinyal ancaman nyata terdeteksi, Katz juga tidak akan ragu mengeluarkan peringatan ke publik domestik. "Jika kami melihat bahaya nyata, kami akan memperingatkan masyarakat di dalam negeri dan melancarkan serangan," katanya.

Katz turut mengklaim serangkaian operasi militer Israel terhadap Iran sebelumnya telah menorehkan "prestasi besar", termasuk kerusakan pada program militer Teheran dan eliminasi terhadap sejumlah figur yang ia sebut sebagai "kepala program pemusnahan mereka". Klaim ini belum bisa diverifikasi secara independen, tapi nadanya konsisten dengan narasi yang selama ini dibangun Tel Aviv: Iran sudah diperlemah, Israel kini di posisi unggul. Setidaknya begitu klaim manajemen perang mereka.

Soal nuklir, Katz tak bergeser sedikit pun. Israel tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir, titik. Ia menyebut Iran sebagai "pedagang ulung" yang pandai memanfaatkan meja negosiasi untuk mengulur waktu sambil memeras konsesi. "Jika mereka melakukannya melalui kesepakatan, itu akan lebih baik," katanya, tapi nadanya tidak terdengar seperti orang yang benar-benar mengandalkan diplomasi.

Satu detail yang patut dicermati: Katz menyebut para pemimpin Iran, termasuk pimpinan Hizbullah, Hamas, dan Houthi, kini bersembunyi di bunker. Bisa jadi itu intel. Bisa jadi tekanan psikologis semata. Entah kebetulan atau tidak, pernyataan ini muncul tak lama setelah kabar perundingan AS-Iran di Swiss kembali tertunda.

Bagi pelaku pasar yang memantau geopolitik Timur Tengah, eskalasi verbal sekelas ini biasanya sudah cukup untuk menggerakkan harga minyak dan aset safe haven. Selat Hormuz kembali jadi variabel yang tidak bisa diabaikan.