MINGGU, 4 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  LineShine: Superkomputer China yang Bikin Washingt...

Tekno

LineShine: Superkomputer China yang Bikin Washington Mikir Ulang

China meluncurkan superkomputer exascale LineShine yang dibangun tanpa satu pun GPU Barat, mengandalkan 2,4 juta core CPU buatan dalam negeri dengan performa yang diklaim melampaui superkomputer tercepat Amerika Serikat.

China Luncurkan Superkomputer LineShine Tanpa Komponen Barat

Selama bertahun-tahun Washington bertaruh bahwa embargo chip adalah senjata pamungkas untuk meredam ambisi teknologi Beijing. LineShine datang sebagai jawaban. Dan jawaban itu cukup keras.

National Supercomputing Center (NSCC) Shenzhen pekan ini memamerkan superkomputer berskala exascale yang dibangun sepenuhnya dari komponen domestik, tanpa satu pun GPU Nvidia, AMD, atau akselerator AI buatan Barat. Mesin bernama LineShine, atau kerap disebut Lingsheng, ini mencatat performa komputasi stabil di angka 1,54 ExaFLOPS untuk pelatihan AI berbasis BF16. Pada skenario tertentu, khususnya model AI observasi bumi, kinerja puncaknya diklaim melesat hingga 2,16 ExaFLOPS.

Sebagai pembanding, El Capitan milik Amerika Serikat yang saat ini bertahta sebagai superkomputer tercepat di dunia memiliki kemampuan 1,8 ExaFLOPS. Kalau klaim performa berkelanjutan di atas 2 ExaFLOPS ini terbukti konsisten di lapangan, secara teoritis LineShine sudah menggeser posisi El Capitan. Angka yang, jujur saja, tidak bisa begitu saja diabaikan.

Rahasia di balik performa itu bukan satu dua chip canggih. Ini brute force dalam skala yang hampir tidak masuk akal. LineShine dibangun dari 20.480 node komputasi, masing-masing menjalankan dua prosesor LX2, sehingga total unit yang bekerja mencapai 40.960. Tiap LX2 mengemas 304 core berbasis arsitektur Armv9. Jumlahkan semuanya: sekitar 2.451.840 core CPU beroperasi serentak. Masif, titik.

Prosesor LX2 sendiri diduga kuat dirancang Huawei, meski hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak perusahaan. Arsitekturnya terbilang tidak lazim. Tiap chip memadukan memori High Bandwidth Memory (HBM) bawaan 32 GB dengan bandwidth 4 TB/s, ditambah dukungan DDR5 eksternal hingga 256 GB. Seluruh node dihubungkan lewat jaringan berkecepatan tinggi bernama LingQi (LQLink), bandwidth-nya 1,6 Tb/s per node, sebuah desain yang sengaja dibuat untuk memangkas bottleneck di sisi komunikasi antar node.

Pendekatan CPU-only yang dipilih Beijing memang bukan tanpa alasan pragmatis. Lepas dari GPU berarti lepas dari ekosistem CUDA yang selama ini dikangkangi Nvidia. Kapasitas memori yang jumbo membuat sistem lebih luwes untuk dataset ilmiah skala raksasa. Dan karena seluruh proses komputasi berjalan di CPU, tidak ada overhead akibat transfer data antara dua komponen yang biasanya memakan bandwidth besar.

Tapi agaknya para insinyur di NSCC Shenzhen juga sadar betul dengan trade-off yang mereka pilih. Superkomputer berbasis CPU umumnya lebih rakus daya dan kurang efisien untuk komputasi AI padat dibanding klaster GPU modern. Karena itulah sebagian besar pusat data AI dunia masih mengandalkan arsitektur hybrid untuk menyeimbangkan performa dan efisiensi. LineShine, dengan segala klaim performanya, bisa jadi masih kena tampar ketika dihadapkan pada beban kerja AI yang paling intens.

Pertanyaannya bukan sekadar soal efisiensi. Yang lebih relevan: apakah asumsi Washington terbukti meleset? LineShine menunjukkan bahwa China mampu membangun infrastruktur High-Performance Computing kelas dunia dari silikon domestiknya sendiri, terlepas dari segala keterbatasan. Sistem ini rencananya akan dioperasikan untuk mendukung universitas dan lembaga riset di China, dengan fokus pada pelatihan model AI berskala besar, simulasi molekuler, dan pemodelan iklim.

Embargo chip itu mungkin memperlambat. Rupanya tidak menghentikan.