MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  MBG Diguncang Kritik, Hashim Pastikan Program Tak...

Ekonomi

MBG Diguncang Kritik, Hashim Pastikan Program Tak Akan Berhenti

Di tengah gelombang protes mahasiswa soal pembengkakan anggaran, pemerintah justru mengencangkan komitmen melanjutkan program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.

Pilar Goyah Prabowonomics

Gelombang protes mahasiswa terhadap program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih belum mereda, tapi pemerintah justru memilih ngegas. Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, tampil berapi-api di hadapan peserta pelantikan dan pengukuhan DPP, DPD, dan DPC Srikandi Jaga Desa di Djakarta Theater, Jakarta, Jumat (3/7/2026).

Pesannya tegas: MBG tidak akan dihentikan. "Saya kira sudah bukan rahasia lagi bahwa pemerintah sudah bertekad untuk melanjutkan program MBG, tidak akan berhenti sampai nanti kita berhasil," kata Hashim. Kalimat yang, jujur saja, lebih terdengar sebagai penutup debat ketimbang pengantar diskusi.

Program ini, kata Hashim, bukan kebijakan improvisasi. MBG diklaim sudah dirancang Prabowo sejak sekitar 2006, lalu muncul konsisten sebagai janji kampanye mulai dari pilpres 2009 saat Prabowo masih berstatus cawapres, berlanjut di 2014, 2019, hingga akhirnya dieksekusi setelah kemenangan 2024. Konsistensi dua dekade yang Hashim baca sebagai cermin kepedulian jangka panjang terhadap stunting dan gizi buruk kronis. Pekerjaan rumah yang belum juga tuntas.

Di balik retorika yang menggebu itu, ada pengakuan yang cukup telanjang. Hashim tak menampik adanya indikasi penyimpangan di lapangan. "Saya sudah dengar dan saya sudah banyak dapat laporan, sudah ada indikasi penyimpangan, Pak Wamen. Maka saya titip ya Pak Wamen, pengawasan harus sangat ketat," ungkapnya, sekaligus meminta Wakil Menteri terkait memperketat pengawasan. Ia bahkan meluncurkan diksi "setan-setan dan hamba iblis" untuk menggambarkan pihak yang dituding merusak citra program. Dramatis? Bisa jadi. Tapi sinyal bahwa pelaksanaan di akar rumput tidak semulus narasi resmi.

Anggaran jumbo selalu mengundang risiko kebocoran. Bukan teori, itu pengalaman. Hashim meminta kementerian, lembaga, hingga organisasi kemasyarakatan seperti Abpednas ikut mengawal distribusi sampai ke tingkat desa. Pengawasan berlapis, katanya, kunci agar manfaat benar-benar sampai ke kelompok rentan, bukan tersedot sebelum tiba.

Dukungan dari daerah memang ada. Ketua DPD Asosiasi Kepala Desa Seluruh Indonesia (Aksi) Provinsi NTB, Saurim, menyatakan kepala desa di wilayahnya mendukung penuh kelangsungan MBG. Program ini, menurut Saurim, memberi kontribusi nyata pada tiga hal: peningkatan kualitas SDM, percepatan pertumbuhan ekonomi perdesaan, dan pemerataan kesejahteraan. "Di samping itu, program ini tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah semata, juga memberikan dampak kepada penurunan angka anak kurang gizi, mencegah stunting, serta terpenuhinya nutrisi yang seimbang bagi ibu hamil," ujar Saurim.

Pertanyaannya bukan soal tujuan. Soal niat, hampir semua pihak sepakat: mulia. Yang dipersoalkan mahasiswa dan sejumlah kalangan adalah efisiensi anggaran dan mekanisme distribusi yang dinilai belum solid, sementara tekanan fiskal pada APBN terus menumpuk. Berapa besar nilai yang benar-benar sampai ke piring anak-anak itu? Pertanyaan yang, agaknya, belum ada jawaban resminya.