Tepat 135 tahun setelah Paus Leo XIII menurunkan Gereja Katolik dari sakristi ke lantai pabrik demi membela buruh yang tergilas Revolusi Industri, penerusnya di abad ke-21 mengulang momen profetis itu dengan konteks yang jauh lebih rumit.
Paus Leo XIV menandatangani ensiklik pertamanya, "Magnifica Humanitas" atau Keagungan Kemanusiaan, pada 15 Mei 2026. Dokumen ini dijadwalkan diluncurkan secara resmi di Vatikan pada 25 Mei mendatang, dalam sebuah acara publik yang memutus tradisi kepausan selama berabad-abad. Hampir 1,5 miliar umat Katolik di seluruh dunia akan membaca arahan moral ini. Bukan angka kecil yang dipertaruhkan.
Satu pertanyaan besar agaknya terus menghantui Leo XIV sejak hari pertama menjabat: apakah kemajuan kecerdasan buatan sedang melayani manusia, atau justru menggusurnya? Ensiklik ini menyoroti perlindungan martabat manusia di era AI, hak pekerja yang terancam otomatisasi, risiko AI dalam sistem persenjataan otonom, hingga ironi ekologis di balik "komputasi awan" yang diam-diam rakus energi dan air.
Pilihan momen penandatanganan bukan kebetulan. Leo XIV secara eksplisit menarik garis paralel antara "Rerum Novarum" milik Leo XIII yang menjadi fondasi ajaran sosial Katolik modern, dengan "Magnifica Humanitas" sebagai respons terhadap revolusi AI yang menurutnya memunculkan pertanyaan eksistensial serupa. Dalam pidato di Universitas La Sapienza Roma pekan lalu, ia menegaskan: "Apa yang terjadi di Ukraina, Gaza, Palestina, Lebanon, dan Iran menggambarkan evolusi yang tidak manusiawi dari hubungan antara perang dan teknologi baru dalam spiral kehancuran."
Yang membuat peluncuran ini berbeda bukan hanya isinya. Christopher Olah, salah satu pendiri Anthropic, dijadwalkan menjadi salah satu pembicara di acara tersebut, berdampingan dengan teolog Anna Rowlands dan Léocadie Lushombo. Dua kardinal senior Vatikan, Kepala Doktrin Kardinal Víctor Manuel Fernández dan Kepala Pengembangan Kardinal Michael Czerny, akan tampil sebagai pembicara utama, sementara Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin menyampaikan kesimpulan. Paus Leo XIV sendiri dijadwalkan memberikan pidato penutup dan berkat terakhir. Nyaris tidak pernah terjadi dalam tradisi presentasi ensiklik sebelumnya.
Andrea Vreede, koresponden Vatikan untuk jaringan radio dan TV publik Belanda NOS, menyebut ini langkah komunikasi yang sangat kalkulatif. "Jika para kardinal yang melakukannya, tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Tetapi jika Paus ada di sana, semua kamera akan ada di sana, dan kita semua akan mendengarkan," katanya kepada The Guardian. Strategi yang, bisa jadi, memang disengaja.
Kehadiran Olah dari Anthropic menyimpan lapisan makna tersendiri. Penelitinya yang mendalami mekanisme jaringan saraf di balik AI itu kini berasal dari perusahaan yang sedang berseteru terbuka dengan pemerintahan Trump, setelah Anthropic menolak melepas batasan etis pada model AI-nya, Claude, untuk keperluan militer. Washington merespons dengan melarang semua lembaga federal menggunakan produk Anthropic, dan Anthropic membalas dengan gugatan hukum. Valuasi perusahaan ini per awal 2026 sudah menyentuh 380 miliar dolar AS, bersaing ketat dengan OpenAI dan SpaceX.
Perlombaan itu punya latar yang lebih lebar. Kunjungan Trump ke China belum lama ini turut membawa Elon Musk dengan Grok-nya dan Jensen Huang dari Nvidia yang baru mengantongi izin ekspor chip H200 ke pasar China. AS dan China berlomba menjadikan AI sebagai senjata geopolitik sekaligus mesin ekonomi. Vatikan memilih berdiri di jalur berbeda, sebagai apa yang disebut sejumlah pengamat sebagai "the adult in the room".
Masif? Boleh jadi. Meghan Sullivan, profesor filsafat di Universitas Notre Dame, menilai peran ini bukan sekadar retorika. "Paus akan menjadi salah satu pendukung paling kuat untuk martabat manusia dalam diskusi ini," ujarnya, setidaknya itu klaimnya. Bobot sesungguhnya baru akan terbukti dari implementasi konkret ensiklik tersebut.
Di internal gereja pun, Leo XIV sudah menarik garis tegas. Ia memperingatkan para imam agar tidak menggunakan AI untuk menulis khotbah, sebuah kebijakan yang bagi sebagian orang terdengar minor, tapi secara teologis sangat tajam. Khotbah, dalam tradisi Kristiani, adalah buah dari kontemplasi dan pergumulan batin antara gembala dan jemaatnya. Ketika algoritma mengambil alih mimbar, yang hilang bukan hanya kalimat, tapi juga jiwanya.
Leo XIV juga membentuk kelompok studi internal tentang AI di Vatikan, sebuah respons struktural yang menunjukkan bahwa ini bukan pernyataan moral seremonial belaka. Jauh sebelumnya, pada 2020, Vatikan sudah mengajak Microsoft, IBM, dan Cisco menandatangani Seruan Roma untuk Etika AI. PBB mengadopsi arsitektur tata kelola AI baru pada 2025.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Gereja Katolik relevan dalam perdebatan ini. Seberapa jauh suara profetis dari tembok Vatikan itu akan benar-benar didengar oleh Silicon Valley dan Beijing? Entah kebetulan atau tidak, jawabannya mungkin sudah mulai terbaca dari siapa yang memilih hadir pada 25 Mei mendatang.