MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Manusia Hobbit Flores Bukan Pemburu Gajah, Hanya M...

Internasional

Manusia Hobbit Flores Bukan Pemburu Gajah, Hanya Makan Sisa Komodo

Riset terbaru di jurnal Science Advances meruntuhkan gambaran lama manusia Hobbit sebagai pemburu gajah purba yang cerdas. Bukti forensik tulang menunjukkan Komodo yang makan lebih dulu, sementara Homo floresiensis hanya memungut sisanya.

Manusia Hobbit Flores Ternyata Bukan Pemburu Gajah, tapi Makan Sisa Komodo

Selama dua dekade, gambaran manusia hobbit sebagai pemburu gajah kerdil yang cerdas dan terorganisasi begitu menggoda untuk dipercaya. Ternyata, gambarannya jauh lebih sederhana dari itu, dan agaknya juga jauh lebih suram.

Studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances menunjukkan bahwa Homo floresiensis, spesies manusia purba setinggi satu meter yang hidup di Pulau Flores, kemungkinan besar bukan pemburu. Mereka pemulung. Dan bukan sembarang pemulung: mereka memungut sisa-sisa yang ditinggalkan Komodo.

Teori berburu ini bermula dari penemuan fosil di Gua Liang Bua tahun 2003. Tulang-tulang Stegodon florensis insularis, gajah kerdil purba seukuran sapi, ditemukan berdampingan dengan peralatan batu milik hobbit di lapisan tanah yang sama. Kesimpulannya saat itu terasa masuk akal: hobbit memburu Stegodon, memasak dagingnya di atas api, dan mengunyah hasilnya dengan kepuasan. Narasi yang indah. Terlalu indah, rupanya.

Elizabeth Grace Veatch, paleoantropolog dari Universitas Tübingen, melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan peneliti sebelumnya: memberi bangkai kambing kepada Komodo hidup, lalu mendokumentasikan bekas gigitan yang tertinggal pada tulang. Hasilnya dibandingkan dengan 3.155 fragmen tulang Stegodon dari Liang Bua. Polanya gamblang: bekas gigi Komodo berkerumun di area paling berdaging seperti bahu dan pinggul, sementara bekas sayatan alat batu hobbit hanya tersisa di bagian kurang bergizi seperti kaki dan tulang rusuk. Komodo tiba lebih dulu, makan bagian terbaik, lalu pergi. Hobbit datang belakangan.

"Saat ini kita sangat sedikit mengetahui tentang diet H. floresiensis, tapi mereka kemungkinan adalah omnivora yang mengandalkan kombinasi sumber hewani, buah-buahan, tumbuhan, dan mungkin serangga," kata Veatch kepada IFLScience.

Bukti penggunaan api ikut runtuh. Dari ribuan fragmen tulang Stegodon yang tergali, hanya satu yang tampak terbakar. Setelah peninjauan ulang terhadap lapisan stratigrafi gua yang mencakup periode 774.100 hingga 60.000 tahun lalu, seluruh jejak penggunaan api ternyata berasal dari lapisan yang jauh lebih muda, yakni ketika Homo sapiens mulai menghuni gua itu, setelah hobbit dan Stegodon sudah punah lebih dulu.

Ada ironi yang tidak kecil di sini. Nama "hobbit" melekat bukan hanya karena perawakannya yang mungil, tapi karena bertepatan dengan rilisnya trilogi Lord of the Rings yang menampilkan makhluk kecil dengan keberanian dan kecerdasan luar biasa. Entah kebetulan atau tidak, ekspektasi dari pop culture itu agaknya ikut mewarnai cara para peneliti awal menginterpretasikan bukti yang ada.

Lantas apa yang sebenarnya diburu hobbit? Tikus raksasa Papagomys armandvillei yang hidup berdampingan dengan mereka jauh lebih realistis sebagai target. Berburu Stegodon membutuhkan teknologi dan koordinasi yang tidak ada jejaknya dalam catatan arkeologi hobbit. Bahkan manusia modern dengan otak jauh lebih besar pun jarang memilih berburu gajah kalau ada pilihan yang lebih mudah.

Temuan ini, kalau data ini bisa dipercaya sepenuhnya, juga menyentuh perdebatan yang lebih dalam soal asal-usul spesies ini. Thomas Sutikna dari University of Wollongong, Australia, salah satu peneliti yang sudah lama menggali Liang Bua, mengingatkan bahwa studi ini turut mempersoalkan teori bahwa H. floresiensis berevolusi dari H. erectus. Bisa jadi spesies ini bercabang jauh lebih awal dari garis keturunan manusia modern. "Seiring penggalian kami terus berlanjut dan berkembang, kami telah mengetahui bahwa banyak interpretasi awal kami tentang H. floresiensis ternyata tidak benar. Studi ini membantu memperjelas aspek-aspek kunci tentang perilaku H. floresiensis yang penting untuk memahami bagaimana spesies ini hidup di Flores selama generasi yang tak terhitung," kata Sutikna.

Pertanyaannya, berapa lama paradigma lama itu akan benar-benar ditinggalkan?

Yang justru memukau adalah ini: tanpa api, tanpa kemampuan berburu besar, tanpa otak yang sebanding dengan Homo sapiens atau Neanderthal, hobbit bertahan hidup di pulau terisolasi hampir satu juta tahun, berhadapan setiap hari dengan predator paling berbahaya di ekosistemnya. Bukan sebagai raja rantai makanan. Sebagai pemain adaptif yang tahu persis kapan harus menunggu Komodo selesai makan. Itu, ironisnya, mungkin lebih cerdas dari yang kita bayangkan.