MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Meloni Serang Balik Brussel: Eropa Jago Bikin Atur...

Internasional

Meloni Serang Balik Brussel: Eropa Jago Bikin Aturan, tapi Melempem di Panggung Dunia

Di hadapan para industrialis Italia, PM Giorgia Meloni dan Presiden Confindustria kompak menghajar Uni Eropa soal regulasi yang membunuh daya saing, sementara 250 ribu pekerjaan manufaktur sudah raib sejak awal mandat komisi ini.

Asosiasi Industri Italia Kritik Kebijakan Birokrasi Uni Eropa

Dua ratus lima puluh ribu pekerjaan manufaktur hilang. Bukan proyeksi, bukan simulasi skenario terburuk. Angka itu disebut langsung oleh Emanuele Orsini, Presiden Confindustria, di hadapan para industrialis Italia dalam pertemuan tahunan asosiasi tersebut di Roma, Rabu (27/5/2026).

Forum di pusat kongres "La Nuvola" itu menghadirkan nama-nama berat: Presiden Italia Sergio Mattarella, Presiden Senat Ignazio La Russa, hingga Perdana Menteri Giorgia Meloni. Tapi alih-alih seremoni yang menenangkan, yang tersaji justru serial kritik telak ke satu alamat: Brussel.

Orsini membuka dengan gambaran suram. Kertas, baja, kaca, bahan kimia, semen, keramik, semuanya ia sebut sedang dihajar tekanan berlapis. Harga energi yang mencekik, serbuan produk Tiongkok dengan harga murah, kenaikan biaya ekspor ke pasar Amerika, dan di atasnya semua, tumpukan regulasi baru dari Komisi Eropa yang terus bertambah sepanjang 2025 hingga 2026. "Akumulasi peraturan, amandemen yang sering, tumpang tindih, dan beban yang berlebihan terus berlanjut," tegasnya.

Satu contoh konkret ia bawa ke meja: Brussel menetapkan 72 syarat untuk memberikan lampu hijau atas satu Rancangan Undang-Undang Keputusan Pemerintah Italia. Tujuh puluh dua. Ruangan, kabarnya, sempat senyap.

Orsini juga menuntut penghentian segera sistem perdagangan emisi karbon (ETS), yang menurutnya justru menguntungkan Tiongkok, bukan melindungi industri Eropa. Italia, katanya, butuh pasar energi tunggal, pasar modal tunggal, dan instrumen utang bersama. Harga energi ia sebut sebagai "ancaman eksistensial yang nyata" bagi pabrik-pabrik domestik, terlebih setelah Italia menanggung konsekuensi keputusan masa lalu meninggalkan tenaga nuklir. "Kita tidak bisa terus membayar harga tertinggi di Eropa untuk energi di pabrik-pabrik kita," ujarnya.

Meski nadanya keras, Orsini memisahkan diri dari kutub anti-Eropa. "Kami percaya pada Eropa, tetapi kami sangat prihatin dengan keputusan Uni Eropa dalam beberapa tahun terakhir," akuinya. Komitmen untuk tetap berinvestasi dan memperkuat riset inovasi di dalam negeri tetap ia gariskan sebagai posisi resmi Confindustria. Ini desakan reformasi dari dalam, bukan penarikan diri.

Meloni naik podium dengan energi senada. Ia memuji dunia usaha Italia sebagai tulang punggung reputasi nasional, jauh lebih dari sekadar sektor pariwisata, lalu melepas serangan ke arah Brussel. Frasenya yang paling menggigit, dan langsung beredar luas selepas pidato itu usai, berbunyi: "Eropa tak terbendung dalam memperbanyak aturan, tetapi picik ketika harus menyuarakan kepentingannya di panggung dunia."

Pendek. Tapi terarah.

Menurut Meloni, pendekatan ideologis Brussel dalam regulasi lingkungan dan digital membuat Eropa bergerak lamban, sementara Amerika Serikat, Tiongkok, dan India bergerak fleksibel membangun rantai pasok mereka. Satir pun ia pakai tanpa ragu: "Kita mengatur cara orang memakai sendok, tapi diam saja ketika pabrik-pabrik kita tutup karena tak mampu bersaing dengan subsidi asing."

Meloni memposisikan seruannya bukan sebagai sabotase terhadap proyek Eropa, melainkan pembelaan terhadapnya. "Mereka yang menganjurkan perubahan arah di pihak Eropa tidak melakukannya untuk menghancurkan, mereka melakukannya karena mereka peduli dengan peradaban mereka sendiri," tegasnya. Sebagai langkah konkret, pemerintahnya mengusulkan pembentukan lokasi konstruksi bersama dengan pelaku industri untuk mereformasi birokrasi domestik Italia.

Komisi Eropa, perlu dicatat, bukan tanpa respons. Program "Regulasi yang Lebih Baik", REFIT, dan prinsip "Satu Masuk, Satu Keluar" sudah lama dijalankan untuk membendung inflasi prosedural, khususnya bagi usaha kecil dan menengah. Efektif atau tidak, itu soal lain, dan Orsini serta Meloni kompak menunjuk fakta bahwa regulasi baru nyatanya terus bertambah meski program-program itu eksis.

Pertanyaannya sederhana: kalau kebijakan reformasi birokrasi itu memang jalan, mengapa 250 ribu pekerjaan manufaktur sudah kadung lenyap?

Pidato Roma ini bisa dibaca sebagai preview dari pertarungan yang akan makin keras di jantung Uni Eropa, antara mereka yang melihat regulasi sebagai fondasi standar bersama, dan mereka yang menilainya sebagai beban yang perlahan mengubur industri Eropa hidup-hidup. Entah kebetulan atau tidak, perdebatan ini kian nyaring justru ketika Tiongkok dan Amerika makin agresif merebut pasar yang ditinggalkan Eropa.