KAMIS, 1 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Masinis Didakwa Setelah Kereta Barang Hantam Bus d...

Internasional

Masinis Didakwa Setelah Kereta Barang Hantam Bus di Bangkok, 8 Tewas dan 32 Luka

Kereta barang menghantam bus umum di perlintasan rel pusat Bangkok pada Sabtu lalu, menewaskan delapan orang dan melukai 32 lainnya. Masinis kini berstatus tersangka atas dugaan kelalaian.

Masinis Jadi Tersangka dalam Insiden Kereta Barang Tabrak Bus di Bangkok

Delapan orang tewas, 32 lainnya luka-luka. Itulah bilangan yang tersisa dari tabrakan antara kereta barang pengangkut kontainer dan bus umum di perlintasan rel kawasan Makkasan, pusat Bangkok, Thailand, Sabtu 16 Mei 2026.

Bus dilaporkan berhenti di atas rel dekat stasiun kereta bandara saat lampu merah menyala, tepat ketika kereta melaju di jalur yang sama. Benturan keras tak terelakkan. Bus terbakar, api merembet ke sejumlah kendaraan di sekitarnya. Seorang saksi mata, Kittipong Raksa, mengaku mendengar benturan keras sebelum melihat kereta menyeret badan bus. Setelah asap mereda, ia menemukan seorang korban terjebak di bawah mobilnya sendiri, kaki patah.

Kepala Kepolisian Makkasan, Urumporn Koondejsumrit, menetapkan masinis sebagai tersangka dengan pasal kelalaian yang menyebabkan kematian. "Bukti menunjukkan adanya tindakan ceroboh yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa," ujarnya. Sopir bus pun akan ikut diperiksa begitu kondisinya membaik, dan penyidik masih mendalami kemungkinan dakwaan tambahan.

Wakil Menteri Transportasi Thailand Siripong Angkasakulkiat memberi penjelasan teknis: palang perlintasan tidak dapat menutup sempurna karena posisi bus masih berada di atas rel. Kereta pengangkut kontainer itu, ia tambahkan, juga tidak sempat berhenti untuk menghindari tabrakan. Dua faktor, satu bencana.

Nasib delapan korban jiwa kini di tangan tim forensik. Luka bakar yang mereka derita begitu parah sehingga identifikasi visual tak memungkinkan. Tes DNA keluarga jadi satu-satunya jalan, dengan target tuntas Selasa. Otoritas Transportasi Massal Bangkok memastikan kompensasi akan diberikan kepada keluarga korban meninggal maupun yang selamat.

Insiden ini bukan yang pertama, dan belum tentu yang terakhir. WHO mencatat Thailand masih termasuk negara dengan angka kecelakaan lalu lintas tertinggi di dunia, sebagian besar akibat lemahnya penegakan standar keselamatan. Perlintasan sebidang di Bangkok sudah lama jadi titik rawan. Pertanyaannya, berapa nyawa lagi yang harus jadi harga dari infrastruktur yang tak kunjung dibenahi?