SELASA, 13 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  MBS Tutup Pintu bagi Israel di Yaman, Netanyahu Gi...

Internasional

MBS Tutup Pintu bagi Israel di Yaman, Netanyahu Gigit Jari

Arab Saudi menolak tawaran Israel untuk bergabung dalam operasi militer melawan Houthi di Yaman. Putra Mahkota MBS khawatir keterlibatan Tel Aviv justru membakar opini publik domestik.

Arab Saudi Ogah Jika Israel Bantu Lawan Houthi

Tawaran Israel untuk ikut bertempur melawan Houthi di Yaman kandas di tangan Mohammed bin Salman. Putra Mahkota Saudi itu, penguasa de facto yang merangkap perdana menteri, dilaporkan menolak desakan Benjamin Netanyahu yang ingin mendapat izin keterlibatan militer Israel dalam konflik Yaman yang kembali memanas sejak Juli lalu.

Haaretz, harian terkemuka Israel, melaporkan Senin (12/10) bahwa Netanyahu menggunakan jalur mediasi Amerika Serikat untuk melobi Riyadh. Bukan semata soal Houthi. Agaknya Netanyahu melihat peluang lebih besar di balik usulan ini: kalau Israel bisa "bertempur bersama" Saudi, pintu normalisasi diplomatik yang selama ini tertutup rapat bisa sedikit terbuka. Manuver ini membaca jelas ke arah sana.

MBS, menurut sumber diplomatik yang dikutip Haaretz, tidak tertarik. Bukan soal kapasitas militer Israel atau relevansinya di medan Yaman. Yang ia khawatirkan justru reaksi di dalam negeri, bagaimana kata itu harus diganti, bagaimana masyarakat Saudi akan memandang kerajaan jika Tel Aviv tiba-tiba muncul sebagai mitra perang. Tanpa restu MBS, Israel nyaris mustahil mendapat akses ke konflik tersebut.

Riyadh sendiri hingga kini belum memberikan tanggapan resmi atas laporan ini. Postur diplomatik Saudi tidak berubah: normalisasi dengan Israel baru bisa dibicarakan serius kalau ada kemajuan konkret terhadap penyelesaian masalah Palestina, termasuk pembentukan negara Palestina yang merdeka. Tawaran Netanyahu bahwa kerja sama militer bisa "memperkuat hubungan bilateral" terasa seperti memaksakan tempo di hadapan tembok yang sama.

Yaman sendiri sedang jauh dari tenang. Gencatan senjata 2022 yang sempat meredam konflik selama beberapa tahun kini praktis tidak berlaku. Pemerintah Yaman yang didukung komunitas internasional kembali melancarkan operasi militer untuk merebut wilayah yang dikuasai Houthi, dan Saudi memberikan dukungan lewat serangan udara. Houthi membalas dengan menyasar wilayah Saudi, mulai dari fasilitas minyak, kapal tanker, sampai bandara sipil.

18 orang tewas. Serangan Houthi paling mematikan akhir pekan lalu menghantam sebuah bandara di Riyadh. Netanyahu menyebut serangan itu "serangan teroris yang mengerikan" dan menyampaikan belasungkawa Israel kepada keluarga korban, langkah yang secara simbolis menegaskan posisi Israel sebagai pihak yang ingin dianggap relevan oleh Riyadh. Senin (12/10), rudal Houthi masih berdatangan ke wilayah Saudi, termasuk satu yang menargetkan ibu kota, sebelum berhasil dicegat koalisi pimpinan Saudi.

Pertanyaannya sekarang: sampai kapan Saudi mampu menopang beban perang ini sendirian, dan apakah penolakan terhadap Israel ini akan bertahan jika tekanan Houthi terus meningkat? Untuk saat ini, MBS jelas memilih konsekuensi geopolitik yang lebih terukur ketimbang mempertaruhkan legitimasinya di hadapan rakyatnya sendiri.