Dua hari. Cuma itu.
Operasi militer paling ambisius Trump di Timur Tengah dalam beberapa bulan terakhir terhenti bukan karena rudal Iran, tapi karena satu telepon ke Riyadh yang berakhir tanpa hasil. Mohammed bin Salman menolak.
Proyek Freedom, begitu Trump menamai operasi pengawalan kapal-kapal berbendera Barat melintasi Selat Hormuz, diumumkan sepihak tanpa koordinasi dulu dengan negara-negara Teluk yang justru menampung aset militer Washington di sana. Hasilnya bisa ditebak. Arab Saudi langsung menutup akses: pesawat AS dilarang beroperasi dari Pangkalan Udara Pangeran Sultan, wilayah udara Saudi dikunci untuk segala misi yang berkaitan dengan Hormuz.
Dua pejabat AS kepada NBC News menyebut percakapan telepon langsung Trump dan MBS gagal mencairkan kebuntuan itu.
Ironik. Hanya beberapa hari sebelum drama ini meletus, Arab Saudi dan Kuwait justru baru saja mencabut pembatasan akses militer AS ke pangkalan mereka, langkah yang waktu itu dibaca pasar sebagai sinyal positif. Rupanya pencabutan itu bersyarat, dan syaratnya tidak dipenuhi Trump. Koordinasi yang diabaikan di awal menjadi bumerang.
Riyadh punya hitungan sendiri. Kerajaan sudah lama jengkel dengan apa yang mereka nilai sebagai penanganan perang yang tidak menentu oleh Washington, kebijakan yang ujung-ujungnya membuat UEA menanggung beban serangan balasan Iran. Kekhawatiran itu ternyata bukan paranoia: begitu kapal AS mencoba melintas Hormuz, Teheran langsung menghujani UEA dengan lebih dari selusin serangan udara. Satu fasilitas minyak di Fujairah terbakar. Tiga warga India yang bekerja di sana luka-luka.
Ancaman Trump untuk menghancurkan semua pembangkit listrik Iran, klaim yang ia lontarkan terbuka, justru makin membuat Riyadh was-was. Mereka tahu persis siapa yang paling rentan kena batunya kalau Teheran memilih eskalasi habis-habisan. Arab Saudi kini bergabung dengan negara-negara Arab lain mendesak Washington tempuh jalur diplomatik, mendukung mediasi Pakistan untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali Selat Hormuz lewat negosiasi.
Yang bikin geleng kepala: di dalam pemerintahan Trump sendiri, penghentian mendadak ini agaknya tidak direncanakan sama sekali. Marco Rubio baru saja menyatakan beberapa jam sebelum pengumuman bahwa operasi pendahulu bertajuk Epic Fury telah selesai dan fokus beralih ke Proyek Freedom. Pete Hegseth masih mempromosikan operasi itu, menyebut ratusan kapal mengantre untuk dikawal. Lalu tiba-tiba Trump mengumumkan penghentian sementara, beralasan ada kemajuan besar dalam pembicaraan damai AS-Iran yang dimediasi Pakistan. Pejabat internal pemerintahannya sendiri disebut terkejut.
Bukan main.
Trump kemudian mencoba mengecilkan insiden serangan Iran selama operasi berlangsung. Bukan tembakan berat, katanya, melainkan cuma sentuhan ringan. Gencatan senjata, ia klaim, masih berlaku.
Selat Hormuz dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia. Jalur perairan selebar 33 kilometer itu bukan sekadar rute kapal dagang, tapi urat nadi energi global yang setiap harinya dipertaruhkan. Pertanyaannya sekarang sederhana tapi tidak mudah dijawab: apakah Washington benar-benar punya rencana koheren untuk kawasan ini, atau setiap langkah besar masih akan bergantung pada satu telepon ke Riyadh yang belum tentu diangkat?