IPK 4,00. Bukan angka yang mudah dicapai siapa pun.
Mariam Ahmad Hamza Serour Elbanna, perempuan asal Mesir yang baru saja menuntaskan studi magisternya di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), keluar dari prosesi wisuda Periode III Tahun Akademik 2025/2026 bukan sekadar sebagai lulusan, melainkan sebagai lulusan terbaik Program Magister Hukum Ekonomi Syariah.
Capaian itu tidak turun dari langit.
Di balik toga dan senyum syukurnya tersimpan kerja keras yang menguras tenaga. Mariam berhasil mempublikasikan artikel ilmiah terindeks Scopus Q3 sebagai syarat kelulusan, tapi portofolio ilmiahnya ternyata jauh lebih tebal: dua publikasi di Scopus Q1, dua di Scopus Q3, ditambah sejumlah artikel di jurnal terindeks Sinta.
Topik yang ia geluti pun bukan yang ringan-ringan. Risetnya membenturkan Basel Accord, kerangka regulasi perbankan internasional yang dirancang untuk bank konvensional, dengan realitas operasional perbankan syariah yang punya dimensi tersendiri: sukuk, larangan riba, dan prinsip muamalah.
"Karena rule itu khas untuk bank yang bukan Islam, tetapi hari ini dicoba di bank syariah. Lalu saya perbandingkan penerapannya karena di bank syariah ada sukuk, riba, muamalat. Kalau rule tadi tidak untuk fokus ke itu, bagaimana kalau kita harus fokus pada Islam lebih dari rule itu," jelasnya.
Pertanyaan yang sederhana tapi menggigit. Pertanyaan semacam itulah yang agaknya menjadi benang merah riset-riset berkualitas di bidang keuangan syariah, dan Mariam menjawabnya lewat jalur akademik yang terukur.
Proses menembus jurnal bereputasi internasional tidak ia pahami sejak awal. Mariam mengakui sempat buta soal mekanismenya. Bimbingan dari Dr. Muthoifin, S.H.I., M.Ag. menjadi kunci yang membuka pintu itu satu per satu.
Di luar laboratorium riset, ada cerita lain yang tak kalah hangat. Dukungan dari teman-teman, dosen, dan tim Direktorat Reputasi, Kemitraan, dan Urusan Internasional UMS ia sebut sebagai fondasi yang menopang perjalanannya di tanah asing.
"International office sangat membantu Mariam banyak sekali. I can't forget this, jazakumullah khairan katsiran," ungkapnya.
Malam sebelum wisuda pun ia mengaku tidak bisa tidur. Entah karena deg-degan, haru, atau keduanya.
Perjalanan Mariam di UMS rupanya belum selesai. Ia berniat melanjutkan studi doktoral di kampus yang sama, kali ini dengan harapan bisa mengantongi beasiswa.
Pada wisuda kali ini, UMS meluluskan total 2.519 mahasiswa. Dari jumlah itu, 1.329 wisudawan meraih predikat cumlaude, dan 1.465 orang tercatat telah menghasilkan publikasi ilmiah di jurnal bereputasi. Rata-rata masa studi jenjang S2 terbilang singkat: 1 tahun 8 bulan.
Angka yang bagi sebagian orang mungkin terasa mustahil. Bagi Mariam, sudah terbukti.