SENIN, 5 OKTOBER 2026

Home  ›  Finansial  ›  LPS Bawa Literasi Keuangan ke Jogja, 14.900 Orang...

Finansial

LPS Bawa Literasi Keuangan ke Jogja, 14.900 Orang Sudah Daftar

Lembaga Penjamin Simpanan menggelar Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center pada 22-23 Mei, dengan format yang sengaja dijauhi dari kesan seminar formal demi menjangkau Gen Z.

LPS gelar "Jogja Financial Festival" untuk generasi muda

Angka 20 juta itu yang terus diulang-ulang Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS Farid Azhar Nasution: segitu perkiraan jumlah masyarakat usia produktif Indonesia yang belum punya literasi keuangan memadai. Dari angka itulah Jogja Financial Festival 2026 lahir, atau setidaknya itulah justifikasi resminya.

Festival dua hari ini digelar 22-23 Mei 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, bukan tanpa perhitungan. Yogyakarta dipilih bukan sekadar soal lokasi, tapi karena populasi Gen Z-nya yang besar sebagai kota pelajar dan mahasiswa. Format serupa sebelumnya sudah diuji di Medan dan Surabaya.

Kemasnnya berbeda kali ini. Tidak ada kesan seminar formal atau workshop keuangan yang bikin ngantuk. Acaranya berisi talkshow, kelas edukasi interaktif, pameran industri keuangan yang mencakup perbankan, asuransi, fintech, hingga aset digital dan kripto, ditambah sesi stand-up comedy. Hiburannya tidak main-main: Ari Lasso, Happy Asmara, Juicy Luicy, Nisa Sabyan, Denny Caknan, sampai Ndarboy Genk dijadwalkan tampil.

Soal antusiasme? Hingga Kamis siang sebelum hari H, pendaftar festival sudah menyentuh 14.900 peserta. Tidak bisa diabaikan begitu saja untuk acara bertemakan literasi keuangan.

"Kami ingin menghadirkan pendidikan keuangan yang inovatif dan tidak membosankan. Jadi bukan hanya seminar formal, tetapi juga ada ruang diskusi yang lebih dekat dengan generasi muda," kata Plt Direktur Eksekutif Kesekretariatan dan Hubungan Lembaga LPS, K.M. Nuruddin.

Farid punya kekhawatiran yang lebih spesifik. Sekitar 60 persen pengguna pinjaman online berasal dari kalangan anak muda, dan sebagian besar digunakan untuk kebutuhan konsumtif dan gaya hidup, bukan produktif. Paylater dipakai tanpa benar-benar paham konsekuensinya, dan ujung-ujungnya yang seharusnya jadi kemudahan justru menjadi beban. "Sekarang orang sangat mudah mengakses layanan keuangan lewat handphone, tetapi literasinya belum tentu cukup. Banyak anak muda terjerat pinjaman online dan paylater tanpa memahami risikonya," katanya. Paradoks keuangan digital, kalau data ini bisa dipercaya, agaknya sudah terlanjur akut.

Regulator kelas berat dijadwalkan hadir: Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, hingga pimpinan bank-bank Himbara dan sejumlah akademisi. Konsultasi keuangan dan booth edukasi literasi digital finansial juga tersedia bagi pengunjung yang ingin lebih dari sekadar nonton konser.

Rangkaian acara berlanjut ke Minggu, 24 Mei, lewat Jogja Run D-City di kawasan Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM. Dua kategori lari tersedia, 5 km dan 10 km, dengan rute yang membelah jantung kampus legendaris itu. Seluruh hasil penjualan tiket dialokasikan untuk beasiswa pelajar dan mahasiswa di Yogyakarta. Peserta yang mendaftar hingga Kamis tercatat sekitar 4.900 orang.

Apakah satu festival cukup untuk memindahkan jarum literasi keuangan 20 juta orang? Mungkin tidak. Tapi sebagai pintu masuk, gelarannya terasa dirancang cukup serius.