MINGGU, 11 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Long March-10B: China Resmi Jadi Negara Kedua yang...

Internasional

Long March-10B: China Resmi Jadi Negara Kedua yang Bisa Pulihkan Booster Roket Orbital

China menjadi negara kedua setelah AS yang berhasil mendarat dan memulihkan booster roket orbital secara terkendali. Long March-10B mendarat di atas kapal lepas pantai menggunakan sistem jaring pertama di dunia.

Susul SpaceX, China Berhasil Daratkan Roket untuk Dipakai Lagi

Tepat enam menit setelah Long March-10B lepas landas dari Hainan pada Jumat (10/7), booster roket itu sudah kembali ke Bumi dan berdiri tegak di atas platform laut. Bukan drama panjang, bukan anomali teknis. China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC) melakukannya pada percobaan perdana.

Tonggak yang tidak bisa diremehkan. Dengan keberhasilan ini, China resmi menjadi negara kedua yang mampu memulihkan tahap pertama roket orbital secara terkendali, menyusul SpaceX yang pertama kali melakukannya pada 2015. Blue Origin sempat mencatat pendaratan perdana New Glenn pada November 2025, tapi roket itu meledak di landasan pada Mei 2026. Jadi praktisnya, kini hanya SpaceX dan CASC yang benar-benar bisa melakukan ini.

Yang menarik dicermati bukan cuma pencapaiannya, tapi metode pemulihan yang mereka pilih. Long March-10B tidak mendarat dengan kaki pelipat seperti Falcon 9, bukan juga ditangkap lengan mekanik seperti pendekatan SpaceX dengan Mechazilla untuk Super Heavy. China memilih sistem jaring raksasa yang dipasang di atas kapal platform lepas pantai berukuran 144 x 50 meter dengan bobot benaman penuh 25.000 ton. Saat booster turun, sensor LiDAR di tiap sudut platform melacak posisi dan orientasinya secara real time, lalu jaring bertegangan tinggi berbentuk silang menangkap roket yang masuk, sementara kabel khusus menyerap energi kinetik dan potensialnya. Seluruh proses berlangsung otomatis, tanpa awak.

"Sistem penangkapan berbasis jaring menyederhanakan struktur pada tahap pertama, mengurangi bobot, dan meningkatkan kapasitas muatan. Sistem ini juga menunjukkan adaptabilitas yang tinggi terhadap penyimpangan saat pendaratan, sehingga secara efektif memperluas area penangkapan melalui pengoperasian jaring yang terkoordinasi," kata Chen Muye dari CASC. Klaim yang masih perlu dibuktikan dalam jangka panjang, tapi untuk tahap awal, angka-angkanya memang menjanjikan.

Satu detail teknis yang luput dari banyak laporan: Long March-10B juga menjadi roket China pertama yang menggunakan propelan oksigen-metana cair. Sinopec, yang mengembangkan bahan bakar ini, mengonfirmasi kemurnian metana yang dipakai mencapai 98,7%, dengan seluruh rantai pasokan dijamin dari dalam negeri. Kombinasi bahan bakar methalox dan desain reusable inilah yang membuat Long March-10B menarik secara teknis, bukan sekadar untuk satu peluncuran demonstrasi.

Spesifikasinya memang belum menyentuh level Falcon 9, apalagi Starship. Tinggi sekitar 63 meter, diameter 5 meter, kapasitas angkut ke orbit rendah Bumi sebesar 16 ton dalam konfigurasi reusable. Falcon 9 sanggup membawa 25 ton ke LEO. Starship? Dirancang mengangkut lebih dari 100 ton. Musk sendiri pernah mengakui China mulai mendekati Falcon 9, tapi Starship menurutnya masih "di level yang berbeda."

Gap kapasitas itu nyata. Tapi bukan itu yang bikin pelaku industri global perlu waspada. Selisih jumlah peluncuran ke orbit antara kedua negara masih menganga lebar: 193 berbanding 92 pada 2024. Pertanyaannya, berapa lama jarak itu bertahan? Kemampuan reusability yang baru dikuasai China bisa mulai mengubah kalkulasi biaya dan ritme peluncuran dalam beberapa tahun ke depan, kalau data awal ini bisa dipercaya.

CACS sudah menyatakan booster Long March-10B akan digunakan lagi sebelum akhir tahun ini. Long March-10C, varian berkapasitas lebih besar, masih dalam pengembangan intensif. Long Lehao dari Chinese Academy of Engineering menyebut seri Long March 10A, 10B, dan 10C akan menjadi tulang punggung sistem transportasi antariksa China, mencakup konstelasi satelit LEO skala besar hingga misi berawak generasi berikutnya.

Bagi investor yang memantau sektor antariksa komersial global, ini sinyal yang sulit diabaikan. Biaya peluncuran yang lebih rendah dari pemain baru artinya tekanan margin bagi operator lama. Persaingan harga di pasar peluncuran komersial, agaknya, akan semakin sengit.